The Beautiful Alula, Kenapa Kamu Sendiri?
Kampus Antaraski akan mengadakan penyambutan untuk mahasiswa dan mahasiswi baru yang berhasil lulus di tahap seleksi ketat yang telah berlangsung. Antaraski memang menerapkan standar penerimaan yang jauh berbeda dari kampus-kampus lainnya. Meski begitu, Antaraski telah terbukti berhasil mencetak kader-kader unggul yang mampu bersaing dengan kader dari kampus yang mahal.
Star Adiaksa sangat bangga menjadi salah satu mahasiswa kampus ini. Ini adalah tahun terakhirnya berada di kampus. Berkat kerja keras dan prestasinya, ia diberi amanah sebagai presiden mahasiswa. Bukan sebuah tugas mudah namun ia sangat menyukainya.
Pagi ini sebelum acara penyambutan dimulai, ia sudah sibuk berkeliling untuk memeriksa setiap detail acara. Dialah yang bertanggung jawab penuh atas kegiatan ini. Ia ingin memastikan semua berjalan lancar tanpa sedikit pun kesalahan.
Waktu berjalan. Matahari mulai menyapa dengan kehangatannya. Satu per satu wajah baru kampus ini mulai berdatangan. Tak lama kemudian, aula auditorium sudah dipenuhi warna merah. Warna kebanggaan almamater Antaraski.
Dari jauh, Star menatap bangga kepada adik-adik juniornya. Dia seakan melihat dirinya ada di barisan mahasiwa baru itu beberapa tahun lalu. Tanpa sadar, matanya mulai terasa basah.
Star mengingat betapa perjuangannya untuk bisa masuk di kampus ini. Dia bahkan tak pernah menyangka akan bisa kuliah. Dulu ibunya bersikeras agar Star langsung kerja setelah lulus SMA. Namun Star bercita-cita ingin menjadi seorang guru. Dia takkan bisa meraihnya kecuali jika ia kuliah.
Lamunan Star tiba-tiba buyar ketika pandangannya tertuju kepada beberapa mahasiwi baru yang datang sangat terlambat. Seperti terjadi keributan disana. Dengan cepat dia menghampiri mereka.
"Ada apa fan?" Tanya Star kepada Irfan. Mahasiswa yang bertugas sebagai keamanan.
"Oh Star. Lihatlah anak-anak nakal ini. Mereka memaksa masuk padahal mereka sangat terlambat," terang Irfan.
Star lalu memperhatikan mahasiswi-mahasiswi itu. Terlihat mereka juga saling bisik-bisik. Mereka sedang membicarakan ketampanan Star padahal mereka sudah terancam tak bisa mengikuti kegiatan penyambutan. Sementara itu, Star justru memperhatikan mahasiswi yang paling belakang. Dia dari tadi tak berucap apapun. Hanya diam dan sedikit tertunduk.
Star sedikit terpesona dengan wajah cantiknya. Kulit sawo matang dan mata lebar yang berkesan. Ditambah cantiknya bulu mata yang panjang dan lentik. Ia semakin manis dengan hijab hitam polos yang dipakainya. Star lalu berjalan menghampiri mahasiswi tanpa ia sadari.
"Siapa nama kamu?" Tanya Star sedikit mengagetkannya.
"E-e. sa-ya Alula kak," jawab Alula terbata-bata. Bagi Alula, ditanya seperti ini oleh orang yang tak dikenal bagaikan sedang diinterogasi di kantor polisi. Ia sangat grogi. Ia sadar hal itu sangat menganggu kehidupan sosialnya. Namun ia bahkan tak bisa berubah sedikit pun meski sekarang sudah jadi mahasiswi.
"Kenapa kamu terlambat?" Tanya Star penasaran.
"Sa-ya ketiggalan bus kak," Jawab Alula masih dengan sedikit terbata-bata.
Star memperhatikan gelagat Alula. Dia sedikit heran, "Kenapa kamu bicara dengan terbata-bata? Hehe".
Pertanya Star itu justru membuat Alula semakin grogi, "Mm-anu-anu-kak-mm".
Mahasiswi-mahasiswi yang lain turut tertawa melihat tingkah Alula seperti itu. Berbeda dengan Star. Dia merasa aneh karena tidak biasanya seorang gadis cantik akan bertingkah seperti itu.
Sementara itu Alula semakin malu. Dia semakin menunduk. Star menjadi tidak enak. Karena itu dia membiarkannya beserta mahasiswi lainnya untuk masuk.
Alula berlalu tanpa sepatah kata pun.
******
Star memasuki ruangan aula auditorium Antaraski. Dia dipersilahkan menempati tempat duduk khusus. Di atas panggung juga sudah hadir petinggi-petinggi kampus seperti rektor, dekan dan para ketua jurusan.
Acara berlangsung khidmat. Sesekali terdengar sorak sorak mahasiswa meneriakkan slogan kampus "cerdas, berani dan maju!". Star tiba-tiba menangkap sosok Alula yang duduk sendiri di bagian belakang. Dia lagi-lagi merasa aneh, kenapa dia memilih duduk di belakang sendiri padahal masih banyak tempat kosong lainnya. 'Apa dia tidak punya teman?' batin Star.
Dari belakang sana Alula pun menatap ke arah Star. 'Semoga kita tak pernah bertemu lagi.' Batin Alula.












