Kita berada di era dimana kebebasan berpendapat sangat menonjol. Adanya media sosial yang beraneka ragam membuat kebebasan ini semakin tak terkendali. Bahkan ranah berbicara ini sudah sampai di luar batas.
Coba kita lihat, semua orang bebas berpendapat, bebas mendukung siapa saja, tapi juga bebas menghujat siapa saja. Kadang orang tak merasa, bahwa ia sebenarnya telah mengkritik secara tajam terhadap orang lain yang bahkan tak ia kenal sama sekali. Hal-hal buruk dengan cepat menjadi viral dan semua orang senang berkomentar.
Lihatlah sekarang ini, bahkan anak-anak kecil pun sudah pandai mengeluarkan kata-kata buruk, umpatan, bahasa binatang, semua karena kata-kata itu bebas di media sosial. Seseorang mengomentari orang lain tanpa sedikit pun empati. Tanpa sadar, dia telah merusak mental orang lain.
Kita harus melakukan sesuatu untuk memutus mata rantai keburukan ini. Dimulai dari diri kita sendiri. Yang harus dilakukan pertama kali adalah mengontrol apa yang ingin kita katakan. Pikirkanlah sebelum kata-kata itu keluar. Apakah dia baik? Apakah sudah pantas mengatakan itu ? Apakah orang lain takkan terluka dengan semua kata-kata itu? Apakah bermanfaat kata-kata itu?
Ada sebuah pepatah mengatakan berkatalah yang baik atau diam. Benarlah pepatah itu untuk diterapkan saat ini. Kita harus memikirkan apakah perkataan kita baik atau tidak. Perkataan baik adalah perkataan yang benar atau bermanfaat. Jika tidak bisa, maka diamlah. Tak perlu berkomentar, tak perlu sok menasehati, tak perlu menghujat.
Diam adalah senjata yang ampuh untuk mengendalikan kejahatan lisan. Diam membantu kita mengontrol emosi. Diam menandakan kecerdasan. Diam adalah emas.
Nasehat terakhit yang perlu kita renungkan adalah "kita memang tak bisa mengontrol apa yang orang lain katakan namun kita bisa mengontrol respon kita terhadap perkataan itu. Pun kita juga bisa mengontrol apa yang keluar dari mulut kita."






0 comments:
Post a Comment