Akhir akhir ini saya sering membaca kisah tentang poligami. Saya cuma tidak bisa memastikan apakah kisah itu benar atau hanya hayalan penulis saja. Namun, intinya saya menikmati kisah yang dituturkan. Kenapa saya menikmatinya? Padahal di dalam kisah-kisah itu pasti ada wanita yang tersakiti. Bukankah itu pengkhianatan terhadap sesama wanita? Hmm.
Jika berbicara soal poligami memang tidak akan ada habisnya. Selalu ada yang pro dan kontra. Namun saya sendiri sebagai seorang muslimah, menerima dengan sangat ridho akan hukum Allah tentang poligami. Allah Maha Mengetahui, Allah pasti lebih mengetahui manfaat sebenarnya dari poligami. Tidak mungkin, seorang hamba yang fakir seperti saya berani menentang sesuatu yang yang telah diperbolehkan olehNya.
Poligami. Sebenarnya ada sesuatu yang indah disana. Sudah banyak orang yang berhasil menerapkannya. Saya membayangkan, bagaimana ramainya sebuah rumah dengan anak-anak karena ada empat ibu disana. Mereka bermain bersama, saling mengasihi dan menjaga. Selain itu, pekerjaan rumah pasti akan lebih ringan. Jika satu ibu saja bisa menjaga sebuah rumah, lalu bagaimana ringannya pekerjaan itu jika dikerjakan empat orang sekaligus.
Saya masih membayangkan ada empat wanita bercengkarama di ruang tengah sambil berbincang dan berbagi cerita layaknya seorang sahabat. Saya jadi ingat romansa dengan sahabat-sahabat masa sekolah dulu. Semua itu sangat indah. Bahkan mendidik anak-anak pun akan semakin mudah, karena kita bisa berbagi pikiran, beban dan penderitaan. Kita pun bisa saling menyemangati dalam belajar agama, memperbanyak hafalan qur'an dan muroja'ah bersama. Oh.. betapa indahnya semua itu.
Jadi, apakah saya siap dipoligami? Sebuah pertanyaan yang berat. Karena sampai hari ini pun saya masih belum bisa menerima jika suatu hari harus berbagi suami. Saya adalah tipe pencemburu, yang kadang dengan teman-teman suami pun saya cemburu. Jika suami sudah berlama-lama dengan temannya maka saya pun akan cemburu. Apalagi jika saya harus membayangkan suami saya akan berlama-lama dengan seorang wanita lain, saya tidak akan kuat. Saya hanya takut saya akan berbuat yang tidak-tidak karena kecemburuan saya. Maka mudhorotlah yang akan datang.
Saya sama sekali tidak menolak hukum bolehnya poligami. Saya yakin, begitu pula dengan wanita-wanita lain di luar sana yang belum siap dipoligami. Saya yakin mereka bukan menolak hukum Allah, namun mereka saja yang belum siap. Siapa yang tahu nanti Allah yang melapangkan dada kami untuk siap di poligami. Mana tahu.
Saya sangat bangga dengan ketulusan hati seorang wanita yang menerima poligami. Namun saya pun tak menyalahkan wanita yang belum siap dipoligami. Untuk para suami, sebaiknya anda memikirkan matang-matang sebuah keputusan untuk berpoligami. Karena sesungguhnya sesuatu yang besar menyimpan tanggung jawab yang besar. Anda yang paling tau diri anda. Anda yang mampu menilai apakah anda mampu mengambil tanggung jawab itu. Bukankah Allah subhanahu wa ta'ala sudah menyebutkan dalam firmanNya, jika engkau tak mampu maka cukup satu orang saja. Wallahu 'alam.

















