Belajar, berbagi dan bercerita tentang apa saja

Showing posts with label writing project. Show all posts
Showing posts with label writing project. Show all posts

Monday, December 17, 2018

Bahagia Ketika Menulis


Saya seorang pembelajar tipe auditori. Salah satu ciri-cirinya kadang sangat akif berbicara kadang menjadi sangat pendiam. Salah satu sifat saya, entah berhubungan dengan tipe auditori atau tidak, saya tidak mudah bercerita atau curhat  kepada orang lain. Saya senang menyimpan isi hati saya sendiri. Saya hanya sedikit sekali berbagi dengan orang lain.

Orang dengan sifat seperti saya kadang merasa beban pikirannya terlalu berat sehingga berefek buruk pada kesehatan. Saya sendiri sering sekali merasa sakit kepala begitu hebat dan emosi yang tidak stabil akibat perasaan yang tidak tersalurkan. Oleh karena itu saya harus menemukan jalan agar perasaan saya bisa mengalir. Salah satu caranya adalah dengan menulis.



Pada suatu hari, ketika saya masih smp, untuk pertama kalinya saya mencoba menulis. Waktu itu saya sama sekali tidak memiliki satu pun pengetahuan tentang menulis. Saya hanya menulis saja. Saya menceritakan kejadian apa saja yang saya alami di sekolah hari itu pada buku tulis sekolah saya. Satu per satu kejadian yang saya alami dan bagaimana perasaan saya terhadap kejadian itu.

Tulisan pertama saya adalah tulisan tak sempurna namun berkesan selamanya. Hanya sebuah tulisan anak smp yang tak memiliki alur yang jelas. Tetapi dari sana saya menemukan sebuah jalan kecil yang begitu saya senangi.

Saya mulai rutin menulis. Namun hanya sebatas diary saja. Saya kadang-kadang membeli sebuah buku diary. Kadang juga saya hanya menulis pada selembar kertas lalu membuangnya. Saya bahkan masih menyimpan buku diary saya ketika kelas tiga sma sampai sekarang. Sesekali saya membacanya dan bernostalgia mengingat kejadian-kejadian masa lalu yang tertulis di dalamnya.

Menulis menjadi jalan untuk mengeluarkan isi hati saya yang tak bisa saya ucapkan dengan kata-kata. Saya mungkin akan sulit merangkai kata dengan lisan agar maksud saya sampai kepada lawan bicara namun saya akan bisa melakukannya lewat tulisan. Saya bisa menjadi cerewet dalam diam ketika menulis.

Bagi saya menulis bukanlah kegiatan yang  sederhana. Lebih dari itu menulis adalah mengukir cerita abadi melalui pena dan tinta. Menulis menjadi wasilah untuk berbicara tanpa suara dan berteriak tanpa keributan. Ketika air mata tak bisa saya tunjukkan di depan orang banyak maka saya mengeluarkannya lewat tulisan. Ketika penat tak lagi tertahankan maka saya menghibur diri dengan menulis.

Saya bebas ketika menulis. Saya mengukir kenangan ketika menulis. Saya merefresh diri ketika menulis. Saya mengobati diri ketika menulis. Saya berkarya ketika menulis. Lebih dari semua itu, saya akan terus menulis karena saya bahagia ketika menulis.



Share:

Saturday, December 15, 2018

Bersyukur Untuk Bahagia



Beberapa hari yang lalu saya dibuat tertarik dengan status whatsapp salah seorang keluarga jauh saya. Dia adalah seorang istri yang meninggalkan suaminya dan kini tengah menjalin hubungan dengan lelaki lain. Dia tengah mengurus perceraian dengan suaminya namun hingga kini suaminya tidak ingin menceraikannya. Di status whatsappnya itu dia menulis bahwa ia telah mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari lelaki yang tengah dekat dengannya. Dia mengatakan bahwa lelaki itu sama saja dengan suaminya.

Dari kisah wanita ini saya mendapatkan sebuah pelajaran berharga dalam kehidupan rumah tangga saya. Saya akan berbagi pelajaran ini kepada semua wanita yang kini berstatus sebagai istri agar ia memegang teguh tali ikatan pernikahannya sampai titik darah penghabisan. Sebuah tali yang telah mengikat wanita atas nama Allah. Sebuah perjanjian besar yang diucapkan suami kita pada saat ijab kabul dahulu.

Share:

Saturday, December 8, 2018

Fakta Media Sosial


Kita tengah memasuki sebuah zaman yang dipenuhi dengan kecanggihan teknologi. Muda, tua, kaya dan miskin saat ini akrab dengan internet. Hampir semua kalangan pun telah mengenal medsos dan memiliki akun minimal di satu media sosial.

Kehadiran media sosial di tengah kehidupan masyarakat tentu menjadi angin segar. Betapa tidak, kita masih ingat masa dulu ketika ingin bersilaturahim dengan keluarga yang jauh kita harus melakukan perjalanan yang panjang untuk bertemu atau hanya sekedar menanyakan kabar mereka. Atau minimal kita menggunakan jasa pos untuk saling berkirim surat dan berbagi kabar berita. Namun setelah adanya media sosial kita tak lagi melakukan itu. Bahkan kita cukup mengakses akun media sosial kita dan kita sudah bisa melihat seluruh isi dunia.

Kehadiran media sosial kini sudah sampai ke tengah-tengah keluarga Indonesia. Alhasil hampir setiap anggota keluarga pun telah memiliki akun di media sosial, mulai dari ayah, ibu dan bahkan anak-anak pun dengan bebas mengakses media sosial. Ditambah lagi dengan sebuah paham modernisme yang dianut oleh orang tua jaman now maka mereka tak segan lagi memberikan gadget kepada anak-anak mereka tanpa memperimbangkan usia dan juga manfaat apa.yang akan didapatkan dari gadget tersebut.

Media sosial memang dapat memberikan manfaat positif dalam kehidupan kita, misalnya kita bisa melihat dan berkomunikasi dengan keluarga dari manapun, atau kita bisa menemukan teman-teman lama kita, dan masih banyak lagi manfaat positif dalam berkomunikasi dengan orang lain. Hanya saja, di dalam media sosial tidak ada aturan yang jelas dan batasan dalam berkomunikasi sehingga lebih banyak dampak negatif yang dirasakan. Kita sudah sering menyaksikan berita di TV tentang beraneka macam kejahatan yang bermula dari media sosial. Dalam kehidupan keluarga sendiri tak jarang kita menyaksikan perpisahan antara suami dan istri disebabkan adanya perselingkuhan yang berawal dari pertemuan di media sosial. Akhir akhir ini justru kabar negatiflah yang sering terdengar dari media sosial dibandingkan dengan kabar positifnya. Lalu apa sebenarna yang terjadi? Tentu ini menjadi pertanyaan besar untuk kita semua.

Seperti yang kita ketahui segala fasilitas di dalam kehidupan kita selalu memiliki dua sisi manfaat. Bisa positif dan juga negatif. Tergantung dari manusia yang menggunakannya. Begitu pula dengan media sosial. Kehadirannya tentu sangat bernilai positif jika saja kita tahu cara memanfaatkannya. Oleh karena itu perlu diadakan sebuah program edukasi bermedia sosial yang bisa sampai menyentuh lapisan terkecil dalam masyarakat, yakni keluarga. Selain itu dari segi aturan bisa dibuat lebih jelas lagi, misalnya tidak bisa menambahkan pertemanan sembarang orang, sehingga hal ini  bisa meminimalisir dampak negatif bermedia sosial. Karena sejatinya media sosial dibuat untuk memudahkan komunikasi manusia,maka sudah seharusnya kita memanfaatkan media sosial sesuai dengan tujuan awalnya.


#OWOPMingguKe-1
#OWOPDesember2018
#RumbelMenulisSulsel

Share:

Followers

Total Pageviews