Sharing Yuk.
Ini adalah pengalaman saya mengajarkan shalat wajib kepada anak pertama saya (Zahra) yang berusia 8 tahun. Sejak usia kecil sebenarnya Zahra sudah beberapa kali ikut shalat ketika saya sedang mengerjakan shalat. Pada usia 7 tahun, dimana Rasullah Saw. meminta kepada setiap orang tua untuk mengajarkan anaknya shalat, di usia itu Zahra sudah mulai sering ikut shalat. Namun belum sempurna 5 kali dalam sehari. Kadang cuma shalat magrib saja, atau shalat isya saja. Kalau siang jarang sekali ikut shalat. Apalagi untuk shalat subuh.
Nah, menginjak usia 8 tahun, saya sudah mulai gelisah. Saya sebenarnya kebingungan mana yang harus didahulukan dari perintah shalat itu sendiri. Apakah mempelajari bacaan dan gerakannya dulu. Ataukah yang penting anak mau mengerjakannya dulu sambil sedikit-sedikit mulai menghapal bacaannya. Jika harus menghapal bacaan dan gerakannya dulu, tentu akan memakan waktu lebih lama. Saya memutuskan untuk membiasakan Zahra mengerjakan shalat dulu sembari memintanya untuk menghapal sedikit demi sedikit bacaan shalat.
Sebelum saya meminta Zahra untuk melaksanakan shalat dalam kondisi yang serius, terlebih dulu saya memberi tahu dia kenapa kita harus shalat. Tentu pelajaran ini dimulai dari mengenal Allah. Saya menunjukkan bahwa kita ada di dunia ini karena Allah yang menciptakan. Semua rezeki kita, semua anggota badan kita, semua yang ada di atas langit dan di bumi , semua Allah yang ciptakan. Nah, yang menyuruh kita shalat itu adalah Allah. Saya juga memberi gambaran surga yang menanti bagi orang yang melaksanakan shalat dan neraka yang menanti orang yang meninggalkan shalat. Semua bahasan tentang Allah, Rasulullah, surga, neraka, muslimah, orang yang baik, orang yang buruk, tentang agama Islam, semua sudah mulai saya perkenalkan sejak Zahra pandai bicara. Jadi ini bukan hal baru di telinga Zahra.
Selanjutnya, pembicaraan saya teruskan dengan pertanyaan, " Nak Zahra sekarang sudah umur berapa?, dia kemudian menjawab 8 tahun. Terus saya tanya lagi, "masih kecil atau sudah besar?". tentu dia dengan semangat menjawab, sudah besar. Dia selalu menjadi orang besar karena posisinya sebagai kakak tertua dari dua adiknya. Lalu saya katakan , " sekarang Zahra sudah besar, sudah waktunya Zahra shalat seperti mama shalat."
Dia sedikit terkejut tapi dia sudah menolak. Mungkin di usianya sekarang, dia memang sudah mampu memikul tanggung-jawab untuk melaksanakan shalat 5 waktu. Karena itu tak pernah salah memberi tahu kita untuk menyuruh anak yang berusia 7 tahun shalat dan memukul mereka ketika usia 9 tahun belum shalat. Di usia inilah Zahra bisa memikul tanggung-jawab itu.
Tantangan pun dimulai. Mengajak Zahra shalat di waktu dhuhur, ashar, magrib dan isya bukanlah suatu masalah berat. Masalah terberatnya adalah shalat subuh. Kebiasan Zahra selama ini bangun pagi antara jam 6 dan jam 7. Bangun subuh adalah sesuatu yang diluar kebiasannya. Ditambah lagi bangun subuh untuk shalat subuh.
Hari pertama praktek sudah dipenuhi dengan drama. Zahra susah bangun dan marah-marah ketika dipaksa bangun. Hari ke 2 saya shalat subuh duluan dan saya baru membangunkan Zahra jam 5.30. Disini dia masih marah-marah. Hari ke 3 masih sama, bangun jam 5.30 dan shalat sendiri. Pas siang hari, dia bilang "Ma, saya tidak suka shalat subuh sendiri. Bangunkan saya seperti mama bangun subuh. Saya mau shalat subuh sama mama." Di hari ke 4 alhamdulillah sudah tidak ada lagi drama subuh.
Tantangan selanjutnya adalah ketika saya datang bulan. Otomatis saya tidak bisa melaksanakan shalat. Pada saat itu, Zahra juga tidak mau melaksanakan shalat. Saya hampir saja melemah melihat rengekannya. Tapi jika saya tidak tegas sekarang, nanti dia malah berpikir boleh tidak shalat semaunya. Saya pun pakai jurus rayuan maut. Apa itu ? janji manis dari Allah yaitu surga bagi orang-orang yang melaksanakan shalat.
Meski berat, Zahra pun tetap melaksanakan shalat. Jadi ketika Zahra shalat sendiri, saya duduk di sampingnya dan membacakan bacaan shalatnya. Saya sangat bersyukur karena Zahra itu kalau sudah dengar surga, bawaannya nurut. Alhamdulillah, semoga Allah jaga perasaan Zahra seperti itu selamanya.
Kebiasaan shalat ini mungkin akan sangat berat. Perlu setidaknya 40 hari agar anak terbiasa dengan habit baru mereka ini. Di 40 hari ini, orang tua tidak boleh lembek kepada anak, harus tega, karena tujuannya agama. Jika lembek anak pun akan lembek. Selain itu, shalat itu bukan cuma perintah kepada anak, karena itu disini orang tua harus menjadi teladan anak. Jadi ketika kita mengajak anak shalat, hal itu tidak berat mereka laksanakan. Semoga Allah mudahkan urusan kita.
Ini pengalaman saya, bagaiamana dengan bunda? yuk share di komentar.
#Shalat #anakbelajarshalat #shalat5waktu #shalatwajibanak