Saya seorang pembelajar
tipe auditori. Salah satu ciri-cirinya kadang sangat akif berbicara kadang
menjadi sangat pendiam. Salah satu sifat saya, entah berhubungan dengan tipe
auditori atau tidak, saya tidak mudah bercerita atau curhat kepada orang lain. Saya senang menyimpan isi
hati saya sendiri. Saya hanya sedikit sekali berbagi dengan orang lain.
Orang dengan sifat
seperti saya kadang merasa beban pikirannya terlalu berat sehingga berefek
buruk pada kesehatan. Saya sendiri sering sekali merasa sakit kepala begitu
hebat dan emosi yang tidak stabil akibat perasaan yang tidak tersalurkan. Oleh
karena itu saya harus menemukan jalan agar perasaan saya bisa mengalir. Salah
satu caranya adalah dengan menulis.
Pada suatu hari, ketika
saya masih smp, untuk pertama kalinya saya mencoba menulis. Waktu itu saya sama
sekali tidak memiliki satu pun pengetahuan tentang menulis. Saya hanya menulis
saja. Saya menceritakan kejadian apa saja yang saya alami di sekolah hari itu
pada buku tulis sekolah saya. Satu per satu kejadian yang saya alami dan
bagaimana perasaan saya terhadap kejadian itu.
Tulisan pertama saya adalah
tulisan tak sempurna namun berkesan selamanya. Hanya sebuah tulisan anak smp
yang tak memiliki alur yang jelas. Tetapi dari sana saya menemukan sebuah jalan
kecil yang begitu saya senangi.
Saya mulai rutin
menulis. Namun hanya sebatas diary saja. Saya kadang-kadang membeli sebuah buku
diary. Kadang juga saya hanya menulis pada selembar kertas lalu membuangnya.
Saya bahkan masih menyimpan buku diary saya ketika kelas tiga sma sampai
sekarang. Sesekali saya membacanya dan bernostalgia mengingat kejadian-kejadian
masa lalu yang tertulis di dalamnya.
Menulis menjadi jalan
untuk mengeluarkan isi hati saya yang tak bisa saya ucapkan dengan kata-kata.
Saya mungkin akan sulit merangkai kata dengan lisan agar maksud saya sampai
kepada lawan bicara namun saya akan bisa melakukannya lewat tulisan. Saya bisa menjadi
cerewet dalam diam ketika menulis.
Bagi saya menulis
bukanlah kegiatan yang sederhana. Lebih
dari itu menulis adalah mengukir cerita abadi melalui pena dan tinta. Menulis
menjadi wasilah untuk berbicara tanpa suara dan berteriak tanpa keributan.
Ketika air mata tak bisa saya tunjukkan di depan orang banyak maka saya
mengeluarkannya lewat tulisan. Ketika penat tak lagi tertahankan maka saya
menghibur diri dengan menulis.
Saya bebas ketika
menulis. Saya mengukir kenangan ketika menulis. Saya merefresh diri ketika
menulis. Saya mengobati diri ketika menulis. Saya berkarya ketika menulis.
Lebih dari semua itu, saya akan terus menulis karena saya bahagia ketika
menulis.











