Ini adalah pengalaman saya mengikuti seleksi CPNS di tahun 2014 dan juga tahun 2018. Kenapa saya mengikuti di dua tahun itu, karena saya tidak lulus di tahun 2014 dan saya mencoba lagi di tahun 2018, heheh.
1. Alasan Mengikuti Seleksi CPNS
Jadi, apakah yang membuat perempuan dengan jiwa bisnis sejak kecil ini tertarik dengan pekerjaan sebagai ASN? Semua itu tidak lepas dari cita-cita kecil saya ingin menjadi guru. Bahkan ketika kuliah pun saya masih mengambil jurusan pendidikan karena sudah bertekad ingin menjadi guru ketika lulus nanti. Namun, ternyata semua tidak seperti yang saya bayangkan.
Setelah lulus, saya dihadapkan oleh banyak fakta. Sehingga saya pun kemudian mengesampingkan niat saya untuk menjadi seorang guru. Pertama, ketika lulus, saya sedang mengandung anak pertama. Jadi buat yang belum tahu saja, saya dan suami menikah saat kami masih duduk di semester V. Nah, karena sedang hamil, saya memutuskan untuk full time home sampai kelahiran si dede bayi. Tapi ternyata setelah si dede bayi lahir, saya malah tidak tega jika harus meninggalkan dia untuk bekerja. Karena itulah niat menjadi guru pun saya urungkan.
Fakta kedua yang tidak kalah meriausakan adalah tentang gaji honorer yang sangat rendah. Ini bukan soal pengabdian atau mata duitan, tapi faktanya gaji 300 ribu sebulan tidak akan cukup untuk kami. Lalu semakin urunglah niat saya menjadi seorang guru. Saya pun kemudian banting setir ke bisnis travel.
2. Pengalaman di Tahun 2014
Tibalah di tahun 2014 dimana saya mendengar kabar bahwa pendaftaran CPNS dibuka. Saya tidak melewatkan kesempatan ini karena kebetulan untuk jurusan saya terbuka 3 peluang. Sayangnya di kabupaten saya tidak dibuka pendaftarannya. Saya terpaksa harus mendaftar di kabupaten tetangga.
Untuk mengikuti semua tahapan seleksi pendafataran CPNS tidaklah mudah. Apalagi bagi seorang ibu dengan anak kecil. Saya terpaksa harus membawa anak saya ketika membawa berkas pendafatan ke kantor BKD kabupaten. Saya harus menempuh perjalanan sekitar 5 jam untuk sampai ke tempat itu. Disana, saya harus antri beberapa jam karena banyaknya pelamar yang akan memasukkan berkas.
Setelah lulus verifikasi berkas, saatnya saya mengikuti Seleksi Kompetensi Dasar. Saya kembali harus menempuh perjalanan sekitar 7 jam untuk sampai di lokasi. Saya bersyukur karena disana saya memiliki keluarga sehingga saya bisa menginap di rumahnya sambil menunggu waktu ujian. Esoknya saya menitipkan si dede bayi selama saya mengikuti ujian.
Namun, semua perjuangan itu belum membuahkan hasil sesuai yang saya inginkan. Meskipun saya lulus tes dengan nilai 324, nyatanya saya masih belum bisa lulus karena masih ada yang di atas dari saya. Intinya, tahun 2014 belum menjadi rezeki saya untuk menjadi PNS.
3. Pengalaman di Tahun 2018
Beberapa tahun berlalu. Saya tidak lagi mendengar pemerintah membuka pendafataran CPNS untuk jalur umum. Hingga pada suatu hari di tahun 2018 saya mendengar dari seorang teman kalau tahun ini pemerintah kembali membuka pendaftaran. Saya sebenarnya sudah tidak ingin mengikuti seleksi di tahun ini. Saya sudah terlanjur larut dalam bisnis travel dan tidak tertarik lagi untuk menjadi guru.
Namun karena beberapa masukan dan pertimbangan tertentu akhirnya saya pun kembali berjuang di tahun ini, hehe.
Tahun ini , ada beberapa hal yang berbeda dari tahun 2014. Pertama, soal kuota formasi yang mengikuti unit kerja. Ini menjadi satu hal yang sangat saya sesalkan hingga hari ini. Saya kurang memahami kuota unit kerja ini sehingga saya sangat lelah mengikuti seleksi di tahun 2018 ini.
Jadi, sekarang ini, kelulusan mengikuti unit kerja yang dilamar, bukan lagi mengikuti kuota formasi. Misalnya formasi bahasa inggris di kabupaten A adalah 10 orang dengan 10 unit kerja. Jadi setiap satu unit kerja mendapat jatah 1 formasi. Jadi persaingan akan mengikuti formasi. Meskipun nilai kita tinggi dan lulus ujian, tapi formasi kita sudah ada yang lebih tinggi maka tetap saja tidak akan lulus.
Kenapa ini menjadi sebuah hal yang sangat saya sesali, karena saya harus menempuh perjalanan yang sangat jauh untuk sekedar mengambil kartu tes. Bahkan di luar nalar, saya pun harus antri hingga jam 10 malam sambil berdesak-desakan demi sebuah kartu. Ditambah lagi, untuk mengikuti tes, saya harus ke provinsi. Bolak-balik luwu makassar dalam waktu 2 hari. Sungguh melelahkan. Padahal saya bisa saja mengikuti seleksi di kabupatenku sendiri. Semua itu karena informasi yang tidak terlalu jelas akhirnya mempengaruhi semua.
Perbedaan kedua adalah tentang standar kelulusan yang semakin tinggi dimana untuk formasi guru sendiri harus mendapatkan nilai minimal 298 dengan syarat TIU 80, TWK 75 dan TKP 143. Sebenarnya standar nilai ini tidak terlalu tinggi jika soal-soalnya tidak membingungkan. Yang paling aneh adalah soal-soal TKP yang sangat aneh sehingga banyak sekali yang tidak lulus. Saking anehnya, nilai kelulusan tahun ini rata-rata dibawah 10%. Termasuk saya lah salah satunya yang tidak lulus karena kurang 3 angka di TKP.
Ibroh yang saya rasakan dari dua pengalaman ini adalah sebaik apapun usaha kita berusaha namun Allah pulalah yang telah menentukan jalan rezeki kita. Setiap langkah akan menjadi pengalaman. Dan penagalaman adalah guru yang terbaik.
Semoga tulisan ini bermanfaat.

















