Belajar, berbagi dan bercerita tentang apa saja

Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

Tuesday, July 2, 2019

Sanggahan Terhadap Ide Pemuja Pernikahan


Tulisan ini adalah sanggahan atas pendapat seseorang yang terkenal karena plagiatismenya. Dia masih sangat muda dan senang menulis. Saya jadi ingat masa mudaku dulu dimana saya tidak sekalipun berpikir seperti dia. Mungkin karena kita berbeda zaman jadi cara berpikirnya beda. Ataukah karena ada faktor-faktor lain yang melatar belakangi, saya pun tidak tahu. Namun sebagai sesama perempuan, sebagai seorang perempuan yang juga menikah muda, saya ingin meluruskan kekeliruan besar dari cara berpikirnya.

Saya tidak mengerti, kenapa seseorang yang mendambakan hubungan halal dengan lawan jenis, sesorang yang tidak ingin terjerumus pada dosa pacaran dan lebih memilih menikah muda mendapat julukan yang tidak enak di dengar telinga. Pemuja pernikahan. Sebuah julukan dengan konotasi negatif. Padahal apa yang diinginkan adalah sebuah kemuliaan. Menggenapkan separuh dien adalah sunnah Rasulullah yang mulia. Lalu apa salahnya dengan itu?

Dulu kamu membandingkan wanita yang menjual dirinya dengan nilai 80 juta lebih mulia dibanding seorang istri yang mendapatkan uang bulanan dari suaminya yang tidak lebih dari 10 juta. Sungguh, kamu sangat salah menilai sebuah kemuliaan. Otakmu mungkin sudah dicuci dengan tumpukan harta duniawi sehingga kamu menjadikan materi sebagai landasan kemuliaan.

Kini, engkaupun mencaci pemuda pemudi yang menikah di usia muda. Memang, menikah itu butuh persiapan. Seseorang yang ingin menikah harus siap secara mental, fisik, dan ekonomi. Namun usia bukanlah patokan. Betapa banyak orang yang menikah di usia yang terbilang matang, tapi toh mereka tetap tertimpa masalah. Bahkan orang yang terbilang ekonominya cukup mapan, tetap saja pernikahannya tak bahagia. 

Namun, saya sudah menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, sekaligus sudah merasakan sendiri, bahwa menikah di usia yang sangat muda, saat tidak ada kemapanan ekonomi sedikitpun, namun kehidupan rumah tangga kami bahagia. Kami bisa hidup hingga sekarang. Bahkan rumah tangga kami, alhamdulillah, dikokohkan Allah karena kami memulai segalanya dari nol. Sedikit demi sedikit menapaki kesuksesan bersama-sama. Semua itu indah dan membahagiakan dan akan dikenang hingga hari tua. Lalu atas dasar apa kamu mengatakan kami pemuja pernikahan.

Wahai adik kecil, masa depan mu masih panjang. Kamu juga memiliki potensi yang baik. Sekarang kamu sudah terkenal. Kamu bisa memanfaatkan itu untuk meraup pahala sebanyak-banyaknya. Ingatlah, kehidupan dunia ini menipu. Hanya sementara. Tapi disana, akan ada pembalasan.\

Bertaubatlah. Kamu bisa mulai memperbaiki pola pikirmu. Kamu bisa mulai menulis hal-hal baik, membela agamamu, membangun bangsamu. Jangan justru merusak pola pikir teman-temanmu dengan pemikiran yang sangat rusak. Apakah kamu mau bertanggung jawab atas kerusakan moral teman-temanmu yang merasa jijik dengan pernikahan muda dan lebih senang berhubungan bebas tanpa ikatan karena terpengaruh dengan tulisanmu? Masih ada waktu. Semoga kamu membaca tulisan ini.


Share:

Sunday, June 23, 2019

Sabarlah Menantinya Hijrah Wahai Para Istri



Hijrah dapat diartikan sebagai pindah. Pindah dari satu daerah ke daerah lain bisa dikatakan hijrah. Pindah dari keadaan yang buruk ke keadaan yang lebih baik pun bisa dikatakan sebagai hijrah. Sedangkan dalam sejarah Islam, hijrah adalah peristiwa perpindahan Rasulullah saw beserta sahabat-sahabatnya dari Mekkah menuju Madinah. Momen itu kemudian dijadikan sebagai penanggalan kaum muslimin. Penanggalan Hijriah.

Fonemana hijrah saat ini sangat terasa sekali. Kita lihat di berbagai media banyak sekali artis-artis yang kemudian memilih jalan hijrah. Saya sendiri pun merasakan aura hijrah begitu dekat di sekitarku. Banyak sekali teman-teman lama yang saat bertemu ternyata penampilannya sudah berubah, mereka pun alhamdulillah ternyata sudah mengikuti kajian.

Di dalam rumah sendiri, saya mulai mencium aroma hijrah dari paksu. Alhamdulillah sekarang dia sudah memiliki teman-teman mesjid yang setia. Berawal dari situ kini dia mulai aktif mengikuti kajian-kajian islam. Dia pun mulai memperbaiki bacaan al-Qur'annya dengan mempelajari makharijul huruf. Alhamdulillah. Tiba masanya bagi paksu untuk hijrah.

Perjalanan hijrah ini bukanlah sebuah proses yang singkat. Setelah hampir memasuki usia pernikahan 8 tahun barulah ada keinginannya untuk hijrah. Saya teringat masa dulu ketika hampir setiap hari saya mengajaknya ikut kajian tapi selalu enggan dihadirinya. Katanya dia tidak srek dengan harokah yang ku ikuti. Ketika saya memintanya mengikuti harokah lain yang ia sukai, ia pun masih enggan. Siapa yang menyangka, jalan hidayah itu justru datang dari harokah yang tidak pernah saya perhitungkan sebelumnya. Tapi apapun itu selama masih bermanhaj ahlussunnah wa jamaah saya pasti akan mendukung hijrahnya. 

Dari kisah ini ada sebuah pelajaran penting dari makna hijrah yang ingin saya bagi dengan anda semua. Mungkin saja kita memiliki kisah yang sama. Apalagi bagi seseorang yang telah mengikuti kajian sedangkan pasangannya belum, hal ini kadang menjadi kegelisahan tersendiri. 

Hal pertama yang harus kita pahami adalah bahwa pasangan kita adalah cerminan diri kita. Ketika kita baik , makaAllah tidak mungkin menjodohkan kita dengan seseorang yang buruk. Oleh karena itu sambil menunggu datangnya hidayah pada pasangan kita maka teruslah memperbaiki diri menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Kedua, jangan pernah putuskan doa. Sebagaimana kita ketahui, doa adalah senjata terkuat seorang muslim. Teruslah doakan pasangan kita agar mendapatkan hidayah. Karena sesungguhnya hidayah itu adalah hak milik Allah sepenuhnya. Allah lah yang Maha membolak-balikkan hati manusia. Sabarlah dalam doa karena Allah malu ketika ada hambaNya yang meminta sedang Dia tidak mengabulkannya.

Semoga kita semua mendapatkan kehidupan keluarga yang bahagia dunia akhirat dengan hijrahnya para qawwam. Aamiin.
Share:

Thursday, June 20, 2019

3 Cara Menjadi Ibu yang Tetap Waras

Menjadi ibu adalah sebuah nikmat yang diberikan Allah subhanahu wa ta'ala. Di luar sana banyak sekali pasangan suami istri yang menginginkan hadirnya seoarang anak agar mereka bisa menjadi ayah dan ibu, namun belum Allah berikan kesempatan untuk itu. Oleh karena itu, nikmat itu harus selalu disyukuri ya bu.


Seiring berjalannya waktu, kenikamatan yang dinanti-nanti itu kemudian menjadi sebuah ujian. Karena ketika anak-anak mulai tumbuh dan berkembang, mereka menjadi sangat aktif dan kadang sedikit "merepotkan". Apalagi jika anak yang kita miliki lebih dari satu orang, maka kekacauan pun semakin terasa. Hal itu kadang membuat ibu menjadi stress dan akhirnya marah-marah. Bahkan kemarahan itu bisa sampai dilampiaskan kepada anak baik dalam bentuk omelan, bentakan hingga sampai pada kekerasan fisik. 

Lalu bagaimana caranya agar ibu bisa tetap waras menjalani keseharian dengan anak-anak? Berikut ini ada beberapa tips yang bisa ibu coba di rumah.

1. Perbaiki Niat


Segala sesuatu tergantung niat. Niat adalah bahan bakar penggerak aktifitas manusia. Untuk menjadi ibu yang tetap waras ibu harus memperbaiki niat. Ibu harus menyadari bahwa anak-anak adalah amanah dari Allah subhanahu wa ta'ala yang nanti akan dimintai pertanggung-jawaban.

2. Mengingat Masa Penantian Kehadiran si Buah Hati


Ketika dirasa suasana sudah semakin kacau dan ibu merasa kewarasan ibu sisa beberapa persen saja, hehe, cobalah mengingat masa-masa dimana ibu sangat menantikan kehadiran si buah hati. Ingatlah ketika dia menangis untuk pertama kali. Betapa bahagianya ibu saat itu. Semoga kebahagiaan saat itu bisa ibu hadirkan kembali sehingga ibu pun berbahagia melihat perkembangan anak-anak saat ini.

3. Me Time


Kewarasan yang semakin berkurang mungkin adalah tanda bahwa ibu perlu menepi sejenak. Mungkin inilah waktu yang tepat untuk me time. Ibu tidak harus berlama-lama dengan itu. Meneguk teh hangat ditemani biskuit cokelat di sudut ruangan mungkin akan memperbaiki mood ibu. Atau ibu bisa melakukan hobi ibu. Atau Ibu bisa menulis diary untuk meluapkan emosi ibu, hehe.

Itulah sedikit tips agar ibu tetap menjadi waras di rumah. Karena sesungguhnya rumah yang bahagia berasal dari ibu yang bahagia. Semoga ibu ibu semua tetap menjadi ibu yang terus berbahagia mendampingi buah hati di rumah. 

salam sayang.
Share:

Followers

Total Pageviews