Belajar, berbagi dan bercerita tentang apa saja

Sunday, August 18, 2019

Katanya Merdeka

Sudah 74 tahun. Ya betul. 74 tahun bangsa ini merayakan kemerdekaannya. Alhamdulillah. Sebagai warga negara yang baik, tentu saja saya termasuk salah satu diantara sekian banyak orang yang merasakan kegembiraan di tanggal 17 agustus ini. Saya ingat dulu semasa sekolah. Saya selalu terlibat aktif dalam perayaan tujuh belasan. Baik itu mengikuti lomba gerak jalan, ataupun lomba-lomba lainnya.


Saat ini, setelah hidup di dalam kehidupan masyarakat yang sesungguhnya, ditambah pengalam hidup selama dua puluh delapan tahun, saya jadi memiliki cerita tersendiri. Apa arti kemerdekaan yang sebenarnya untuk seorang ibu rumah tangga seperti saya.

Jadi begini.

Saya ingin sedikit bercerita.

Katanya merdeka itu ketika kita bebas dari penjajahan. Ingatkan kita dengan kisah perjuangan para pahlawan yang telah berjuang dengan jiwa dan hartanya untuk kemerdekaan bangsa ini. Semua itu demi anak cucu penerus negeri ini agar bisa bebas di dalam negerinya sendiri. Bebas dari penjajahan bangsa lain. Bebas dari perbudakan di negerinya sendiri. Alhamdulillah pada 17 agustus 1945 terucaplah kalimat kemerdekaan itu yang diwakili oleh Bung Karno.

Setelah hari itu, negara kita bukanlah bebas begitu saja. Namun masih ada usaha dari para penjajah untuk mengembalikan Indonesia ke cengkeraman mereka. Ribuan nyawa masih harus berkorban hingga negara ini benar merdeka dan kemerdekaannya diakui oleh bangsa lain.

Hari ini, kita alhamdulillah bisa merasakan kemerdekaan. Setidaknya tidak ada lagi bunyi ledakan senjata dimana-mana. Namun benarkah kita sudah merdeka seutuhnya? Ini masih menjadi tanda tanya besar oleh sebagian besar orang.

Sebagai emak, saya sendiri akan merasa merdeka jika tidak lagi merasakan jiwa terjajah. Tak lagi merasa tidur tak nyenyak karena hutang. Atau merasa khawatir anak-anak akan di bully di luar. Atau merasa khawatir suami tak lagi mendapatkan nafkah untuk keluarga. Bebas beragama, bebas berpendapat, bebas berkarya, dan bebas mengambil keputusan apakah anak-anak akan dimasukkan ke sekolah atau HS sesuai keinginan mereka. (heheh... jadi sedikit melebar).

Inti dari merdeka adalah bebas. Negara merdeka. Ekonomi merdeka. Politik merdeka. Pendidikan merdeka. Agama merdeka. Semua lini kehidupan merdeka. Agar kehidupan negeri ini kembali ke tatanan yang seharusnya. Saya berharap negara ini akan merdeka dengan sebenar-benarnya merdeka.
Share:

Friday, August 9, 2019

Nikmat Senggang Yang Akan Dipertanggungjawabkan



Alhamdulillah. Selama kehamilan yang ke tiga ini, Allah memberikan nikmat waktu senggang yang melimpah. Saya dipastikan hampir off dari kebanyakan aktifitas yang dulu ku lakukan. Bahkan pekerjaan rumah yang harusnya menjadi tanggung jawabku kini diambil alih oleh suamiku.

Ini bukanlah pengalaman pertama hamil buatku. Namun kehamilan kali ini jelas terasa sangat berbeda. Jika dua kehamilan sebelumnya saya tidak mengalami morning sickness yang berarti, namun kali ini morning sicknessku tergolong berat. Saya merasakan tidak nyaman hampir di sepanjang hariku. Karena itu saya lebih banyak beristirahat dengan berbaring di kamar.

Dibalik kesulitan yang saya alami, Alhamdulillah, Allah mengalirkan rasa pengertian di hati suami dan anak-anakku. Mereka mengerti keadaanku dan sama sekali tidak ingin menyulitkan ku di kondisi yang seperti ini. Sebuah keberuntungan yang besar yang tidak semua orang bisa menikmatinya.

Namun, ada sebuah kelalaian yang akhirnya menemaniku. Akibat terlalu banyak bersantai akhirnya saya kebablasan hingga sekarang. Banyak waktu yang sia-sia hanya untuk bermain game atau menonton film yang tidak ada artinya sama sekali. Hingga banyak aktifitas berharga yang tersingkirkan seperti membaca buku, menulis, dan mengajarkan anak-anak mengenal huruf hijayyah. Bahkan banyak ibadah-ibadah sunnah yang terlalaikan. Astagfirullah.

Benarlah bahwa ujian itu bisa jadi dalam bentuk kesempitan ataupun kelapangan. Maka setiap waktu lapang yang membuat lalai akan dimantai pertanggung-jawaban di akhirat kelak. Astagfirullah 😭

Namun saya masih patut bersyukur karena Allah masih memberi kesempatan hidup. Bagaimana jika saya mati dalam keadaan lalai?? Sungguh amat merugilah kehidupan dunia ini. Dunia adalah tempat menabung kebaikan, bukan untul bersenang-senang. Karena dunia sementara sedang akhirat selamanya.


Self reminder.
Catatan seorang ibu.
Share:

Saturday, July 6, 2019

Indahnya Poligami



Akhir akhir ini saya sering membaca kisah tentang poligami. Saya cuma tidak bisa memastikan apakah kisah itu benar atau hanya hayalan penulis saja. Namun, intinya saya menikmati kisah yang dituturkan. Kenapa saya menikmatinya? Padahal di dalam kisah-kisah itu pasti ada wanita yang tersakiti. Bukankah itu pengkhianatan terhadap sesama wanita? Hmm.

Jika berbicara soal poligami memang tidak akan ada habisnya. Selalu ada yang pro dan kontra. Namun saya sendiri sebagai seorang muslimah, menerima dengan sangat ridho akan hukum Allah tentang poligami. Allah Maha Mengetahui, Allah pasti lebih mengetahui manfaat sebenarnya dari poligami. Tidak mungkin, seorang hamba yang fakir seperti saya berani menentang sesuatu yang yang telah diperbolehkan olehNya.

Poligami. Sebenarnya ada sesuatu yang indah disana. Sudah banyak orang yang berhasil menerapkannya. Saya membayangkan, bagaimana ramainya sebuah rumah dengan anak-anak karena ada empat ibu disana. Mereka bermain bersama, saling mengasihi dan menjaga. Selain itu, pekerjaan rumah pasti akan lebih ringan. Jika satu ibu saja bisa menjaga sebuah rumah, lalu bagaimana ringannya pekerjaan itu jika dikerjakan empat orang sekaligus.

Saya masih membayangkan ada empat wanita bercengkarama di ruang tengah sambil berbincang dan berbagi cerita layaknya seorang sahabat. Saya jadi ingat romansa dengan sahabat-sahabat masa sekolah dulu. Semua itu sangat indah. Bahkan mendidik anak-anak pun akan semakin mudah, karena kita bisa berbagi pikiran, beban dan penderitaan. Kita pun bisa saling menyemangati dalam belajar agama, memperbanyak hafalan qur'an dan muroja'ah bersama. Oh.. betapa indahnya semua itu.

Jadi, apakah saya siap dipoligami? Sebuah pertanyaan yang berat. Karena sampai hari ini pun saya masih belum bisa menerima jika suatu hari harus berbagi suami. Saya adalah tipe pencemburu, yang kadang dengan teman-teman suami pun saya cemburu. Jika suami sudah berlama-lama dengan temannya maka saya pun akan cemburu. Apalagi jika saya harus membayangkan suami saya akan berlama-lama dengan seorang wanita lain, saya tidak akan kuat. Saya hanya takut saya akan berbuat yang tidak-tidak karena kecemburuan saya. Maka mudhorotlah yang akan datang.

Saya sama sekali tidak menolak hukum bolehnya poligami. Saya yakin, begitu pula dengan wanita-wanita lain di luar sana yang belum siap dipoligami. Saya yakin mereka bukan menolak hukum Allah, namun mereka saja yang belum siap. Siapa yang tahu nanti Allah yang melapangkan dada kami untuk siap di poligami. Mana tahu.

Saya sangat bangga dengan ketulusan hati seorang wanita yang menerima poligami. Namun saya pun tak menyalahkan wanita yang belum siap dipoligami. Untuk para suami, sebaiknya anda memikirkan matang-matang sebuah keputusan untuk berpoligami. Karena sesungguhnya sesuatu yang besar menyimpan tanggung jawab yang besar. Anda yang paling tau diri anda. Anda yang mampu menilai apakah anda mampu mengambil tanggung jawab itu. Bukankah Allah subhanahu wa ta'ala sudah menyebutkan dalam firmanNya, jika engkau tak mampu maka cukup satu orang saja. Wallahu 'alam.
Share:

Thursday, July 4, 2019

Ketahui Makna Kebersihan Bagian dari Iman




Beberapa hari belakangan ini, sangat ramai diperdebatkan di sebuah grup menulis di facebook. Ada seorang member yang membuat tulisan tentang pengalamannya bertemu dengan seorang akhwat bercadar di sebuah angkutan umum yang (maaf) bau badan dan kaos kakinya juga baunya bikin mual. Terus si penulis menjadikan pengalaman tersebut untuk membahas arti penting sebuah kebersihan. Si penulis kemudian mengkaitkannya dengan perintah agama dimana kebersihan sebagian dari iman dan sebagainya. Cuma, kemudian hal itu menjadi sebuah perdebatan panjang yang tidak selesai sampai hari ini. Bahkan si penulis mendapatkan beberapa inbox berisi sumpah serapah sampai-sampai dia harus membuat postingan meminta maaf dan menghapus tulisan yang pertama.

Drama tidak berhenti sampai disitu. Beberapa saat kemudian muncul tulisan-tulisan baru yang mengomentari tulisan pertama. Ada yang setuju dan ada yang tidak setuju dengan apa yang disampaikan oleh si penulis yang pertama. Setiap tulisan baru yang muncul selalu dibanjiri komentar oleh para member. Dan saya pun sore ini ikutan gatal pingin berkomentar 😆😆

Kenapa tulisan di facebook itu mendapat tanggapan yang begitu luar biasa? karena yang dibahas adalah perempuan bercadar. Seakan-akan penulis ingin mengeneralisir bahwa semua perempuan bercadar dan pakai kaos kaki itu bau. Padahal menurut saya sendiri, dan si penulis pun sudah menjelaskan, bahwa tidak ada maksud untuk menyudutkan golongan tertentu. Justru yang menjadi titik permasalah adalah keabaian seseorang yang ditemui itu akan kebersihan sehingga menganggu orang lain. Mohon digaris bawahi lagi, masalahnya terletak pada keabaian akan kebersihan.

Kalau kita kembali pada penilaian secara lebih luas, coba kita lihat di negeri kita ini. Saya bicara fakta dulu ya. Indonesia ini berada di urutan ke berapa sih soal kebersihan? Ternyata Indonesia berada di urutan 134 dunia. Nah, artinya kebanyakan orang Indonesia memang tidak bersih. Tidak usah jauh-jauh deh. Lihat kiri kanan kita. Berapa banyak sih orang yang habis minum minuman kemasan yang kemudian membuang botol bekas minumannya itu ke tempat sampah? Ada tidak? Ada. Tapi sedikit. Satu diantara lima puluh orang.

Padahal, kita sudah akrab dengan kalimat "kebersihan sebagian dari iman". Apakah kalimat ini hanyalah sebuah kalimat tanpa makna?. Tentu tidak.

Saya ingin bercerita pengalaman saya sedikit. Dulu saya juga orangnya sedikit jorok. Habis makan sampah di buang sembarangan. Tidak peduli dengan keringat badan yang mengganggu orang lain. Kaos kaki sudah berhari-hari masih juga dipakai. Sepatu sekolah dicuci seminggu sekali. Sampai suatu hari saat saya ada di semester 2, saya mendapatkan hidayah dan mulai ikut kajian. Saya belajar banyak termasuk kebersihan. Musrifah (guru) saya mengatakan segala perbuatan kita dilihat oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Membuang sampah sembarangan adalah perbuatan yang tidak disukai karena dapat mengotori lingkungan. Nanti akan ada dampak lebih besar. Sehingga mulai saat itu, saya tidak lagi membuang sampah sembarangan. Setiap saya memiliki sampah dan tidak menemukan tempat untuk membuangnya, maka saya mengumpulkannya di dalam tas kemudian saya baru membuangnya ketika ada tempat sampah.

Berdasarkan dari pemahaman itu, dari dalil dalil tentang betapa Allah itu indah dan menyukai keindahan, tentang pola hidup sehat rasulullah, saya mulai mengubah kebiasaan hidup saya. Saya sempat terharu dengan kisah Rasulullah yang selalu tercium harum sepanjang hidupnya. Beliau senang dengan minyak wangi. Maka saya pun sebagai ummat yang begitu mencintai nabinya berusaha untuk mengikuti kebiasaan beliau. 

Lalu apakah sebenarnya makna kebersihan adalah bagian dari iman?

Berikut adalah hadist yang disampaikah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang kebersihan. Beliau bersabda "Agama Islam itu (agama) yang bersih, maka hendaklah kamu menjaga kebersihan, karena sesungguhnya tidak masuk surga kecuali orang-orang yang bersih. (HR. Baihaqi)"

Islam memang sangat menekankan akan kebersihan. Mau shalat, badan harus bersih dari najis, harus berwudhu, pakaian bersih, tempat shalat bersih. Bahkan tata cara untuk membersihkan diri semua dijelaskan di dalam Islam. Maka tak lengkaplah iman seseorang ketika ia kotor. Karena iman harus dibuktikan dengan ibadah. 


Oleh karena itu, sebagai muslim dan muslimah, kita adalah orang-orang terdepan yang harus selalu mencontohkan kebersihan. Bukan malah sebaliknya sehingga menjadi bahan kritikan orang lain. Melalui tulisan ini, saya tidak menyalahkan sedikitpun akhwat yang dimaksud oleh penulis di fb karena saya sendiri tidak mengetahui kondisi yang sebenarnya. Saya justru ingin mengajak kepada anda semua untuk mulai memperhatikan kebersihan diri dan lingkungan kita. Dimulai dari diri sendiri, maka hasilnya akan luar biasa. 
Share:

Tuesday, July 2, 2019

Sanggahan Terhadap Ide Pemuja Pernikahan


Tulisan ini adalah sanggahan atas pendapat seseorang yang terkenal karena plagiatismenya. Dia masih sangat muda dan senang menulis. Saya jadi ingat masa mudaku dulu dimana saya tidak sekalipun berpikir seperti dia. Mungkin karena kita berbeda zaman jadi cara berpikirnya beda. Ataukah karena ada faktor-faktor lain yang melatar belakangi, saya pun tidak tahu. Namun sebagai sesama perempuan, sebagai seorang perempuan yang juga menikah muda, saya ingin meluruskan kekeliruan besar dari cara berpikirnya.

Saya tidak mengerti, kenapa seseorang yang mendambakan hubungan halal dengan lawan jenis, sesorang yang tidak ingin terjerumus pada dosa pacaran dan lebih memilih menikah muda mendapat julukan yang tidak enak di dengar telinga. Pemuja pernikahan. Sebuah julukan dengan konotasi negatif. Padahal apa yang diinginkan adalah sebuah kemuliaan. Menggenapkan separuh dien adalah sunnah Rasulullah yang mulia. Lalu apa salahnya dengan itu?

Dulu kamu membandingkan wanita yang menjual dirinya dengan nilai 80 juta lebih mulia dibanding seorang istri yang mendapatkan uang bulanan dari suaminya yang tidak lebih dari 10 juta. Sungguh, kamu sangat salah menilai sebuah kemuliaan. Otakmu mungkin sudah dicuci dengan tumpukan harta duniawi sehingga kamu menjadikan materi sebagai landasan kemuliaan.

Kini, engkaupun mencaci pemuda pemudi yang menikah di usia muda. Memang, menikah itu butuh persiapan. Seseorang yang ingin menikah harus siap secara mental, fisik, dan ekonomi. Namun usia bukanlah patokan. Betapa banyak orang yang menikah di usia yang terbilang matang, tapi toh mereka tetap tertimpa masalah. Bahkan orang yang terbilang ekonominya cukup mapan, tetap saja pernikahannya tak bahagia. 

Namun, saya sudah menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, sekaligus sudah merasakan sendiri, bahwa menikah di usia yang sangat muda, saat tidak ada kemapanan ekonomi sedikitpun, namun kehidupan rumah tangga kami bahagia. Kami bisa hidup hingga sekarang. Bahkan rumah tangga kami, alhamdulillah, dikokohkan Allah karena kami memulai segalanya dari nol. Sedikit demi sedikit menapaki kesuksesan bersama-sama. Semua itu indah dan membahagiakan dan akan dikenang hingga hari tua. Lalu atas dasar apa kamu mengatakan kami pemuja pernikahan.

Wahai adik kecil, masa depan mu masih panjang. Kamu juga memiliki potensi yang baik. Sekarang kamu sudah terkenal. Kamu bisa memanfaatkan itu untuk meraup pahala sebanyak-banyaknya. Ingatlah, kehidupan dunia ini menipu. Hanya sementara. Tapi disana, akan ada pembalasan.\

Bertaubatlah. Kamu bisa mulai memperbaiki pola pikirmu. Kamu bisa mulai menulis hal-hal baik, membela agamamu, membangun bangsamu. Jangan justru merusak pola pikir teman-temanmu dengan pemikiran yang sangat rusak. Apakah kamu mau bertanggung jawab atas kerusakan moral teman-temanmu yang merasa jijik dengan pernikahan muda dan lebih senang berhubungan bebas tanpa ikatan karena terpengaruh dengan tulisanmu? Masih ada waktu. Semoga kamu membaca tulisan ini.


Share:

Monday, July 1, 2019

Pengalaman Ikut Pendaftaran CPNS 2014 dan 2018


Ini adalah pengalaman saya mengikuti seleksi CPNS di tahun 2014 dan juga tahun 2018. Kenapa saya mengikuti di dua tahun itu, karena saya tidak lulus di tahun 2014 dan saya mencoba lagi di tahun 2018, heheh.

1. Alasan Mengikuti Seleksi CPNS

Jadi, apakah yang membuat perempuan dengan jiwa bisnis sejak kecil ini tertarik dengan pekerjaan sebagai ASN? Semua itu tidak lepas dari cita-cita kecil saya ingin menjadi guru. Bahkan ketika kuliah pun saya masih mengambil jurusan pendidikan karena sudah bertekad ingin menjadi guru ketika lulus nanti. Namun, ternyata semua tidak seperti yang saya bayangkan. 

Setelah lulus, saya dihadapkan oleh banyak fakta. Sehingga saya pun kemudian mengesampingkan niat saya untuk menjadi seorang guru. Pertama, ketika lulus, saya sedang mengandung anak pertama. Jadi buat yang belum tahu saja, saya dan suami menikah saat kami masih duduk di semester V. Nah, karena sedang hamil, saya memutuskan untuk full time home sampai kelahiran si dede bayi. Tapi ternyata setelah si dede bayi lahir, saya malah tidak tega jika harus meninggalkan dia untuk bekerja. Karena itulah niat menjadi guru pun saya urungkan.

Fakta kedua yang tidak kalah meriausakan adalah tentang gaji honorer yang sangat rendah. Ini bukan soal pengabdian atau mata duitan, tapi faktanya gaji 300 ribu sebulan tidak akan cukup untuk kami. Lalu semakin urunglah niat saya menjadi seorang guru. Saya pun kemudian banting setir ke bisnis travel.

2. Pengalaman di Tahun 2014

Tibalah di tahun 2014 dimana saya mendengar kabar bahwa pendaftaran CPNS dibuka. Saya tidak melewatkan kesempatan ini karena kebetulan untuk jurusan saya terbuka 3 peluang. Sayangnya di kabupaten saya tidak dibuka pendaftarannya. Saya terpaksa harus mendaftar di kabupaten tetangga.

Untuk mengikuti semua tahapan seleksi pendafataran CPNS tidaklah mudah. Apalagi bagi seorang ibu dengan anak kecil. Saya terpaksa harus membawa anak saya ketika membawa berkas pendafatan ke kantor BKD kabupaten. Saya harus menempuh perjalanan sekitar 5 jam untuk sampai ke tempat itu. Disana, saya harus antri beberapa jam karena banyaknya pelamar yang akan memasukkan berkas.

Setelah lulus verifikasi berkas, saatnya saya mengikuti Seleksi Kompetensi Dasar. Saya kembali harus menempuh perjalanan sekitar 7 jam untuk sampai di lokasi. Saya bersyukur karena disana saya memiliki keluarga sehingga saya bisa menginap di rumahnya sambil menunggu waktu ujian. Esoknya saya menitipkan si dede bayi selama saya mengikuti ujian.

Namun, semua perjuangan itu belum membuahkan hasil sesuai yang saya inginkan. Meskipun saya lulus tes dengan nilai 324, nyatanya saya masih belum bisa lulus karena masih ada yang di atas dari saya. Intinya, tahun 2014 belum menjadi rezeki saya untuk menjadi PNS.

3. Pengalaman di Tahun 2018

Beberapa tahun berlalu. Saya tidak lagi mendengar pemerintah membuka pendafataran CPNS untuk jalur umum. Hingga pada suatu hari di tahun 2018 saya mendengar dari seorang teman kalau tahun ini pemerintah kembali membuka pendaftaran. Saya sebenarnya sudah tidak ingin mengikuti seleksi di tahun ini. Saya sudah terlanjur larut dalam bisnis travel dan tidak tertarik lagi untuk menjadi guru. 
Namun karena beberapa masukan dan pertimbangan tertentu akhirnya saya pun kembali berjuang di tahun ini, hehe.

Tahun ini , ada beberapa hal yang berbeda dari tahun 2014. Pertama, soal kuota formasi yang mengikuti unit kerja. Ini menjadi satu hal yang sangat saya sesalkan hingga hari ini. Saya kurang memahami kuota unit kerja ini sehingga saya sangat lelah mengikuti seleksi di tahun 2018 ini.

Jadi, sekarang ini, kelulusan mengikuti unit kerja yang dilamar, bukan lagi mengikuti kuota formasi. Misalnya formasi bahasa inggris di kabupaten A adalah 10 orang dengan 10 unit kerja. Jadi setiap satu unit kerja mendapat jatah 1 formasi. Jadi persaingan akan mengikuti formasi. Meskipun nilai kita tinggi dan lulus ujian, tapi formasi kita sudah ada yang lebih tinggi maka tetap saja tidak akan lulus.

Kenapa ini menjadi sebuah hal yang sangat saya sesali, karena saya harus menempuh perjalanan yang sangat jauh untuk sekedar mengambil kartu tes. Bahkan di luar nalar, saya pun harus antri hingga jam 10 malam sambil berdesak-desakan demi sebuah kartu. Ditambah lagi, untuk mengikuti tes, saya harus ke provinsi. Bolak-balik luwu makassar dalam waktu 2 hari. Sungguh melelahkan. Padahal saya bisa saja mengikuti seleksi di kabupatenku sendiri. Semua itu karena informasi yang tidak terlalu jelas akhirnya mempengaruhi semua.

Perbedaan kedua adalah tentang standar kelulusan yang semakin tinggi dimana untuk formasi guru sendiri harus mendapatkan nilai minimal 298 dengan syarat TIU 80, TWK 75 dan TKP 143. Sebenarnya standar nilai ini tidak terlalu tinggi jika soal-soalnya tidak membingungkan. Yang paling aneh adalah soal-soal TKP yang sangat aneh sehingga banyak sekali yang tidak lulus. Saking anehnya, nilai kelulusan tahun ini rata-rata dibawah 10%. Termasuk saya lah salah satunya yang tidak lulus karena kurang 3 angka di TKP. 

Ibroh yang saya rasakan dari dua pengalaman ini adalah sebaik apapun usaha kita berusaha namun Allah pulalah yang telah menentukan jalan rezeki kita. Setiap langkah akan menjadi pengalaman. Dan penagalaman adalah guru yang terbaik.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Share:

Sunday, June 30, 2019

Bagaimana Menjelaskan Perbedaan Pada Anak


Perbedaan adalah hal yang sudah menjadi sunnatullah. Baik itu perbedaan jenis kelamin, perbedaan warna kulit, Perbedaan suku, bahasa hingga agama. Sudah sewajarnya kita menerima semua perbedaan itu karena memang Allah lah yang telah menciptakannya sebagai sebuah seni kehidupan. Bayangkan saja jika di dunia ini semuanya sama, alangkah membosankannya hidup ini, datar dan sangat tidak menarik.

Kendati perbedaan adalah sebuah keniscayaan, namun seringkali terjadi berbagai macam konflik karena tak bisa menerima perbedaan itu. Tak jarang konflik itu sampai memakan korban harta dan jiwa. Sangat disayangkan sekali. Karena itulah, sudah seharusnya kita mulai belajar untuk menerima sebuah perbedaan tanpa harus ada konflik lagi. Kita pun perlu mengajarkan kepada anak-anak kita bagaimana menerima sebuah perbedaan.

Tiba-tiba saya teringat diskusi dengan kakak Zahra dan adik maryam kemarin sore. Jadi, kita sama-sama lagi nonton film bollywood. Terus disitu kan ada adegan dimana si pemeran wanita memakai pakaian khas india. Terus si kakak bilang, "Ma, itu keliatan pusarnya (baca: pocinya _ bahasa bugis)." Sejenak saya terdiam. Saya harus berhati-hati untuk menjelaskan hal ini kepada anak usia 5 tahun.

Lalu, saya pun berusaha untuk menjelaskannya sesuai kemampuan dan ilmu yang saya miliki sambil berharap Allah membukakan pintu pemahaman anak ini. Sesekali si adik pun ikut menimpali protes si kakak. Saya katakan kepada mereka bahwa orang-orang itu beda dengan kita. Mereka orang india yang beragama hindu. Sedangkan kita orang indonesia yang beragama islam. Di sana mereka boleh berpakaian seperti itu. Kalau kita tidak boleh, kita harus menutup aurat karena itulah pakaian terbaik kita.

Rupanya jawabanku memicu pertanyaan baru. Si kakak ini memang sering menanyakan pertanyaan kelas berat menurutku. Seperti misalnya, "Mak, kenapa manusia mati?" atau dulu juga pernah bertanya "Mak, ada kah baju princess di surga?". Ada beberapa pertanyaan kelas berat yang sudah pernah ditanyakannya, sayang saya sudah lupa sebagian. Kadang saya dan suami pake adegan lirik-lirik mata karena pertanyaannya si kakak ini, heheh.

Nah, pertanyaan selanjutnya "Mak, kalau ketemu ki sama dia (orang india itu) boleh tidak tutup aurat?". Jadi maksudnya kalau kita ketemu dengan orang yang berpakaian tidak sama dengan kita, maka kita boleh mengikuti cara berpakaian mereka supaya kita sama dengan mereka. Saya pun kembali menjawab sesuai kemampuanku. Saya coba jelaskan bahwa jika kita bertemu mereka, maka kita tetap berpakaian seperti biasa dan mereka pun tetap berpakaian seperti biasa. Kita memang beda, tapi boleh tetap bertemu.

Memang tidak mudah memberi pemahaman kepada seorang anak kecil yang akalnya belum sempurna. Namun dari kegiatan sehari-hari, kita bisa mengambil pelajaran. Terutama buat keluarga yang memilih homeschooling, aktifitas sehari-hari adalah bahan belajar. Ketika anak sudah mulai pandai bertanya, artinya rasa ingin tahunya sudah semakin besar. Inilah jalan bagi kita untuk menanamkan ilmu dan akhlak kepada anak-anak kita. Semoga saja harapan kita akan kesholihan anak-anak kita diwujudkan oleh Allah yang Maha Kuasa. Semoga anak-anak kita memahami indahnya perbedaan sehingga akan membantu kehidupan mereka kelak.


Share:

Followers

Total Pageviews