Sunday, November 21, 2021
Setelah Meninggal, Ahli Waris Jangan Lupa Bayar Hutang si Mayit !
Friday, November 5, 2021
5 Amalan Terbaik di Hari Jumat
Hari jumat adalah hari yang istimewa bagi umat muslim. Banyak amalan sunnah yang bisa dilakukan di hari tersebut. Inilah 5 amalan terbaik di hari jumat.
1. Membaca shalawat nabi
Amalan terbaik pertama yang bisa dilakukan adalah memperbanyak shalawat kepada Baginda Rasulullah SAW. Rasulullah pernah bersabda "Perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari Jumat, barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya 10 kali," (HR Baihaqi).
2. Membaca surah Al-Kahfi
Amalan terbaik kedua yang bisa dilakukan adalah membaca Surah Al-Kahfi pada malam Jumat dan juga hari Jumat. Rasulullah SAW. bersabda "barangsiapa yang membaca surah AL-Kahfi pada malam Jumat, dia akan disinari cahaya antara dirinya dan Ka'bah."
Selain itu, surah Al-Kahfi sendiri memiliki keutamaan-keutaaman, diantaranya adalah melindungi kaum muslim dari fitnah dajjal. Rasulullah SAW. bersabda "siapapun yang membaca sepuluh ayat terakhir dari Al-Kahfi akan dilindungi dari cobaan fitnah dajjal."
3. Memperbanyak Doa
Amalan terbaik ketiga yang bisa dilakukan pada hari Jumat adalah memperbanyak doa. Seperti diketahui bahwa hari Jumat adalah ha yang mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW. pernah bersabda, daru Abu Harairah radhiallahu anhu beliau berkata "Pada hari Jumat terdapat waktu yang tidaklah seorang hamba muslim shalat dan meminta kebaikan kepada Allah, kecuali Allah akan mengabulkannya." Beliau memberi isyarat dengan tangannya. Kami berkata, "Yaitu beliau menyempitkannya." (HR Bukhori dan Muslim)
Jika sudah ada jaminan seperti ini, maka manfaatkanlah waktu mustajab ini untuk meminta semua hajat kita kepada Allah. Perbanyak doa untuk urusan dunia dan akhirat kita.
4. Bersedekah
Amalan terbaik keempat yang bisa dilakukan adalah bersedekah. Sedekah adalah amalan yang amat dicintai oleh Allah dan Rasulullah. Bersedekah bisa dilakukan kapan saja. Bersedekah tidak hanya dengan menginfakkan harta, tapi bisa dengan tenaga, pikiran, bahkan senyuman yang kita berikan kepada saudara sesama muslim pun adalah sedekah.
Bersedekah pada hari Jumat akan membuat pahala dilipat-gandakan. Hal itu sesuai dengan hadist riwayat Abi Syaibah, Rasulullah bersabda "sedekah itu dilipatgandakan pahalanya pada hari jumat (yakni bila sedekah itu pada hari Jumat, maka pahala berlipat ganda dari hari-hari lain)."
5. Membersihkan diri
Amalan terbaik kelima yang bisa dilakukan adalah membersihkan diri. Sunnah rasul adalah dengan niat mandi untuk melaksanakan shalat jumat bagi laki-laki. Selain itu , kita disunnahkan untuk memakai minyak wangi dan juga membersihkan kuku.
Sedang untuk perempuan, meski tak melaksanakan shalat Jumat, juga bisa membersihkan diri untuk melaksanakan shalat dhuhur. Karena Allah sangat menyukai kebersihan. Membersihkan diri di hari terbaik akan membuat Allah menyukai kita.
Itulah 5 amalan terbaik yang bisa dikerjakan di hari Jumat. Semoga Allah merahmati kita di hari terbaik ini.
Wednesday, November 3, 2021
Pengalaman Mengajarkan Shalat Wajib Kepada Anak Usia 8 Tahun
Sharing Yuk.
Ini adalah pengalaman saya mengajarkan shalat wajib kepada anak pertama saya (Zahra) yang berusia 8 tahun. Sejak usia kecil sebenarnya Zahra sudah beberapa kali ikut shalat ketika saya sedang mengerjakan shalat. Pada usia 7 tahun, dimana Rasullah Saw. meminta kepada setiap orang tua untuk mengajarkan anaknya shalat, di usia itu Zahra sudah mulai sering ikut shalat. Namun belum sempurna 5 kali dalam sehari. Kadang cuma shalat magrib saja, atau shalat isya saja. Kalau siang jarang sekali ikut shalat. Apalagi untuk shalat subuh.
Nah, menginjak usia 8 tahun, saya sudah mulai gelisah. Saya sebenarnya kebingungan mana yang harus didahulukan dari perintah shalat itu sendiri. Apakah mempelajari bacaan dan gerakannya dulu. Ataukah yang penting anak mau mengerjakannya dulu sambil sedikit-sedikit mulai menghapal bacaannya. Jika harus menghapal bacaan dan gerakannya dulu, tentu akan memakan waktu lebih lama. Saya memutuskan untuk membiasakan Zahra mengerjakan shalat dulu sembari memintanya untuk menghapal sedikit demi sedikit bacaan shalat.
Sebelum saya meminta Zahra untuk melaksanakan shalat dalam kondisi yang serius, terlebih dulu saya memberi tahu dia kenapa kita harus shalat. Tentu pelajaran ini dimulai dari mengenal Allah. Saya menunjukkan bahwa kita ada di dunia ini karena Allah yang menciptakan. Semua rezeki kita, semua anggota badan kita, semua yang ada di atas langit dan di bumi , semua Allah yang ciptakan. Nah, yang menyuruh kita shalat itu adalah Allah. Saya juga memberi gambaran surga yang menanti bagi orang yang melaksanakan shalat dan neraka yang menanti orang yang meninggalkan shalat. Semua bahasan tentang Allah, Rasulullah, surga, neraka, muslimah, orang yang baik, orang yang buruk, tentang agama Islam, semua sudah mulai saya perkenalkan sejak Zahra pandai bicara. Jadi ini bukan hal baru di telinga Zahra.
Selanjutnya, pembicaraan saya teruskan dengan pertanyaan, " Nak Zahra sekarang sudah umur berapa?, dia kemudian menjawab 8 tahun. Terus saya tanya lagi, "masih kecil atau sudah besar?". tentu dia dengan semangat menjawab, sudah besar. Dia selalu menjadi orang besar karena posisinya sebagai kakak tertua dari dua adiknya. Lalu saya katakan , " sekarang Zahra sudah besar, sudah waktunya Zahra shalat seperti mama shalat."
Dia sedikit terkejut tapi dia sudah menolak. Mungkin di usianya sekarang, dia memang sudah mampu memikul tanggung-jawab untuk melaksanakan shalat 5 waktu. Karena itu tak pernah salah memberi tahu kita untuk menyuruh anak yang berusia 7 tahun shalat dan memukul mereka ketika usia 9 tahun belum shalat. Di usia inilah Zahra bisa memikul tanggung-jawab itu.
Tantangan pun dimulai. Mengajak Zahra shalat di waktu dhuhur, ashar, magrib dan isya bukanlah suatu masalah berat. Masalah terberatnya adalah shalat subuh. Kebiasan Zahra selama ini bangun pagi antara jam 6 dan jam 7. Bangun subuh adalah sesuatu yang diluar kebiasannya. Ditambah lagi bangun subuh untuk shalat subuh.
Hari pertama praktek sudah dipenuhi dengan drama. Zahra susah bangun dan marah-marah ketika dipaksa bangun. Hari ke 2 saya shalat subuh duluan dan saya baru membangunkan Zahra jam 5.30. Disini dia masih marah-marah. Hari ke 3 masih sama, bangun jam 5.30 dan shalat sendiri. Pas siang hari, dia bilang "Ma, saya tidak suka shalat subuh sendiri. Bangunkan saya seperti mama bangun subuh. Saya mau shalat subuh sama mama." Di hari ke 4 alhamdulillah sudah tidak ada lagi drama subuh.
Tantangan selanjutnya adalah ketika saya datang bulan. Otomatis saya tidak bisa melaksanakan shalat. Pada saat itu, Zahra juga tidak mau melaksanakan shalat. Saya hampir saja melemah melihat rengekannya. Tapi jika saya tidak tegas sekarang, nanti dia malah berpikir boleh tidak shalat semaunya. Saya pun pakai jurus rayuan maut. Apa itu ? janji manis dari Allah yaitu surga bagi orang-orang yang melaksanakan shalat.
Meski berat, Zahra pun tetap melaksanakan shalat. Jadi ketika Zahra shalat sendiri, saya duduk di sampingnya dan membacakan bacaan shalatnya. Saya sangat bersyukur karena Zahra itu kalau sudah dengar surga, bawaannya nurut. Alhamdulillah, semoga Allah jaga perasaan Zahra seperti itu selamanya.
Kebiasaan shalat ini mungkin akan sangat berat. Perlu setidaknya 40 hari agar anak terbiasa dengan habit baru mereka ini. Di 40 hari ini, orang tua tidak boleh lembek kepada anak, harus tega, karena tujuannya agama. Jika lembek anak pun akan lembek. Selain itu, shalat itu bukan cuma perintah kepada anak, karena itu disini orang tua harus menjadi teladan anak. Jadi ketika kita mengajak anak shalat, hal itu tidak berat mereka laksanakan. Semoga Allah mudahkan urusan kita.
Ini pengalaman saya, bagaiamana dengan bunda? yuk share di komentar.
#Shalat #anakbelajarshalat #shalat5waktu #shalatwajibanak
Sunday, October 31, 2021
Kisah Hijrahku : Kenapa Tuhan Harus Allah ? (Part 1)
Part 1
Dulu saya adalah seorang muslimah yang sama dengan kebanyakan orang. Saya mengganggap diri saya sudah baik karena tak pernah meninggalkan shalat. Padahal aurat masih terbuka sana-sini. Padahal masih pacaran. Padahal meski shalat tapi shalatnya di akhir waktu. Padahal hati kadang suka julid sama orang yang kelihatan syar'i. Padahal isi kepalanya roman picisan. Padahal kelakuan sama sekali tak mencerminkan muslimah yang seharusnya.
Saya memeluk agama Islam memang hanya karena saya lahir di keluarga muslim. Kedua orang tua saya adalah muslim. Semua anggota keluarga saya muslim. secara otomatis, mau tidak mau, saya juga harus memeluk agama Islam. Saya sekalipun tak pernah berpikir bahkan tak pernah kepikiran kenapa saya harus Islam? Kenapa saya harus menyembah Allah?
Saya tidak sendiri. Semua teman-teman saya, saudara-saudara saya, orang tua saya, semuanya memeluk agama ini "hanya" karena memang kami lahir di keluarga muslim. Tidak lebih. Maka wajar saja jika kelakuan kami sama sekali tak mencerminkan Islam yang paripurna.
Saya membawa keadaan ini hingga ke usia dewasa. Ketika sudah lulus sekolah menengah dan melanjutkan pendidikan di Universitas, pola pikir saya masih seperti ini. Belum berubah sama sekali. Hingga ketika suatu hari saya bertemu dengan seorang teman. Cerita ini terjadi di awal semester tiga perkuliahan saya. Teman saya itu adalah seorang teman dari kelas yang sama. Kami tidak begitu akrab. Hanya sesekali saja kami bertegur sapa.
Saat itu, tanpa sengaja saya melihat perubahan drastis teman saya itu. Pakaiannya semakin tertutup tapi pemikirannya semakin terbuka. Namun saat itu, saya masih tidak menghiraukannya. Di kesempatan lain, teman saya itu mengajak saya untuk menghadiri sebuah kajian Islam. Awalnya saya sangat ragu karena saya tidak pernah menghadiri kegiatan seperti ini sebelumnya. Namun saya tetap memaksakan diri karena merasa tidak enak jika menolak ajakan teman saya itu.
Rupanya, hari itu adalah hari dimana Allah menurunkan hidayahnya kepadaku. Melalui kajian yang cukup singkat, hanya sekitar 2-3 jam, saya benar-benar seperti menemukan sesuatu dalam agama yang saya anut ini.
Di dalam kajian itu, kita ditanya kenapa sih Tuhan itu harus Allah? terus saya pun akhirnya bertanya, iya ya, kenapa harus Allah? kenapa bukan yang lain. Nah, mungkin anda juga sekarang mulai bertanya kepada diri anda sendiri, kenapa ya Tuhan saya harus Allah?
Saya akan berbagi sedikit kenapa Tuhan itu harus Allah. Tapi jawaban saya ini takkan sebaik jawaban ustadzah pada waktu itu. Semoga jawaban ini sedikit membuka jalan pikiran anda yang saat ini mungkin sedang bertanya pertanyaan yang sama. Jadi kenapa Tuhan harus Allah?
Pertama, Tuhan itu tidak mungkin sama dengan makhluk. Ingat tidak kisah nabi Ibrahim ketika beliau melihat matahari yang begitu perkasa dengan sinarnya. Nabi Ibrahim lalu mengatakan bahwa ini adalah Tuhanku. Namun ketika pada sore hari matahari itu tenggelam, beliau menyadari bahwa ini bukan Tuhan. Tak mungkin Tuhan akan menghilang.
Kedua, mari kita renungkan sebuah kejadian sebelum kita hidup, saat kita hidup dan kemana kita setelah kehidupan dunia ini. Apa yang ada sebelum kita hidup? yang ada adalah orang tua kita, kakek nenek kita, begitu terus hingga kehidupan sampai kepada nabi Adam. Lalu apa yang ada sebelum nabi adam? Apa yang ada sebelum bumi dan langit diciptakan? apa yang ada sebelum semua itu? Pasti sesuatu yang "diadakan" itu ada yang "mengadakannya". Tiada makhluk yang mampu membuat semua itu.
Lalu saat kita hidup. Bisakah kita hidup seperti itu saja tanpa panutan? semua apa yang kita pelajari, apa yang kita nikmati, nafas kits, organ-organ tubuh kita, apakah semua hal yang kompleks yang ada dalam kehidupan ini semuanya berjalan secara otomatis tanpa pengendali? sulit mempercayainya. sebuah teknologi yang paling canggih pun pasti ada yang mengendalikan. Apalagi jika kehidupan super kompleks yang kita jalani saat ini. Kira-kira adakah makluk yang mampu mengendalikannya? tentu tak bisa diterima akal jika semua itu dikendalikan makhluk. Ada Tuhan dibalik semua itu.
Saturday, October 19, 2019
Tak Ada Joker dalam Islam
Tuesday, September 17, 2019
Film The Santri
Baru-baru ini publik dibuat heboh dengan kemunculan sebuah film yang berjudul THE SANTRI. Saya termasuk salah satu yang cukup heboh. Saya pikir film ini akan bercerita tentang kehidupan santri yang sebenarnya sehingga bisa memotivasi para generasi muda untuk berlomba-lomba masuk ke pondok pesantren. Tapi, betapa kagetnya saya saat melihat trailer film ini di youtube.
Saturday, July 6, 2019
Indahnya Poligami
Akhir akhir ini saya sering membaca kisah tentang poligami. Saya cuma tidak bisa memastikan apakah kisah itu benar atau hanya hayalan penulis saja. Namun, intinya saya menikmati kisah yang dituturkan. Kenapa saya menikmatinya? Padahal di dalam kisah-kisah itu pasti ada wanita yang tersakiti. Bukankah itu pengkhianatan terhadap sesama wanita? Hmm.













