Alhamdulillah, aku sudah menjalani 10 hari tantangan kelas bunda sayang Institut Ibu Profesional. Beberapa hal sudah aku alami bersama kakak. Ada keberhasilan namun tak jarang kegagalan aku temui ketika berkomunikasi dengan kakak. Aku sangat bersyukur atas keberhasilan komunikasi yang terjalin antara aku dan kakak. Aku sangat senang ketika dia merasa nyaman berbicara denganku. Melihat matanya berbinar-binar menceritakan tentang hal yang sebenarnya sangat sepele bagiku, namun sangat besar artinya bagi dirinya.
Aku juga bersyukur atas kegagalan yang aku alami. Aku merasa, aku adalah manusia biasa. Kegagalan ini, alhamdulillah, semakin membuatku tersadar bahwa aku tidak akan menemui kesempurnaan. Namun bukan sempurna atau tidaknya sebuah komunikasi, yang terpenting aku sudah mencoba sebaik mungkin sesuai kemampuanku.
Berakhirnya tantangan 10 hari ini adalah awal bagi perubahanku di rumah. Berubah itu bukanlah dari setan menjadi malaikat. Namun bagiku berubah itu adalah sebuah langkah kecil ke depan yang membuat perbedaan. Jika kemarin aku marah sepuluh kali kepada anakku, dan hari ini aku mampu menahan satu amarahku dan hanya marah sembilan kali saja, maka bagiku itu adalah sebuah perubahan.
Hari ini aku pun melihat dan merasakan perubahan itu. Bukan sebuah perubahan besar karena awal hariku diwarnai dengan emosi yang meninggi karena kakak tidak mau segera memakan es krim yang sudah dibeli di neneknya. Aku mencoba membujuknya dan menjelaskan jika es krim itu tidak segera dimakan maka akan meleleh. Aku pun memberikannya opsi jika memang belum mau makan es krim sebaiknya simpan dulu di freezer agar nanti bisa dimakan ketika sudah ingin. Namun semua tawaranku di tolak. Hingga sampailah aku kepada puncak emosiku, aku mengambil secara paksa es krim itu dan....😂ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Yah seperti itulah aku memulainya. Sebuah tindakan yang akhirnya membuat penyesalan. Namun lihatlah makhluk kecil ini. Dia memiliki hati yang sangat baik. Setelah beberapa saat, dia mendekatiku kemudian menawarkan onde-onde yang tadi dibeli abahnya. Dia sangat tahu mamanya paling doyan makan onde-onde di pagi hari. Dan lihatlah betapa emosi masih menguasai diriku. Aku kembali mengacuhkan makhluk kecil berhati sangat baik ini. Ia kemudian perlahan meninggalkanku di dapur sendiri. Mungkin dia memintaku memikirkan kesalahanku.
Setelah aku memikirkannya, aku merasa pertarungan ini tidak akan pernah berhenti. Aku harus bertarung dengan diriku sendiri, dengan semua bekas bekas masa kecil yang masih terasa sakit, yang semuanya itu begitu memberi warna dalam proses pengasuhanku terhadap kedua putriku. Astagfirullah hal adzim. Aku harus bisa mengalahkannya, atau berdamai dengannya, agar masa lalu itu tidak terulang kepada putri-putriku.
Lalu sesaat kemudian, setelah semua urusan dapur selesai, kulihat dari kejauhan putri melihatku dengan tatapan sayu. Hatiku kemudian tergerak untuk memanggilnya. Aku ingin memeluknya dan meminta maaf padanya.
Ia kini sudah berada di pangkuanku. Matanya mulai berkaca-kaca. dan..
"Kakak, maafkan mama di nak. Mama tadi cuma mau kakak makan es krimnya atau simpan di kulkas kalau belum mau dimakan biar tidak meleleh nak."
lalu pecahlah tangisannya.....
Aku memeluknya erat dan aku memastikan dia mendapat pelukan terhangat dari mamanya. Pelukan penyesalan. Pelukan perlindungan. Pelukan kasih sayang. Ku biarkan ia menangis sepuasnya hingga mengalir segala perasaan yang tertinggal dihatinya. Segala kekecewaannya dan juga kemarahannya.
"Mauka pegang tadi es krimku" katanya terbata-bata.
Jadi sebenarnya kakak mau memegang es krimnya sebentar baru memakannya. Cuma mamanya sangat khawatir jika es krim itu akan meleleh dan nantinya tidak bisa dimakan akhirnya membuatnya jadi pendek akal untuk bisa membaca suasananya. Kesabaran, lagi lagi kesabaran yang kurang. Sedetik saja kesabaran itu hilang maka akan berbuah penyesalan selamanya.
Pagi ini anakku sudah mengajarkan banyak hal kepadaku. Semoga aku bisa membuat perubahan lebih lagi besoknya. Nak, mama masih belajar. Dan akan terus belajar. Insyaallah.
#Level1
#Day11
#KomunikasiProduktif
#KelasBundaSayang
#InstitutIbuProfesional






0 comments:
Post a Comment