Belajar, berbagi dan bercerita tentang apa saja

Sunday, August 18, 2019

Katanya Merdeka

Sudah 74 tahun. Ya betul. 74 tahun bangsa ini merayakan kemerdekaannya. Alhamdulillah. Sebagai warga negara yang baik, tentu saja saya termasuk salah satu diantara sekian banyak orang yang merasakan kegembiraan di tanggal 17 agustus ini. Saya ingat dulu semasa sekolah. Saya selalu terlibat aktif dalam perayaan tujuh belasan. Baik itu mengikuti lomba gerak jalan, ataupun lomba-lomba lainnya.


Saat ini, setelah hidup di dalam kehidupan masyarakat yang sesungguhnya, ditambah pengalam hidup selama dua puluh delapan tahun, saya jadi memiliki cerita tersendiri. Apa arti kemerdekaan yang sebenarnya untuk seorang ibu rumah tangga seperti saya.

Jadi begini.

Saya ingin sedikit bercerita.

Katanya merdeka itu ketika kita bebas dari penjajahan. Ingatkan kita dengan kisah perjuangan para pahlawan yang telah berjuang dengan jiwa dan hartanya untuk kemerdekaan bangsa ini. Semua itu demi anak cucu penerus negeri ini agar bisa bebas di dalam negerinya sendiri. Bebas dari penjajahan bangsa lain. Bebas dari perbudakan di negerinya sendiri. Alhamdulillah pada 17 agustus 1945 terucaplah kalimat kemerdekaan itu yang diwakili oleh Bung Karno.

Setelah hari itu, negara kita bukanlah bebas begitu saja. Namun masih ada usaha dari para penjajah untuk mengembalikan Indonesia ke cengkeraman mereka. Ribuan nyawa masih harus berkorban hingga negara ini benar merdeka dan kemerdekaannya diakui oleh bangsa lain.

Hari ini, kita alhamdulillah bisa merasakan kemerdekaan. Setidaknya tidak ada lagi bunyi ledakan senjata dimana-mana. Namun benarkah kita sudah merdeka seutuhnya? Ini masih menjadi tanda tanya besar oleh sebagian besar orang.

Sebagai emak, saya sendiri akan merasa merdeka jika tidak lagi merasakan jiwa terjajah. Tak lagi merasa tidur tak nyenyak karena hutang. Atau merasa khawatir anak-anak akan di bully di luar. Atau merasa khawatir suami tak lagi mendapatkan nafkah untuk keluarga. Bebas beragama, bebas berpendapat, bebas berkarya, dan bebas mengambil keputusan apakah anak-anak akan dimasukkan ke sekolah atau HS sesuai keinginan mereka. (heheh... jadi sedikit melebar).

Inti dari merdeka adalah bebas. Negara merdeka. Ekonomi merdeka. Politik merdeka. Pendidikan merdeka. Agama merdeka. Semua lini kehidupan merdeka. Agar kehidupan negeri ini kembali ke tatanan yang seharusnya. Saya berharap negara ini akan merdeka dengan sebenar-benarnya merdeka.
Share:

Friday, August 9, 2019

Nikmat Senggang Yang Akan Dipertanggungjawabkan



Alhamdulillah. Selama kehamilan yang ke tiga ini, Allah memberikan nikmat waktu senggang yang melimpah. Saya dipastikan hampir off dari kebanyakan aktifitas yang dulu ku lakukan. Bahkan pekerjaan rumah yang harusnya menjadi tanggung jawabku kini diambil alih oleh suamiku.

Ini bukanlah pengalaman pertama hamil buatku. Namun kehamilan kali ini jelas terasa sangat berbeda. Jika dua kehamilan sebelumnya saya tidak mengalami morning sickness yang berarti, namun kali ini morning sicknessku tergolong berat. Saya merasakan tidak nyaman hampir di sepanjang hariku. Karena itu saya lebih banyak beristirahat dengan berbaring di kamar.

Dibalik kesulitan yang saya alami, Alhamdulillah, Allah mengalirkan rasa pengertian di hati suami dan anak-anakku. Mereka mengerti keadaanku dan sama sekali tidak ingin menyulitkan ku di kondisi yang seperti ini. Sebuah keberuntungan yang besar yang tidak semua orang bisa menikmatinya.

Namun, ada sebuah kelalaian yang akhirnya menemaniku. Akibat terlalu banyak bersantai akhirnya saya kebablasan hingga sekarang. Banyak waktu yang sia-sia hanya untuk bermain game atau menonton film yang tidak ada artinya sama sekali. Hingga banyak aktifitas berharga yang tersingkirkan seperti membaca buku, menulis, dan mengajarkan anak-anak mengenal huruf hijayyah. Bahkan banyak ibadah-ibadah sunnah yang terlalaikan. Astagfirullah.

Benarlah bahwa ujian itu bisa jadi dalam bentuk kesempitan ataupun kelapangan. Maka setiap waktu lapang yang membuat lalai akan dimantai pertanggung-jawaban di akhirat kelak. Astagfirullah 😭

Namun saya masih patut bersyukur karena Allah masih memberi kesempatan hidup. Bagaimana jika saya mati dalam keadaan lalai?? Sungguh amat merugilah kehidupan dunia ini. Dunia adalah tempat menabung kebaikan, bukan untul bersenang-senang. Karena dunia sementara sedang akhirat selamanya.


Self reminder.
Catatan seorang ibu.
Share:

Followers

Total Pageviews