Belajar, berbagi dan bercerita tentang apa saja

Thursday, July 4, 2019

Ketahui Makna Kebersihan Bagian dari Iman




Beberapa hari belakangan ini, sangat ramai diperdebatkan di sebuah grup menulis di facebook. Ada seorang member yang membuat tulisan tentang pengalamannya bertemu dengan seorang akhwat bercadar di sebuah angkutan umum yang (maaf) bau badan dan kaos kakinya juga baunya bikin mual. Terus si penulis menjadikan pengalaman tersebut untuk membahas arti penting sebuah kebersihan. Si penulis kemudian mengkaitkannya dengan perintah agama dimana kebersihan sebagian dari iman dan sebagainya. Cuma, kemudian hal itu menjadi sebuah perdebatan panjang yang tidak selesai sampai hari ini. Bahkan si penulis mendapatkan beberapa inbox berisi sumpah serapah sampai-sampai dia harus membuat postingan meminta maaf dan menghapus tulisan yang pertama.

Drama tidak berhenti sampai disitu. Beberapa saat kemudian muncul tulisan-tulisan baru yang mengomentari tulisan pertama. Ada yang setuju dan ada yang tidak setuju dengan apa yang disampaikan oleh si penulis yang pertama. Setiap tulisan baru yang muncul selalu dibanjiri komentar oleh para member. Dan saya pun sore ini ikutan gatal pingin berkomentar 😆😆

Kenapa tulisan di facebook itu mendapat tanggapan yang begitu luar biasa? karena yang dibahas adalah perempuan bercadar. Seakan-akan penulis ingin mengeneralisir bahwa semua perempuan bercadar dan pakai kaos kaki itu bau. Padahal menurut saya sendiri, dan si penulis pun sudah menjelaskan, bahwa tidak ada maksud untuk menyudutkan golongan tertentu. Justru yang menjadi titik permasalah adalah keabaian seseorang yang ditemui itu akan kebersihan sehingga menganggu orang lain. Mohon digaris bawahi lagi, masalahnya terletak pada keabaian akan kebersihan.

Kalau kita kembali pada penilaian secara lebih luas, coba kita lihat di negeri kita ini. Saya bicara fakta dulu ya. Indonesia ini berada di urutan ke berapa sih soal kebersihan? Ternyata Indonesia berada di urutan 134 dunia. Nah, artinya kebanyakan orang Indonesia memang tidak bersih. Tidak usah jauh-jauh deh. Lihat kiri kanan kita. Berapa banyak sih orang yang habis minum minuman kemasan yang kemudian membuang botol bekas minumannya itu ke tempat sampah? Ada tidak? Ada. Tapi sedikit. Satu diantara lima puluh orang.

Padahal, kita sudah akrab dengan kalimat "kebersihan sebagian dari iman". Apakah kalimat ini hanyalah sebuah kalimat tanpa makna?. Tentu tidak.

Saya ingin bercerita pengalaman saya sedikit. Dulu saya juga orangnya sedikit jorok. Habis makan sampah di buang sembarangan. Tidak peduli dengan keringat badan yang mengganggu orang lain. Kaos kaki sudah berhari-hari masih juga dipakai. Sepatu sekolah dicuci seminggu sekali. Sampai suatu hari saat saya ada di semester 2, saya mendapatkan hidayah dan mulai ikut kajian. Saya belajar banyak termasuk kebersihan. Musrifah (guru) saya mengatakan segala perbuatan kita dilihat oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Membuang sampah sembarangan adalah perbuatan yang tidak disukai karena dapat mengotori lingkungan. Nanti akan ada dampak lebih besar. Sehingga mulai saat itu, saya tidak lagi membuang sampah sembarangan. Setiap saya memiliki sampah dan tidak menemukan tempat untuk membuangnya, maka saya mengumpulkannya di dalam tas kemudian saya baru membuangnya ketika ada tempat sampah.

Berdasarkan dari pemahaman itu, dari dalil dalil tentang betapa Allah itu indah dan menyukai keindahan, tentang pola hidup sehat rasulullah, saya mulai mengubah kebiasaan hidup saya. Saya sempat terharu dengan kisah Rasulullah yang selalu tercium harum sepanjang hidupnya. Beliau senang dengan minyak wangi. Maka saya pun sebagai ummat yang begitu mencintai nabinya berusaha untuk mengikuti kebiasaan beliau. 

Lalu apakah sebenarnya makna kebersihan adalah bagian dari iman?

Berikut adalah hadist yang disampaikah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang kebersihan. Beliau bersabda "Agama Islam itu (agama) yang bersih, maka hendaklah kamu menjaga kebersihan, karena sesungguhnya tidak masuk surga kecuali orang-orang yang bersih. (HR. Baihaqi)"

Islam memang sangat menekankan akan kebersihan. Mau shalat, badan harus bersih dari najis, harus berwudhu, pakaian bersih, tempat shalat bersih. Bahkan tata cara untuk membersihkan diri semua dijelaskan di dalam Islam. Maka tak lengkaplah iman seseorang ketika ia kotor. Karena iman harus dibuktikan dengan ibadah. 


Oleh karena itu, sebagai muslim dan muslimah, kita adalah orang-orang terdepan yang harus selalu mencontohkan kebersihan. Bukan malah sebaliknya sehingga menjadi bahan kritikan orang lain. Melalui tulisan ini, saya tidak menyalahkan sedikitpun akhwat yang dimaksud oleh penulis di fb karena saya sendiri tidak mengetahui kondisi yang sebenarnya. Saya justru ingin mengajak kepada anda semua untuk mulai memperhatikan kebersihan diri dan lingkungan kita. Dimulai dari diri sendiri, maka hasilnya akan luar biasa. 
Share:

Tuesday, July 2, 2019

Sanggahan Terhadap Ide Pemuja Pernikahan


Tulisan ini adalah sanggahan atas pendapat seseorang yang terkenal karena plagiatismenya. Dia masih sangat muda dan senang menulis. Saya jadi ingat masa mudaku dulu dimana saya tidak sekalipun berpikir seperti dia. Mungkin karena kita berbeda zaman jadi cara berpikirnya beda. Ataukah karena ada faktor-faktor lain yang melatar belakangi, saya pun tidak tahu. Namun sebagai sesama perempuan, sebagai seorang perempuan yang juga menikah muda, saya ingin meluruskan kekeliruan besar dari cara berpikirnya.

Saya tidak mengerti, kenapa seseorang yang mendambakan hubungan halal dengan lawan jenis, sesorang yang tidak ingin terjerumus pada dosa pacaran dan lebih memilih menikah muda mendapat julukan yang tidak enak di dengar telinga. Pemuja pernikahan. Sebuah julukan dengan konotasi negatif. Padahal apa yang diinginkan adalah sebuah kemuliaan. Menggenapkan separuh dien adalah sunnah Rasulullah yang mulia. Lalu apa salahnya dengan itu?

Dulu kamu membandingkan wanita yang menjual dirinya dengan nilai 80 juta lebih mulia dibanding seorang istri yang mendapatkan uang bulanan dari suaminya yang tidak lebih dari 10 juta. Sungguh, kamu sangat salah menilai sebuah kemuliaan. Otakmu mungkin sudah dicuci dengan tumpukan harta duniawi sehingga kamu menjadikan materi sebagai landasan kemuliaan.

Kini, engkaupun mencaci pemuda pemudi yang menikah di usia muda. Memang, menikah itu butuh persiapan. Seseorang yang ingin menikah harus siap secara mental, fisik, dan ekonomi. Namun usia bukanlah patokan. Betapa banyak orang yang menikah di usia yang terbilang matang, tapi toh mereka tetap tertimpa masalah. Bahkan orang yang terbilang ekonominya cukup mapan, tetap saja pernikahannya tak bahagia. 

Namun, saya sudah menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, sekaligus sudah merasakan sendiri, bahwa menikah di usia yang sangat muda, saat tidak ada kemapanan ekonomi sedikitpun, namun kehidupan rumah tangga kami bahagia. Kami bisa hidup hingga sekarang. Bahkan rumah tangga kami, alhamdulillah, dikokohkan Allah karena kami memulai segalanya dari nol. Sedikit demi sedikit menapaki kesuksesan bersama-sama. Semua itu indah dan membahagiakan dan akan dikenang hingga hari tua. Lalu atas dasar apa kamu mengatakan kami pemuja pernikahan.

Wahai adik kecil, masa depan mu masih panjang. Kamu juga memiliki potensi yang baik. Sekarang kamu sudah terkenal. Kamu bisa memanfaatkan itu untuk meraup pahala sebanyak-banyaknya. Ingatlah, kehidupan dunia ini menipu. Hanya sementara. Tapi disana, akan ada pembalasan.\

Bertaubatlah. Kamu bisa mulai memperbaiki pola pikirmu. Kamu bisa mulai menulis hal-hal baik, membela agamamu, membangun bangsamu. Jangan justru merusak pola pikir teman-temanmu dengan pemikiran yang sangat rusak. Apakah kamu mau bertanggung jawab atas kerusakan moral teman-temanmu yang merasa jijik dengan pernikahan muda dan lebih senang berhubungan bebas tanpa ikatan karena terpengaruh dengan tulisanmu? Masih ada waktu. Semoga kamu membaca tulisan ini.


Share:

Monday, July 1, 2019

Pengalaman Ikut Pendaftaran CPNS 2014 dan 2018


Ini adalah pengalaman saya mengikuti seleksi CPNS di tahun 2014 dan juga tahun 2018. Kenapa saya mengikuti di dua tahun itu, karena saya tidak lulus di tahun 2014 dan saya mencoba lagi di tahun 2018, heheh.

1. Alasan Mengikuti Seleksi CPNS

Jadi, apakah yang membuat perempuan dengan jiwa bisnis sejak kecil ini tertarik dengan pekerjaan sebagai ASN? Semua itu tidak lepas dari cita-cita kecil saya ingin menjadi guru. Bahkan ketika kuliah pun saya masih mengambil jurusan pendidikan karena sudah bertekad ingin menjadi guru ketika lulus nanti. Namun, ternyata semua tidak seperti yang saya bayangkan. 

Setelah lulus, saya dihadapkan oleh banyak fakta. Sehingga saya pun kemudian mengesampingkan niat saya untuk menjadi seorang guru. Pertama, ketika lulus, saya sedang mengandung anak pertama. Jadi buat yang belum tahu saja, saya dan suami menikah saat kami masih duduk di semester V. Nah, karena sedang hamil, saya memutuskan untuk full time home sampai kelahiran si dede bayi. Tapi ternyata setelah si dede bayi lahir, saya malah tidak tega jika harus meninggalkan dia untuk bekerja. Karena itulah niat menjadi guru pun saya urungkan.

Fakta kedua yang tidak kalah meriausakan adalah tentang gaji honorer yang sangat rendah. Ini bukan soal pengabdian atau mata duitan, tapi faktanya gaji 300 ribu sebulan tidak akan cukup untuk kami. Lalu semakin urunglah niat saya menjadi seorang guru. Saya pun kemudian banting setir ke bisnis travel.

2. Pengalaman di Tahun 2014

Tibalah di tahun 2014 dimana saya mendengar kabar bahwa pendaftaran CPNS dibuka. Saya tidak melewatkan kesempatan ini karena kebetulan untuk jurusan saya terbuka 3 peluang. Sayangnya di kabupaten saya tidak dibuka pendaftarannya. Saya terpaksa harus mendaftar di kabupaten tetangga.

Untuk mengikuti semua tahapan seleksi pendafataran CPNS tidaklah mudah. Apalagi bagi seorang ibu dengan anak kecil. Saya terpaksa harus membawa anak saya ketika membawa berkas pendafatan ke kantor BKD kabupaten. Saya harus menempuh perjalanan sekitar 5 jam untuk sampai ke tempat itu. Disana, saya harus antri beberapa jam karena banyaknya pelamar yang akan memasukkan berkas.

Setelah lulus verifikasi berkas, saatnya saya mengikuti Seleksi Kompetensi Dasar. Saya kembali harus menempuh perjalanan sekitar 7 jam untuk sampai di lokasi. Saya bersyukur karena disana saya memiliki keluarga sehingga saya bisa menginap di rumahnya sambil menunggu waktu ujian. Esoknya saya menitipkan si dede bayi selama saya mengikuti ujian.

Namun, semua perjuangan itu belum membuahkan hasil sesuai yang saya inginkan. Meskipun saya lulus tes dengan nilai 324, nyatanya saya masih belum bisa lulus karena masih ada yang di atas dari saya. Intinya, tahun 2014 belum menjadi rezeki saya untuk menjadi PNS.

3. Pengalaman di Tahun 2018

Beberapa tahun berlalu. Saya tidak lagi mendengar pemerintah membuka pendafataran CPNS untuk jalur umum. Hingga pada suatu hari di tahun 2018 saya mendengar dari seorang teman kalau tahun ini pemerintah kembali membuka pendaftaran. Saya sebenarnya sudah tidak ingin mengikuti seleksi di tahun ini. Saya sudah terlanjur larut dalam bisnis travel dan tidak tertarik lagi untuk menjadi guru. 
Namun karena beberapa masukan dan pertimbangan tertentu akhirnya saya pun kembali berjuang di tahun ini, hehe.

Tahun ini , ada beberapa hal yang berbeda dari tahun 2014. Pertama, soal kuota formasi yang mengikuti unit kerja. Ini menjadi satu hal yang sangat saya sesalkan hingga hari ini. Saya kurang memahami kuota unit kerja ini sehingga saya sangat lelah mengikuti seleksi di tahun 2018 ini.

Jadi, sekarang ini, kelulusan mengikuti unit kerja yang dilamar, bukan lagi mengikuti kuota formasi. Misalnya formasi bahasa inggris di kabupaten A adalah 10 orang dengan 10 unit kerja. Jadi setiap satu unit kerja mendapat jatah 1 formasi. Jadi persaingan akan mengikuti formasi. Meskipun nilai kita tinggi dan lulus ujian, tapi formasi kita sudah ada yang lebih tinggi maka tetap saja tidak akan lulus.

Kenapa ini menjadi sebuah hal yang sangat saya sesali, karena saya harus menempuh perjalanan yang sangat jauh untuk sekedar mengambil kartu tes. Bahkan di luar nalar, saya pun harus antri hingga jam 10 malam sambil berdesak-desakan demi sebuah kartu. Ditambah lagi, untuk mengikuti tes, saya harus ke provinsi. Bolak-balik luwu makassar dalam waktu 2 hari. Sungguh melelahkan. Padahal saya bisa saja mengikuti seleksi di kabupatenku sendiri. Semua itu karena informasi yang tidak terlalu jelas akhirnya mempengaruhi semua.

Perbedaan kedua adalah tentang standar kelulusan yang semakin tinggi dimana untuk formasi guru sendiri harus mendapatkan nilai minimal 298 dengan syarat TIU 80, TWK 75 dan TKP 143. Sebenarnya standar nilai ini tidak terlalu tinggi jika soal-soalnya tidak membingungkan. Yang paling aneh adalah soal-soal TKP yang sangat aneh sehingga banyak sekali yang tidak lulus. Saking anehnya, nilai kelulusan tahun ini rata-rata dibawah 10%. Termasuk saya lah salah satunya yang tidak lulus karena kurang 3 angka di TKP. 

Ibroh yang saya rasakan dari dua pengalaman ini adalah sebaik apapun usaha kita berusaha namun Allah pulalah yang telah menentukan jalan rezeki kita. Setiap langkah akan menjadi pengalaman. Dan penagalaman adalah guru yang terbaik.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Share:

Sunday, June 30, 2019

Bagaimana Menjelaskan Perbedaan Pada Anak


Perbedaan adalah hal yang sudah menjadi sunnatullah. Baik itu perbedaan jenis kelamin, perbedaan warna kulit, Perbedaan suku, bahasa hingga agama. Sudah sewajarnya kita menerima semua perbedaan itu karena memang Allah lah yang telah menciptakannya sebagai sebuah seni kehidupan. Bayangkan saja jika di dunia ini semuanya sama, alangkah membosankannya hidup ini, datar dan sangat tidak menarik.

Kendati perbedaan adalah sebuah keniscayaan, namun seringkali terjadi berbagai macam konflik karena tak bisa menerima perbedaan itu. Tak jarang konflik itu sampai memakan korban harta dan jiwa. Sangat disayangkan sekali. Karena itulah, sudah seharusnya kita mulai belajar untuk menerima sebuah perbedaan tanpa harus ada konflik lagi. Kita pun perlu mengajarkan kepada anak-anak kita bagaimana menerima sebuah perbedaan.

Tiba-tiba saya teringat diskusi dengan kakak Zahra dan adik maryam kemarin sore. Jadi, kita sama-sama lagi nonton film bollywood. Terus disitu kan ada adegan dimana si pemeran wanita memakai pakaian khas india. Terus si kakak bilang, "Ma, itu keliatan pusarnya (baca: pocinya _ bahasa bugis)." Sejenak saya terdiam. Saya harus berhati-hati untuk menjelaskan hal ini kepada anak usia 5 tahun.

Lalu, saya pun berusaha untuk menjelaskannya sesuai kemampuan dan ilmu yang saya miliki sambil berharap Allah membukakan pintu pemahaman anak ini. Sesekali si adik pun ikut menimpali protes si kakak. Saya katakan kepada mereka bahwa orang-orang itu beda dengan kita. Mereka orang india yang beragama hindu. Sedangkan kita orang indonesia yang beragama islam. Di sana mereka boleh berpakaian seperti itu. Kalau kita tidak boleh, kita harus menutup aurat karena itulah pakaian terbaik kita.

Rupanya jawabanku memicu pertanyaan baru. Si kakak ini memang sering menanyakan pertanyaan kelas berat menurutku. Seperti misalnya, "Mak, kenapa manusia mati?" atau dulu juga pernah bertanya "Mak, ada kah baju princess di surga?". Ada beberapa pertanyaan kelas berat yang sudah pernah ditanyakannya, sayang saya sudah lupa sebagian. Kadang saya dan suami pake adegan lirik-lirik mata karena pertanyaannya si kakak ini, heheh.

Nah, pertanyaan selanjutnya "Mak, kalau ketemu ki sama dia (orang india itu) boleh tidak tutup aurat?". Jadi maksudnya kalau kita ketemu dengan orang yang berpakaian tidak sama dengan kita, maka kita boleh mengikuti cara berpakaian mereka supaya kita sama dengan mereka. Saya pun kembali menjawab sesuai kemampuanku. Saya coba jelaskan bahwa jika kita bertemu mereka, maka kita tetap berpakaian seperti biasa dan mereka pun tetap berpakaian seperti biasa. Kita memang beda, tapi boleh tetap bertemu.

Memang tidak mudah memberi pemahaman kepada seorang anak kecil yang akalnya belum sempurna. Namun dari kegiatan sehari-hari, kita bisa mengambil pelajaran. Terutama buat keluarga yang memilih homeschooling, aktifitas sehari-hari adalah bahan belajar. Ketika anak sudah mulai pandai bertanya, artinya rasa ingin tahunya sudah semakin besar. Inilah jalan bagi kita untuk menanamkan ilmu dan akhlak kepada anak-anak kita. Semoga saja harapan kita akan kesholihan anak-anak kita diwujudkan oleh Allah yang Maha Kuasa. Semoga anak-anak kita memahami indahnya perbedaan sehingga akan membantu kehidupan mereka kelak.


Share:

Thursday, June 27, 2019

Membangun Bisnis Travel Online oleh Ibu Rumah Tangga



Menjadi ibu adalah sebuah kemuliaan terbesar yang diamanahkan kepada seorang wanita. Tidak semua wanita dapat merasakan kenikmatan tersebut. Karena itu, sebagai sebuah kesyukuran maka sudah sepatutnya seorang ibu menjalankan perannya dengan maksimal. Salah satunya adalah menjadi full time mom atau ibu rumah tangga.

Ketika seorang ibu memilih untuk tinggal di dalam rumah, mengabaikan semua gelar yang telah ia dapatkan kemudian ia menahan diri dari keluar rumah untuk bekerja, fokus mengurus anak-anak di rumah, fokus pada pendidikan anak di rumah, maka sejatinya ia telah kembali kepada fitrahnya sebagai seorang wanita. Tidak mudah mengambil keputusan itu di tengah zaman yang membebaskan wanitanya keluar untuk bekerja. Bahkan keputusan itu seringkali di pandang sebelah mata. Ibu rumah tangga di anggap wanita biasa yang tidak mampu apa-apa. Padahal kenyataan yang ada sebaliknya.

Selagi menjalankan kewajibannya sebagai ibu, kadang terbersit keinginan untuk memiliki penghasilan sendiri. Akhir-akhir ini, telah marak berkembang, ibu rumah tangga yang tetap di rumah namun bisa mendapatkan penghasilan. Semua itu tidak lepas dari perkembangan teknologi yang pesat. Sehingga kini dikenal perdagangan online.

Peluang ini rupanya tidak lepas dari perhatian para ibu rumah tangga. Mereka berbondong-bondong menggeluti bisnis online dari rumah. Banyak yang sudah menuai sukses. Banyak yang masih terus berjuang. dan banyak yang baru saja tertarik untuk terjun ke dunia bisnis online ini. Mungkin anda salah satunya yang mulai melirik bisnis online dari rumah.

Mengapa bisnis online sangat cocok untuk ibu rumah tangga? karena banyak sekali benefitnya. salah satunya waktu yang fleksibel sehingga bisa disesuaikan dengan aktifitas di rumah. "Kerjaan rumah tetap jalan, kantong pun tebal" begitulah yang biasa dikatakan oleh IRT pelaku bisnis online.

Nah, bagi anda para ibu yang baru saja tertarik dengan bisnis online, mungkin anda kebingungan bisnis apa kira-kira yang cocok untuk anda. Jika begitu, bisa jadi bisnis travel online lah yang cocok anda jalankan saat ini.

Ada beberapa alasan mengapa bisnis travel online cocok dijalankan oleh ibu rumah tangga.

1. Modal kecil

Modal selalu menjadi kendala bagi orang yang ingin memulai bisnis. Rasanya bisnis tanpa modal sangat sulit untuk dijalankan. Terlebih bagi ibu rumah tangga. Karena itu bisnis travel adalah solusinya. ibu rumah tangga hanya membutuhkan modal yang terbilang kecil untuk memulainya. Bahkan anda bisa mengumpulkan uang jajan dari suami untuk memulai bisnis ini.

Lalu, berapakah kira-kira modal yang dibutuhkan untuk memulai bisnis travel online?
Begini kira-kira rinciannya. Anda memerlukan koneksi internet, dana sekitar 50 ribu hingga 250 ribu untuk membeli franchise software travel, nomer rekening aktif. Jika anda sudah memilikinya maka bisnis anda sudah bisa dijalankan.

2. Tidak Membutuhkan Kantor

Jangan anda berpikir bahwa membuka usaha travel membutuhkan kantor untuk pemasaran. Itu sudah tidak jaman lagi. Kini, kamar anda pun bisa menjadi kantor asalkan anda memiliki koneksi internet. Saya berani mengatakan ini karena saya sendiri adalah pelaku bisnis ini. Karena itu bisnis ini sangat cocok anda kerjakan di rumah. Anda tetap bisa jualan sambil momong anak.

3. Tidak memerlukan Karyawan

Sebuah bisnis membutuhkan karyawan agar bisa maksimal dalam melayani pelanggan. Namun sebagai pemula dalam bisnis, anda sama sekali tidak memerlukan karyawan untuk menjalankan bisnis ini. 

4. Tidak perlu bayar iklan

Anda tinggal memanfaatkan semua media sosial anda dan juga koneksi yang anda miliki untuk mengiklankan bisnis anda. Justru iklan dari mulut ke mulut hasilnya lebih efektif. Ketika satu pelanggan anda puas bertransaksi dengan anda, maka ia dengan sendirinya akan mempromosikan travel anda kepada orang lain secara gratis. Alhasil, anda tidak menunggu saja rekening anda gendut seiring berjalannya bisnis anda.

Sebuah kebanggan tersendiri bukan ketika kita bisa membeli apa-apa yang kita inginkan tanpa harus meminta dari suami. Semoga informasi ini bermanfaat untuk anda
Share:

Wednesday, June 26, 2019

Cara Membangun Komunikasi dengan Anak Sejak Dini


Anak adalah aset dunia akhirat. Di dunia mereka bisa menjadi kebanggaan. Di akhirat mereka bisa dijadikan penolong. Sehingga perhatian kepada pendidikan anak sebaiknya menjadi fokus orang tua, baik ayah maupun ibu. Karena pendidikan anak takkan berhasil jika kedua peran tersebut kosong di salah satunya.

Banyak hal dari pendidikan anak yang perlu menjadi tanggung jawab orang tua dirumah. Terutama di masa-masa awal kehidupan seorang anak hingga usia mereka mampu untuk dilepas ke luar rumah. Salah satunya adalah membangun komunikasi dengan anak.

Komunikasi menjadi kunci pembuka untuk pendidikan anak selanjunya. Sehingga komunikasi terjadi dua arah, bukan hanya perintah dan larangan seperti yang kebanyakan terjadi selama ini. Anak-anak dilatih untuk menyampaikan pendapatnya. Selanjutnya kebijakan orangtua lah untuk menerima pendapat itu atau menolaknya. Yang terpenting, anak-anak bisa mengkomunikasikan keinginan dan perasaan mereka. Sehingga tak ada lagi perasaan terpendam yang kemudian hari akan menjadi penyebab anak-anak tantrum.

Saya akan berbagi cara membangun komunikasi dengan anak sejak dini berdasarkan pengalaman saya dan anak-anak di rumah. Mungkin cara ini tidak akan membuahkan hasil dalam waktu singkat. Namun, tidak ada salahnya anda mulai mencobanya dari sekarang. Tanpa anda coba, anda tidak akan tahu hasilnya.

1. Bersikap Jujur

Kejujuran adalah modal utama bagi terbangunnya komunikasi yang baik. Entah itu dalam hubungan dengan orang dewasa, maupun dengan anak-anak, kejujuran tetap menjadi yang terpenting. Coba anda ingat lagi, pernahkah anda ingin pergi ke pasar lalu anak rewel, nangis minta ikut, kemudian anda mengatakan "Jangan nangis ya sayang, mama keluar sebentar" lalu anda baru kembali dari pasar setelah sejam lebih. Ini adalah pondasi awal yang sangat rentan. Karena kadang orang tua berbohong tanpa disadarinya. Tapi, bagi anak, ini adalah memori yang akan tertanam kuat.

Jika anda melakukan ini secara terus menerus, jangan kaget jika nantinya anda akan mendapati anak anda mengatakan dia habis makan kue, padahal ia makan gula-gula secara sembunyi-sembunyi di kamar karena tahu anda akan melarangnya memakan gula-gula itu.

Jadi, mulailah bersikap jujur kepada anak-anak anda sejak dini. 

2. Respon Positif Pembicaraan dengan Anak

Tabiat anak-anak adalah senang bercerita dengan kedua orang tuanya. Bagi mereka, orang tua sudah seperti idola dalam kehidupan mereka. Apapun tentang orang tuanya selalu menarik. Setiap hal kecil pun akan memicu antusiasme mereka untuk menceritakan hal itu kepada orangtuanya.

Namun, mengapa kemudian ada anak-anak yang menjadi sangat aktif bercerita dengan teman-temannya, tapi sangat pendiam dengan orang tuanya? Mungkin saja selama ini orangtua telah melakukan kesalahan dalam merespon cerita anak-anaknya.

Coba diingat kembali, apakah anda pernah merasa sangat malas merespon pembicaraan anak? atau justru anda meresponnya negatif, misalnya dengan memarahinya dan menghardiknya? Atau anda berpura-pura mendengarkannya, namun mata dan hati anda tertuju pada smartphone yang sedang ada di genggaman anda?

Semua hal itu akan menurunkan antusiasme anak-anak anda. Parahnya, anda akan sangat menyesalinya ketika mereka telah dewasa dan anda sama sekali tidak bisa lagi bercerita kepada mereka dengan alasan mereka sibuk atau yang lainnya.

Oleh karena itu marilah kita perbaiki komunikasi dengan anak-anak kita. Masih ada waktu sebelum mereka dewasa. Mari kita minta maaf kepada anak-anak kita atas kesalahan-kesalahan kita yang begitu banyak dalam pengasuhan. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita anak-anak sholeh yang menjadi aset dunia akhirat kita.


Share:

Tuesday, June 25, 2019

Adab Bertamu : Masuk dalam Keadaan Buta dan Keluar dalam Keadaan Bisu



Manusia adalah makhluk sosial. Salah satu ciri makhluk sosial adalah saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Tanpa adanya interaksi dengan orang lain, manusia tidak akan mampu bertahan hidup. Oleh karena itu, setiap individu harus memperhatikan posisinya masing-masing di dalam interaksi ini.

Salah satu yang menjadi kebiasaan kita sehari-hari adalah bertamu ke rumah orang lain. Entah hal itu sering dilakukan, misalnya bertamu ke rumah tetangga karena ada keperluan, atau bertamu ke rumah kerabat dekat. Atau pun juga bertamu yang dilakukan dalam jangka waktu yang agak lama misalnya mengunjungi keluarga saat mudik lebaran atau bertamu ke rumah teman lama. Semua itu pasti akan kita jumpai dalam masa kehidupan kita.

Fakta yang terjadi selama ini adalah ketika bertamu ke rumah orang lain ada adab yang terlupakan. Alhasil, bertamu yang harusnya mendatangkan manfaat bagi yang berkunjung maupun yang dikunjungi justru yang terjadi malah mudhorot yang didapatkan. Salah satu kebiasaan buruk yang terjadi selama ini adalah bergosip tentang orang yang dikunjungi, baik mengenai rumah, keluarga, makanan, atau apapun yang mengenai si tuan rumah.

Mulai sekarang kita harus mengubah kebiasaan buruk bergosip usai bertamu. Ada dua adab utama yang perlu ditekankan kepada diri sendiri, juga perlu diajarkan kepada anak-anak sejak dini, mengenai bertamu ke rumah orang lain.

Pertama, masuk dalam keadaan buta. Maksudnya adalah ketika masuk ke dalam rumah orang lain maka tutuplah mata kita dari memperhatikan seisi rumah si tuannya. Sampaikanlah hajat bertamu seperlunya lalu segeralah pulang setelah hajat kita selesai. Dengan begitu, tak ada lagi celah yang akan dijadikan bahan untuk bergosip.

Kedua, Keluarlah dalam keadaan bisu. Layaknya orang yang bisu, kita menjadi orang yang tak mampu berbicara tentang apa-apa yang terjadi di rumah orang yang kita kunjungi. Apapun yang lolos dari pandangan kita di rumah orang lain tak boleh lolos dari lisan kita untuk menggosipkannya.

Ketika adab telah menghiasi setiap tingkah laku kita maka berkah akan hadir dalam setiap interaksi yang kita lakukan dengan orang lain. Marilah kita memulai dengan adab untuk setiap aktifitas yang kita lakukan.


Share:

Followers

Total Pageviews