Belajar, berbagi dan bercerita tentang apa saja

Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Sunday, November 21, 2021

Setelah Meninggal, Ahli Waris Jangan Lupa Bayar Hutang si Mayit !

Ada seorang ibu curhat di media sosial. Dia mengatakan bahwa seseorang baru saja meninggal. Si mayit memiliki hutang terhadap ibu tersebut sebanyak 5 jt. Ibu tersebut menghubungi suami si mayit untuk menanyakan perihal hutangnya, namun ternyata suami si mayit berlepas tangan. Dia meminta si ibu untuk menghubungi anak si mayit. Kebetulan anak itu adalah anak satu-satunya dari si mayit. Namun sayang sekali, anak tersebut pun berlepas tangan dari hutang si mayit.


Ini adalah sebuah kisah yang sangat berat dan memiliki ibrah yang luar biasa bagi kita semua yang masih hidup. Perkara hutang adalah hal yang berat. Dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al 'Ash, Rasulullah saw. bersabda, "semua dosa orang yang mati syahid diampuni kecuali hutang." (HR. Muslim no 1886)

Berdasarkan hadist tersebut, seorang yang mati syahid pun terhalang oleh hutangnya. Padahal mati syahid jaminannya sudah surga. Apalagi manusia seperti kita yang mati biasa saja.

Dari kisah ini kita belajar untuk tidak bermudah-mudah dalam berhutang. Ada beberapa syarat dalam berhutang, salah satunya adanya saksi dan hutang tersebut dicatat. Dengan adanya saksi, maka ketika ada kejadian orang yang berhutang itu meninggal, maka ada yang mengetahui hutang tersebut dan menyampaikan kepada ahli waris. 

Selain itu, bagi ahli waris, ini adalah kewajiban terbesar bagi anda. Seorang mayit, jika meninggalkan warisan, maka warisan itu dibagi setelah hutang si mayit dilunasi. Sementara, jika si mayit tak meninggalkan harta, maka kewajiban membayar hutang jatuh kepada ahli waris. Meski tidak wajib, namun demi meringankan beban si mayit yang sudah meninggal maka ahli waris harus berusaha untuk melunasi hutang-hutangnya.

Jangan mudah berhutang. Segera lunasi hutang jika sudah ada dananya. Jangan sampai kita meninggal masih meninggalkan hutang yang akan memberatkan langkah kita selanjutnya di akhirat.
Share:

Friday, November 5, 2021

5 Amalan Terbaik di Hari Jumat



Hari jumat adalah hari yang istimewa bagi umat muslim. Banyak amalan sunnah yang bisa dilakukan di hari tersebut. Inilah 5 amalan terbaik di hari jumat.

1. Membaca shalawat nabi

Amalan terbaik pertama yang bisa dilakukan adalah memperbanyak shalawat kepada Baginda Rasulullah SAW. Rasulullah pernah bersabda "Perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari Jumat, barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya 10 kali," (HR Baihaqi).

2. Membaca surah Al-Kahfi

Amalan terbaik kedua yang bisa dilakukan adalah membaca Surah Al-Kahfi pada malam Jumat dan juga hari Jumat. Rasulullah SAW. bersabda "barangsiapa yang membaca surah AL-Kahfi pada malam Jumat, dia akan disinari cahaya antara dirinya dan Ka'bah."

Selain itu, surah Al-Kahfi sendiri memiliki keutamaan-keutaaman, diantaranya adalah melindungi kaum muslim dari fitnah dajjal. Rasulullah SAW. bersabda "siapapun yang membaca sepuluh ayat terakhir dari Al-Kahfi akan dilindungi dari cobaan fitnah dajjal."

3. Memperbanyak Doa

Amalan terbaik ketiga yang bisa dilakukan pada hari Jumat adalah memperbanyak doa. Seperti diketahui bahwa hari Jumat adalah ha yang mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW. pernah bersabda, daru Abu Harairah radhiallahu anhu beliau berkata "Pada hari Jumat terdapat waktu yang tidaklah seorang hamba muslim shalat dan meminta kebaikan kepada Allah, kecuali Allah akan mengabulkannya." Beliau memberi isyarat dengan tangannya. Kami berkata, "Yaitu beliau menyempitkannya." (HR Bukhori dan Muslim)

Jika sudah ada jaminan seperti ini, maka manfaatkanlah waktu mustajab ini untuk meminta semua hajat kita kepada Allah. Perbanyak doa untuk urusan dunia dan akhirat kita.

4. Bersedekah

Amalan terbaik keempat yang bisa dilakukan adalah bersedekah. Sedekah adalah amalan yang amat dicintai oleh Allah dan Rasulullah. Bersedekah bisa dilakukan kapan saja. Bersedekah tidak hanya dengan menginfakkan harta, tapi bisa dengan tenaga, pikiran, bahkan senyuman yang kita berikan kepada saudara sesama muslim pun adalah sedekah.

Bersedekah pada hari Jumat akan membuat pahala dilipat-gandakan. Hal itu sesuai dengan hadist riwayat Abi Syaibah, Rasulullah bersabda "sedekah itu dilipatgandakan pahalanya pada hari jumat (yakni bila sedekah itu pada hari Jumat, maka pahala berlipat ganda dari hari-hari lain)."

5. Membersihkan diri

Amalan terbaik kelima yang bisa dilakukan adalah membersihkan diri. Sunnah rasul adalah dengan niat mandi untuk melaksanakan shalat jumat bagi laki-laki. Selain itu , kita disunnahkan untuk memakai minyak wangi dan juga membersihkan kuku.

Sedang untuk perempuan, meski tak melaksanakan shalat Jumat, juga bisa membersihkan diri untuk melaksanakan shalat dhuhur. Karena Allah sangat menyukai kebersihan. Membersihkan diri di hari terbaik akan membuat Allah menyukai kita.

Itulah 5 amalan terbaik yang bisa dikerjakan di hari Jumat. Semoga Allah merahmati kita di hari terbaik ini.

Share:

Wednesday, November 3, 2021

Pengalaman Mengajarkan Shalat Wajib Kepada Anak Usia 8 Tahun


 Sharing Yuk.

Ini adalah pengalaman saya mengajarkan shalat wajib kepada anak pertama saya (Zahra) yang berusia 8 tahun. Sejak usia kecil sebenarnya Zahra sudah beberapa kali ikut shalat ketika saya sedang mengerjakan shalat. Pada usia 7 tahun, dimana Rasullah Saw. meminta kepada setiap orang tua untuk mengajarkan anaknya shalat, di usia itu Zahra sudah mulai sering ikut shalat. Namun belum sempurna 5 kali dalam sehari. Kadang cuma shalat magrib saja, atau shalat isya saja. Kalau siang jarang sekali ikut shalat. Apalagi untuk shalat subuh.

Nah, menginjak usia 8 tahun, saya sudah mulai gelisah. Saya sebenarnya kebingungan mana yang harus didahulukan dari perintah shalat itu sendiri. Apakah mempelajari bacaan dan gerakannya dulu. Ataukah yang penting anak mau mengerjakannya dulu sambil sedikit-sedikit mulai menghapal bacaannya. Jika harus menghapal bacaan dan gerakannya dulu, tentu akan memakan waktu lebih lama. Saya memutuskan untuk membiasakan Zahra mengerjakan shalat dulu sembari memintanya untuk menghapal sedikit demi sedikit bacaan shalat.

Sebelum saya meminta Zahra untuk melaksanakan shalat dalam kondisi yang serius, terlebih dulu saya memberi tahu dia kenapa kita harus shalat. Tentu pelajaran ini dimulai dari mengenal Allah. Saya menunjukkan bahwa kita ada di dunia ini karena Allah yang menciptakan. Semua rezeki kita, semua anggota badan kita, semua yang ada di atas langit dan di bumi , semua Allah yang ciptakan. Nah, yang menyuruh kita shalat itu adalah Allah. Saya juga memberi gambaran surga yang menanti bagi orang yang melaksanakan shalat dan neraka yang menanti orang yang meninggalkan shalat. Semua bahasan tentang Allah, Rasulullah, surga, neraka, muslimah, orang yang baik, orang yang buruk, tentang agama Islam, semua sudah mulai saya perkenalkan sejak Zahra pandai bicara. Jadi ini bukan hal baru di telinga Zahra.

Selanjutnya, pembicaraan saya teruskan dengan pertanyaan, " Nak Zahra sekarang sudah umur berapa?, dia kemudian menjawab 8 tahun. Terus saya tanya lagi, "masih kecil atau sudah besar?". tentu dia dengan semangat menjawab, sudah besar. Dia selalu menjadi orang besar karena posisinya sebagai kakak tertua dari dua adiknya. Lalu saya katakan , " sekarang Zahra sudah besar, sudah waktunya Zahra shalat seperti mama shalat."

Dia sedikit terkejut tapi dia sudah menolak. Mungkin di usianya sekarang, dia memang sudah mampu memikul tanggung-jawab untuk melaksanakan shalat 5 waktu. Karena itu tak pernah salah memberi tahu kita untuk menyuruh anak yang berusia 7 tahun shalat dan memukul mereka ketika usia 9 tahun belum shalat. Di usia inilah Zahra bisa memikul tanggung-jawab itu.

Tantangan pun dimulai. Mengajak Zahra shalat di waktu dhuhur, ashar, magrib dan isya bukanlah suatu masalah berat. Masalah terberatnya adalah shalat subuh. Kebiasan Zahra selama ini bangun pagi antara jam 6 dan jam 7. Bangun subuh adalah sesuatu yang diluar kebiasannya. Ditambah lagi bangun subuh untuk shalat subuh.

Hari pertama praktek sudah dipenuhi dengan drama. Zahra susah bangun dan marah-marah ketika dipaksa bangun. Hari ke 2 saya shalat subuh duluan dan saya baru membangunkan Zahra jam 5.30. Disini dia masih marah-marah. Hari ke 3 masih sama, bangun jam 5.30 dan shalat sendiri. Pas siang hari, dia bilang "Ma, saya tidak suka shalat subuh sendiri. Bangunkan saya seperti mama bangun subuh. Saya mau shalat subuh sama mama." Di hari ke 4 alhamdulillah sudah tidak ada lagi drama subuh.

Tantangan selanjutnya adalah ketika saya datang bulan. Otomatis saya tidak bisa melaksanakan shalat. Pada saat itu, Zahra juga tidak mau melaksanakan shalat. Saya hampir saja melemah melihat rengekannya. Tapi jika saya tidak tegas sekarang, nanti dia malah berpikir boleh tidak shalat semaunya. Saya pun pakai jurus rayuan maut. Apa itu ? janji manis dari Allah yaitu surga bagi orang-orang yang melaksanakan shalat.

Meski berat, Zahra pun tetap melaksanakan shalat. Jadi ketika Zahra shalat sendiri, saya duduk di sampingnya dan membacakan bacaan shalatnya. Saya sangat bersyukur karena Zahra itu kalau sudah dengar surga, bawaannya nurut. Alhamdulillah, semoga Allah jaga perasaan Zahra seperti itu selamanya.

Kebiasaan shalat ini mungkin akan sangat berat. Perlu setidaknya 40 hari agar anak terbiasa dengan habit baru mereka ini. Di 40 hari ini, orang tua tidak boleh lembek kepada anak, harus tega, karena tujuannya agama. Jika lembek anak pun akan lembek. Selain itu, shalat itu bukan cuma perintah kepada anak, karena itu disini orang tua harus menjadi teladan anak. Jadi ketika kita mengajak anak shalat, hal itu tidak berat mereka laksanakan. Semoga Allah mudahkan urusan kita.


Ini pengalaman saya, bagaiamana dengan bunda? yuk share di komentar.


#Shalat #anakbelajarshalat #shalat5waktu #shalatwajibanak

Share:

Sunday, October 31, 2021

Kisah Hijrahku : Kenapa Tuhan Harus Allah ? (Part 1)

 Part 1



Dulu saya adalah seorang muslimah yang sama dengan kebanyakan orang. Saya mengganggap diri saya sudah baik karena tak pernah meninggalkan shalat. Padahal aurat masih terbuka sana-sini. Padahal masih pacaran. Padahal meski shalat tapi shalatnya di akhir waktu. Padahal hati kadang suka julid sama orang yang kelihatan syar'i. Padahal isi kepalanya roman picisan. Padahal kelakuan sama sekali tak mencerminkan muslimah yang seharusnya.

Saya memeluk agama Islam memang hanya karena saya lahir di keluarga muslim. Kedua orang tua saya adalah muslim. Semua anggota keluarga saya muslim. secara otomatis, mau tidak mau, saya juga harus memeluk agama Islam. Saya sekalipun tak pernah berpikir bahkan tak pernah kepikiran kenapa saya harus Islam? Kenapa saya harus menyembah Allah?

Saya tidak sendiri. Semua teman-teman saya, saudara-saudara saya, orang tua saya, semuanya memeluk agama ini "hanya" karena memang kami lahir di keluarga muslim. Tidak lebih. Maka wajar saja jika kelakuan kami sama sekali tak mencerminkan Islam yang paripurna. 

Saya membawa keadaan ini hingga ke usia dewasa. Ketika sudah lulus sekolah menengah dan melanjutkan pendidikan di Universitas, pola pikir saya masih seperti ini. Belum berubah sama sekali. Hingga ketika suatu hari saya bertemu dengan seorang teman. Cerita ini terjadi di awal semester tiga perkuliahan saya. Teman saya itu adalah seorang teman dari kelas yang sama. Kami tidak begitu akrab. Hanya sesekali saja kami bertegur sapa.

Saat itu, tanpa sengaja saya melihat perubahan drastis teman saya itu. Pakaiannya semakin tertutup tapi pemikirannya semakin terbuka. Namun saat itu, saya masih tidak menghiraukannya. Di kesempatan lain, teman saya itu mengajak saya untuk menghadiri sebuah kajian Islam. Awalnya saya sangat ragu karena saya tidak pernah menghadiri kegiatan seperti ini sebelumnya. Namun saya tetap memaksakan diri karena merasa tidak enak jika menolak ajakan teman saya itu. 

Rupanya, hari itu adalah hari dimana Allah menurunkan hidayahnya kepadaku. Melalui kajian yang cukup singkat, hanya sekitar 2-3 jam, saya benar-benar seperti menemukan sesuatu dalam agama yang saya anut ini. 

Di dalam kajian itu, kita ditanya kenapa sih Tuhan itu harus Allah? terus saya pun akhirnya bertanya, iya ya, kenapa harus Allah? kenapa bukan yang lain. Nah, mungkin anda juga sekarang mulai bertanya kepada diri anda sendiri, kenapa ya Tuhan saya harus Allah? 

Saya akan berbagi sedikit kenapa Tuhan itu harus Allah. Tapi jawaban saya ini takkan sebaik jawaban ustadzah pada waktu itu. Semoga jawaban ini sedikit membuka jalan pikiran anda yang saat ini mungkin sedang bertanya pertanyaan yang sama. Jadi kenapa Tuhan harus Allah?

Pertama, Tuhan itu tidak mungkin sama dengan makhluk. Ingat tidak kisah nabi Ibrahim ketika beliau melihat matahari yang begitu perkasa dengan sinarnya. Nabi Ibrahim lalu mengatakan bahwa ini adalah Tuhanku. Namun ketika pada sore hari matahari itu tenggelam, beliau menyadari bahwa ini bukan Tuhan. Tak mungkin Tuhan akan menghilang. 

Kedua, mari kita renungkan sebuah kejadian sebelum kita hidup, saat kita hidup dan kemana kita setelah kehidupan dunia ini. Apa yang ada sebelum kita hidup? yang ada adalah orang tua kita, kakek nenek kita, begitu terus hingga kehidupan sampai kepada nabi Adam. Lalu apa yang ada sebelum nabi adam? Apa yang ada sebelum bumi dan langit diciptakan? apa yang ada sebelum semua itu? Pasti sesuatu yang "diadakan" itu ada yang "mengadakannya". Tiada makhluk yang mampu membuat semua itu.

Lalu saat kita hidup. Bisakah kita hidup seperti itu saja tanpa panutan? semua apa yang kita pelajari, apa yang kita nikmati, nafas kits, organ-organ tubuh kita, apakah semua hal yang kompleks yang ada dalam kehidupan ini semuanya berjalan secara otomatis tanpa pengendali? sulit mempercayainya. sebuah teknologi yang paling canggih pun pasti ada yang mengendalikan. Apalagi jika kehidupan super kompleks yang kita jalani saat ini. Kira-kira adakah makluk yang mampu mengendalikannya? tentu tak bisa diterima akal jika semua itu dikendalikan makhluk. Ada Tuhan dibalik semua itu.

Share:

Saturday, October 19, 2019

Tak Ada Joker dalam Islam


Sudahkah anda menonton film joker? Saya sendiri belum pernah menonton filmnya. Itu karena menonton film di bioskop masih diharamkan oleh sebagian ulama karena terdapat ikhtilat di dalamnya. Saya memutuskan untuk tidak mendatangi bioskop seumur hidup saya. Lebih baik cari aman ketimbang harus menambah dosa kehidupan. Hehe. 

Kembali ke joker. Saya pertama kali mendengar film ini dari postingan seorang teman di facebook. Lalu karena penasaran, saya mencari trailernya di youtube. Alhamdulillah ketemu. Saya pun bisa sedikit memahami isi film tersebut. 

Setidaknya, dari trailer film joker, saya mengetahui bahwa sosok joker berawal dari seorang komedian dari kalangan masyarakat bawah yang terus menerus gagal meraih kesuksesan. Selain itu, pengaruh lingkungan yang menghina dan menyakiti si joker akhirnya mengubah ia menjadi sosok yang jahat. Jadilah ia si joker, musuh bebuyutan batman. 


Setelah film joker viral, muncullah quotes dari beberapa orang di media sosial. Quote yang paling terkenal mengatakan bahwa "Orang jahat lahir dari orang baik yang tersakiti". Secara latah quote ini banyak dibagikan. Kemudian banyak orang jadi memaklumi keadaan tersebut. Lalu, sebagai muslim, bagaimanakah kita harus menyikapinya? Mari kita belajar dari kisah-kisah para tokoh yang ada dalam Islam.

Pertama, kisah Rasulullah Muhammad shallallhu 'alaihi wasallam.  Beliau adalah manusia yang paling banyak disakiti oleh masyarakat di sekitarnya tatkala beliau mulai mengemban dakwah Islam. Jangankan kata-kata yang menyakitkan, bahkan serangan fisik pun sudah beliau terima. Padahal beliau berasal dari suku yang terhormat, memiliki kedudukan yang tinggi di kalangan masyarakat Arab, namun beliau tetap mendapatkan perlakuan buruk dari masyarakat. Lantas apakah beliau berubah menjadi seorang penjahat? Tentu tidak sama sekali.

Rasulullah mengajarkan kesabaran kepada kaum muslimin. Kesabaran karena landasan iman dan takwa kepada Allah subhanahu wa taala. Jadi apapun perlakuan buruk yang beliau terima takkan mengubah sosoknya menjadi orang jahat. 

Kedua, kisah nabi yusuf alaihissalam. Sejak kecil beliau sudah mendapatkan perlakuan buruk dari saudara-saudaranya. Bahkan beliau hampir kehilangan nyawanya. Lantas, apakah nabi yusuf berubah menjadi orang jahat karena pernah tersakiti? Tidak. Beliau justru bersabar dan memaafkan saudara-saudaranya.

Di dalam hidup ini kita mungkin akan sesekali mengalami kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan bahkan menyakiti kita baik secara fisik maupun perasaan. Namun semua itu bukan alasan untuk mengubah pribadi kita menjadi orang jahat. Kita diperintahkan oleh Allah untuk bersabar terhadap hal-hal yang tidak kita sukai. Kita pun diminta untuk memaafkan kesalahan orang lain atas diri kita. Untuk itu, Allah subhanahu wa taala akan membalas kita dengan pahala yang melimpah.  Jadi takkan pernah ada Joker dalam Islam. 
Share:

Tuesday, September 17, 2019

Film The Santri



Baru-baru ini publik dibuat heboh dengan kemunculan sebuah film yang berjudul THE SANTRI. Saya termasuk salah satu yang cukup heboh. Saya pikir film ini akan bercerita tentang kehidupan santri yang sebenarnya sehingga bisa memotivasi para generasi muda untuk berlomba-lomba masuk ke pondok pesantren. Tapi, betapa kagetnya saya saat melihat trailer film ini di youtube.

Adegan demi adegan yang ditampilkan sukses membuat saya mengelus dada. Pertama, adegan membawakan tumpeng kepada jamaat agama lain. Entah apa maksudnya. Namun sependek pengetahuan saya, kita tidak boleh masuk ke tempat ibadah agama lain. Jangankan masuk, saat melihatnya saja, ada ulama yang sampai menyarankan untuk mengulang syahadat kita. Semua itu demi menjaga kemurniaan aqidah Islam yang kita miliki.

Kedua, sebuah adegan yang sontak membuat saya kaget adalah kedekatan seorang santri dan santriwati yang ada di film itu. Apakah mereka pacaran di film itu? saya juga tidak tau. Yang pastinya ada adegan saling lirik melirik dan berdua-duaan. Hal itu sangat bertentangan dengan ajaran islam yang melarang seorang wanita berdua-duaan dengan yang bukan mahromnya. Apalagi jika sampai pacaran. Karena pacaran itu adalah pintu yang lebar menuju zina. Sedang zina adalah sesuatu yang sangat tercela dan diharamkan. Jangankan zina, mendekatinya saja tidak boleh.

Lalu, saya sedikit merenung. Sebagai emak dengan amanah dua putri sholihah saya patut merasa was-was akan kehadiran tontonan yang seperti ini. Saya takut kemurnian anak-anak saya menjadi ternodai dengan pemahaman liberal yang jelas dipertontonkan pada film ini. 

Saya pun kemudian bertanya-tanya, kenapa film ini hadir sekarang? Mungkinkah ada kaitannya dengan menjamurnya anak-anak yang memilih pesantren sebagai tempat menimba ilmu. Orang-orang yang tidak bertanggung-jawab di balik film itu ingin merusak pola pikir anak-anak santri sehingga mereka pun akan terpapar oleh paham liberal dan tidak lagi menjadikan agama sebagai satu-satunya pegangan? Wallahu a'lam. Saya jadi ingat dengan dua keponakan saya dan satu cucu saya yang saat ini sedang nyantri. Semoga Allah menjaga dan melindungi mereka. Aamiin.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak anda semua untuk memboikot film THE SANTRI. Sebuah film yang sama sekali tidak menggambarkan islam yang sesungguhnya. Justru film ini sangat menodai ajaran Islam. Semoga ke depannya film-film seperti ini tidak lagi ada. 
Share:

Saturday, July 6, 2019

Indahnya Poligami



Akhir akhir ini saya sering membaca kisah tentang poligami. Saya cuma tidak bisa memastikan apakah kisah itu benar atau hanya hayalan penulis saja. Namun, intinya saya menikmati kisah yang dituturkan. Kenapa saya menikmatinya? Padahal di dalam kisah-kisah itu pasti ada wanita yang tersakiti. Bukankah itu pengkhianatan terhadap sesama wanita? Hmm.

Jika berbicara soal poligami memang tidak akan ada habisnya. Selalu ada yang pro dan kontra. Namun saya sendiri sebagai seorang muslimah, menerima dengan sangat ridho akan hukum Allah tentang poligami. Allah Maha Mengetahui, Allah pasti lebih mengetahui manfaat sebenarnya dari poligami. Tidak mungkin, seorang hamba yang fakir seperti saya berani menentang sesuatu yang yang telah diperbolehkan olehNya.

Poligami. Sebenarnya ada sesuatu yang indah disana. Sudah banyak orang yang berhasil menerapkannya. Saya membayangkan, bagaimana ramainya sebuah rumah dengan anak-anak karena ada empat ibu disana. Mereka bermain bersama, saling mengasihi dan menjaga. Selain itu, pekerjaan rumah pasti akan lebih ringan. Jika satu ibu saja bisa menjaga sebuah rumah, lalu bagaimana ringannya pekerjaan itu jika dikerjakan empat orang sekaligus.

Saya masih membayangkan ada empat wanita bercengkarama di ruang tengah sambil berbincang dan berbagi cerita layaknya seorang sahabat. Saya jadi ingat romansa dengan sahabat-sahabat masa sekolah dulu. Semua itu sangat indah. Bahkan mendidik anak-anak pun akan semakin mudah, karena kita bisa berbagi pikiran, beban dan penderitaan. Kita pun bisa saling menyemangati dalam belajar agama, memperbanyak hafalan qur'an dan muroja'ah bersama. Oh.. betapa indahnya semua itu.

Jadi, apakah saya siap dipoligami? Sebuah pertanyaan yang berat. Karena sampai hari ini pun saya masih belum bisa menerima jika suatu hari harus berbagi suami. Saya adalah tipe pencemburu, yang kadang dengan teman-teman suami pun saya cemburu. Jika suami sudah berlama-lama dengan temannya maka saya pun akan cemburu. Apalagi jika saya harus membayangkan suami saya akan berlama-lama dengan seorang wanita lain, saya tidak akan kuat. Saya hanya takut saya akan berbuat yang tidak-tidak karena kecemburuan saya. Maka mudhorotlah yang akan datang.

Saya sama sekali tidak menolak hukum bolehnya poligami. Saya yakin, begitu pula dengan wanita-wanita lain di luar sana yang belum siap dipoligami. Saya yakin mereka bukan menolak hukum Allah, namun mereka saja yang belum siap. Siapa yang tahu nanti Allah yang melapangkan dada kami untuk siap di poligami. Mana tahu.

Saya sangat bangga dengan ketulusan hati seorang wanita yang menerima poligami. Namun saya pun tak menyalahkan wanita yang belum siap dipoligami. Untuk para suami, sebaiknya anda memikirkan matang-matang sebuah keputusan untuk berpoligami. Karena sesungguhnya sesuatu yang besar menyimpan tanggung jawab yang besar. Anda yang paling tau diri anda. Anda yang mampu menilai apakah anda mampu mengambil tanggung jawab itu. Bukankah Allah subhanahu wa ta'ala sudah menyebutkan dalam firmanNya, jika engkau tak mampu maka cukup satu orang saja. Wallahu 'alam.
Share:

Followers

Total Pageviews