Beberapa hari belakangan ini, sangat ramai diperdebatkan di sebuah grup menulis di facebook. Ada seorang member yang membuat tulisan tentang pengalamannya bertemu dengan seorang akhwat bercadar di sebuah angkutan umum yang (maaf) bau badan dan kaos kakinya juga baunya bikin mual. Terus si penulis menjadikan pengalaman tersebut untuk membahas arti penting sebuah kebersihan. Si penulis kemudian mengkaitkannya dengan perintah agama dimana kebersihan sebagian dari iman dan sebagainya. Cuma, kemudian hal itu menjadi sebuah perdebatan panjang yang tidak selesai sampai hari ini. Bahkan si penulis mendapatkan beberapa inbox berisi sumpah serapah sampai-sampai dia harus membuat postingan meminta maaf dan menghapus tulisan yang pertama.
Drama tidak berhenti sampai disitu. Beberapa saat kemudian muncul tulisan-tulisan baru yang mengomentari tulisan pertama. Ada yang setuju dan ada yang tidak setuju dengan apa yang disampaikan oleh si penulis yang pertama. Setiap tulisan baru yang muncul selalu dibanjiri komentar oleh para member. Dan saya pun sore ini ikutan gatal pingin berkomentar 😆😆
Kenapa tulisan di facebook itu mendapat tanggapan yang begitu luar biasa? karena yang dibahas adalah perempuan bercadar. Seakan-akan penulis ingin mengeneralisir bahwa semua perempuan bercadar dan pakai kaos kaki itu bau. Padahal menurut saya sendiri, dan si penulis pun sudah menjelaskan, bahwa tidak ada maksud untuk menyudutkan golongan tertentu. Justru yang menjadi titik permasalah adalah keabaian seseorang yang ditemui itu akan kebersihan sehingga menganggu orang lain. Mohon digaris bawahi lagi, masalahnya terletak pada keabaian akan kebersihan.
Kalau kita kembali pada penilaian secara lebih luas, coba kita lihat di negeri kita ini. Saya bicara fakta dulu ya. Indonesia ini berada di urutan ke berapa sih soal kebersihan? Ternyata Indonesia berada di urutan 134 dunia. Nah, artinya kebanyakan orang Indonesia memang tidak bersih. Tidak usah jauh-jauh deh. Lihat kiri kanan kita. Berapa banyak sih orang yang habis minum minuman kemasan yang kemudian membuang botol bekas minumannya itu ke tempat sampah? Ada tidak? Ada. Tapi sedikit. Satu diantara lima puluh orang.
Padahal, kita sudah akrab dengan kalimat "kebersihan sebagian dari iman". Apakah kalimat ini hanyalah sebuah kalimat tanpa makna?. Tentu tidak.
Saya ingin bercerita pengalaman saya sedikit. Dulu saya juga orangnya sedikit jorok. Habis makan sampah di buang sembarangan. Tidak peduli dengan keringat badan yang mengganggu orang lain. Kaos kaki sudah berhari-hari masih juga dipakai. Sepatu sekolah dicuci seminggu sekali. Sampai suatu hari saat saya ada di semester 2, saya mendapatkan hidayah dan mulai ikut kajian. Saya belajar banyak termasuk kebersihan. Musrifah (guru) saya mengatakan segala perbuatan kita dilihat oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Membuang sampah sembarangan adalah perbuatan yang tidak disukai karena dapat mengotori lingkungan. Nanti akan ada dampak lebih besar. Sehingga mulai saat itu, saya tidak lagi membuang sampah sembarangan. Setiap saya memiliki sampah dan tidak menemukan tempat untuk membuangnya, maka saya mengumpulkannya di dalam tas kemudian saya baru membuangnya ketika ada tempat sampah.
Berdasarkan dari pemahaman itu, dari dalil dalil tentang betapa Allah itu indah dan menyukai keindahan, tentang pola hidup sehat rasulullah, saya mulai mengubah kebiasaan hidup saya. Saya sempat terharu dengan kisah Rasulullah yang selalu tercium harum sepanjang hidupnya. Beliau senang dengan minyak wangi. Maka saya pun sebagai ummat yang begitu mencintai nabinya berusaha untuk mengikuti kebiasaan beliau.
Lalu apakah sebenarnya makna kebersihan adalah bagian dari iman?
Berikut adalah hadist yang disampaikah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang kebersihan. Beliau bersabda "Agama Islam itu (agama) yang bersih, maka hendaklah kamu menjaga kebersihan, karena sesungguhnya tidak masuk surga kecuali orang-orang yang bersih. (HR. Baihaqi)"
Islam memang sangat menekankan akan kebersihan. Mau shalat, badan harus bersih dari najis, harus berwudhu, pakaian bersih, tempat shalat bersih. Bahkan tata cara untuk membersihkan diri semua dijelaskan di dalam Islam. Maka tak lengkaplah iman seseorang ketika ia kotor. Karena iman harus dibuktikan dengan ibadah.
Oleh karena itu, sebagai muslim dan muslimah, kita adalah orang-orang terdepan yang harus selalu mencontohkan kebersihan. Bukan malah sebaliknya sehingga menjadi bahan kritikan orang lain. Melalui tulisan ini, saya tidak menyalahkan sedikitpun akhwat yang dimaksud oleh penulis di fb karena saya sendiri tidak mengetahui kondisi yang sebenarnya. Saya justru ingin mengajak kepada anda semua untuk mulai memperhatikan kebersihan diri dan lingkungan kita. Dimulai dari diri sendiri, maka hasilnya akan luar biasa.

















