Belajar, berbagi dan bercerita tentang apa saja

Saturday, June 22, 2019

4 Manfaat Menulis di Blog yang Perlu Ibu Tahu



Menulis sudah terbukti memiliki banyak sekali manfaat. Entah ibu memiliki bakat dalam menulis atau tidak, tetap saja menulis harus ibu lakukan. Salah satu manfaat besar dari menulis adalah sebagai terapi diri. Ibu masih ingat? Saat masih sekolah dulu mungkin kebanyakan dari kita memiliki buku diary kemudian menuangkan segala perasaan kita pada buku tersebut. Setelah itu, perasaan kita menjadi sangat lega.

Menulis juga menjadi anjuran dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Di dalam sebuah hadist, beliau bersabda "Ikatlah ilmu dengan tulisan". Generasi islam sejak dahulu hingga sekarang, telah banyak sekali menghadirkan kitab-kitab yang dijadikan rujukan ilmu. Hal tersebut dimulai dari kegiatan menulis.

Setelah adanya perkembangan teknologi yang cukup pesat seperti saat ini, banyak sekali alternatif tempat menuangkan tulisan yang bisa ibu pilih, salah satunya adalah blog. Kenapa blog menjadi pilihan yang terbaik karena ibu bisa mendapatkan banyak manfaat plus bisa ibu dapatkan.

Berikut ini beberapa manfaat menulis di blog yang perlu ibu tahu.

1. Mengasah Kemampuan Menulis

Ada yang bilang kemampuan menulis adalah bakat. Tapi saya percaya tidak ada satu pun kemampuan di dunia ini yang tak bisa dipelajari. Menulis adalah salah satunya. Meskipun ibu berbakat namun tak pernah latihan maka bakat itu akan tenggelam. Sedangkan meskipun ibu tak memiliki bakat menulis namun sering latihan maka dengan sendirinya kemampuan menulis ibu akan terus mengalami perubahan menjadi lebih baik.

2. Berbagi Pengetahuan

Menulis di blog menjadi sarana untuk berbagi pengetahuan dengan orang lain. Kita tidak pernah tahu mungkin saja di luar sana ada yang sedang membutuhkan informasi yang sedang kita tulis. Oleh karena itu, ketika kita mulai menulis maka itu adalah awal untuk berbagi ilmu.

3. Membangun Jaringan

Melalui tulisan di blog ibu bisa membangun jaringan dengan orang lain. Misalnya ketika ibu menulis dengan tema keluarga, maka ibu akan mendapatkan pembaca yang juga tertarik dengan tema tersebut. Secara tidak langsung ibu telah membangun pertemanan dengan pembaca anda melalui informasi-informasi yang anda sajikan dalam tulisan anda.

4. Menghasilkan Uang Secara Online

Banyak cara untuk menghasilkan uang melalui internet. Salah satunya lewat blog. Bagaimana caranya menghasilkan uang lewat blog? Ibu bisa menjual produk melalui blog atau ibu bisa mendaftarkan blog ibu di google adsense. Sungguh sebuah cara mudah dan menyenangkan jika ibu sudah mencobanya.

Setelah Mengetahui manfaat menulis di blog, kini saatnya ibu mulai menulis di blog ya. Karena sebanyak apapun teori yang kita ketahui tanpa adanya aplikasi maka sama saja percuma. Keep Trying moms 😁😁


Share:

Thursday, June 20, 2019

3 Cara Menjadi Ibu yang Tetap Waras

Menjadi ibu adalah sebuah nikmat yang diberikan Allah subhanahu wa ta'ala. Di luar sana banyak sekali pasangan suami istri yang menginginkan hadirnya seoarang anak agar mereka bisa menjadi ayah dan ibu, namun belum Allah berikan kesempatan untuk itu. Oleh karena itu, nikmat itu harus selalu disyukuri ya bu.


Seiring berjalannya waktu, kenikamatan yang dinanti-nanti itu kemudian menjadi sebuah ujian. Karena ketika anak-anak mulai tumbuh dan berkembang, mereka menjadi sangat aktif dan kadang sedikit "merepotkan". Apalagi jika anak yang kita miliki lebih dari satu orang, maka kekacauan pun semakin terasa. Hal itu kadang membuat ibu menjadi stress dan akhirnya marah-marah. Bahkan kemarahan itu bisa sampai dilampiaskan kepada anak baik dalam bentuk omelan, bentakan hingga sampai pada kekerasan fisik. 

Lalu bagaimana caranya agar ibu bisa tetap waras menjalani keseharian dengan anak-anak? Berikut ini ada beberapa tips yang bisa ibu coba di rumah.

1. Perbaiki Niat


Segala sesuatu tergantung niat. Niat adalah bahan bakar penggerak aktifitas manusia. Untuk menjadi ibu yang tetap waras ibu harus memperbaiki niat. Ibu harus menyadari bahwa anak-anak adalah amanah dari Allah subhanahu wa ta'ala yang nanti akan dimintai pertanggung-jawaban.

2. Mengingat Masa Penantian Kehadiran si Buah Hati


Ketika dirasa suasana sudah semakin kacau dan ibu merasa kewarasan ibu sisa beberapa persen saja, hehe, cobalah mengingat masa-masa dimana ibu sangat menantikan kehadiran si buah hati. Ingatlah ketika dia menangis untuk pertama kali. Betapa bahagianya ibu saat itu. Semoga kebahagiaan saat itu bisa ibu hadirkan kembali sehingga ibu pun berbahagia melihat perkembangan anak-anak saat ini.

3. Me Time


Kewarasan yang semakin berkurang mungkin adalah tanda bahwa ibu perlu menepi sejenak. Mungkin inilah waktu yang tepat untuk me time. Ibu tidak harus berlama-lama dengan itu. Meneguk teh hangat ditemani biskuit cokelat di sudut ruangan mungkin akan memperbaiki mood ibu. Atau ibu bisa melakukan hobi ibu. Atau Ibu bisa menulis diary untuk meluapkan emosi ibu, hehe.

Itulah sedikit tips agar ibu tetap menjadi waras di rumah. Karena sesungguhnya rumah yang bahagia berasal dari ibu yang bahagia. Semoga ibu ibu semua tetap menjadi ibu yang terus berbahagia mendampingi buah hati di rumah. 

salam sayang.
Share:

Mencetak Generasi Unggul



Apakah inti dari sebuah keluarga? Kadang banyak diantara kita yang memutuskan menikah dan membangun keluarga namun tak memahami esensi keluarga. Padahal pemahaman awal adalah pondasi yang sangat penting untuk kesuksesan keluarga kita. Karena memiliki pemahaman akan membuat kita lebih kokoh dalam menghadapi cobaan yang akan menerpa.

Keluarga adalah unit terkecil dari sebuah masyarakat tempat mencetak generasi unggul yang akan menjadi khalifah di muka bumi. Jadi tujuan dari berkeluarga memang untuk menghasilkan generasi unggul. Seperti yang terjadi pada masa Rasulullah dan setelahnya. Dimana pada saat itu lahir generasi generasi yang luar biasa di usia yang sangat muda.

Kita tentu mengenal Usamah bin Zaid. Beliau telah menjadi pemimpin pasukan ketika berusia 18 tahun. Lalu ada Zaid bin Tsabit yang diusianya baru menginjak 13 tahun sudah mampu menguasai bahasa Suryani dalam waktu 17 malam kemudian menjadi penerjemah Rasulullah.

Kemudian siapa yang tidak mengenal Muhammad Al Fatih, sang penakluk konstantinopel. Beliau telah membuktikan bisharoh Rasullah di usia yang sangat muda yakni 22 tahun. Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Sesungguhnya akan dibuka kontantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu.”

Mari kita bandingkan generasi terdahulu dengan generasi yang sekarang. Anda jangan berpikir bahwa tidak adil membandingkan generasi dahulu yang dididik langsung oleh Rasulullah. Tentu sangat adil, karena Al-Qur’an yang dahulu masih sama dengan yang sekarang. Begitu pula dengan sunnah-sunnah Rasulullah masih utuh hingga sekarang.

Kita lihat, ketika generasi dulu di usia yang sangat muda sudah mencetak prestasi tetapi generasi kita di usia 18 tahun masih duduk di bangku SMA. Atau maksimal sudah masuk universitas semester awal. Kita belum jadi apa-apa. Bahkan memikirkan masa depan pun masih samar. Sebenarnya apa yang salah? Kita selama ini hanya mengikuti sistem pendidikan yang entah sumbernya dari mana, yang sudah terbukti gagalnya, tapi masih terus dipertahankan hingga kini. Padahal sistem pendidikan yang dibawa oleh Rasulullah adalah sistem yang simple, mudah diterapkan dan hasilnya sangat memuaskan.

Sebagai orang tua, mulai sekarang kita sudah harus memikirkan tentang pendidikan anak-anak kita. Tentu idaman setiap orang tua adalah menghasilkan anak-anak yang berkualitas. Karena itu kita harus kembali kepada tuntunan Rasulullah sembari berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar diberi kemudahan pada setiap langkah pendidikan anak-anak kita.

Share:

Friday, January 25, 2019

Ikhlas Membaca

Malam ini suasana cukup hening. Ditambah diluar sana sedang hujan rintik-rintik. Suasana semakin hening saat kakak tidur lebih awal. Alhamdulillah tv bisa off juga malam ini.

Saya dan adik sedang menikmati minuman dingin bersama. Suasana sudah dingin kita malah menikmati minuman dingin. heheh. Abah sendiri sedang keluar untuk belanja seperti biasa. Saya lalu menangkap momen ini sebagai peluang untuk mengajak adik membaca.

"Dik, ayo membaca..!"

"heeh.." Sahutnya.

Saya lalu cepat-cepat mengambil buku di kamar. (Saya sudah seperti orang yang kejar setoran pokoknya, hahah)

Kami duduk melantai. Saya lalu membuka cerita nabi Muhammad SAW. Biarlah cerita ini dibaca berulang-ulang agar menghujam diingatan anak-anak.

Saat saya membaca sambil mendayu-dayu, adik terdengar mengikuti akhir kalimat saya dengan mendayu juga. Alhamdulillah, kita menghabiskan sekitar sepuluh menitan membaca tanpa gangguan. Tentu ini sudah melewati batas konsentrasi adik. Namun adik tetap menikmati bacaan kami. Semoga saja adik ikhlas menjadikan kegiatan membaca menjadi kegiatan rutinnya hingga kapanpun.

Semoga adik memcintai buku, mencintai ilmu dan gemar membaca. aamiin.

#Day16
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KelasBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
Share:

Thursday, January 24, 2019

Cerita Singkat Malam Ini

Saya aslinya sudah sangat mengantuk saat menulis cerita ini. Namun sayang sekali jika kisah malam ini dilewatkan. Saya hanya akan menuliskan inti cerita malam ini tentang perjalanan menumbuhkan kecintaan membaca anak-anak dan suamiku.

Saat saya sudah selesai shalat isya tadi, kakak memintaku membacakannya Al-Qur'an. Dia bilang "Mak baca mi ki Al-Qur'an, saya pi dengar i". Lalu setelah itu dia duduk manis di dekatku sambil mendengarkan bacaanku. Adik sendiri memilih mendengarkan sambil memainkan lipstikku di wajahnya dan di dinding kamar kami.

Setelah selesai membaca Al-Qur'an, saya langsung mengambil buku Hafiz dan Hafizah lalu mengambil posisi tengkurap di dipan. Saya kemudian membaca dengan suara keras. Kakak dan adik kompak mendekatiku dan mendengarkan saya membacakan kisah teladan Nabi Muhammad SAW yaitu kelembutan hati.

Kami membaca hingga mereka bosan dan meminta saya berhenti. Saya menutup buku Hafiz Hafizah lalu bernyanyi-nyanyi kecil. Adik mengikuti dengan bunyi hmm hmm hmm..Aku melirik ke samping ku lihat kakak asyik membuka lembar demi lembar buku bacaan kami tadi. Aku bersyukur dalam hati. Selangkah kedepan batinku. Kakak mulai akrab dengan buku.

Abah bagaimana? Malam ini abah tidak masuk dalam cerita karena dia sedang keluar belanja untuk keperluan bikin jalangkote malam nanti. heheh.

#Day15
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KelasBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
Share:

Saturday, January 19, 2019

Belajar Alphabet

Habis magrib tadi saat anak-anak sedang nonton film upin ipin, saya berinisiatif mengajak mereka membaca. Seharian tadi saya sibuk nginem di rumah soalnya dua hari sebelumnya tidak ada kesempatan untuk beberes rumah. Pulang dari kelurahan badan capek semua jadi saya langsung istirahat. Jadi setelah pekerjaan rumah selesai tadi saya merasa sangat kelelahan. Saya memilih utuk tidur siang dulu demi mengistirahatkan tubuh ini.

Saya baru memiliki kesempatan untuk mengajak anak-anak membaca setelah magrib. Saat saya ajak membaca, kakak hanya ingin belajar alphabet katanya. Qadarullah kami sudah membeli poster alphabet dan di pasang di ruang tengah. Jadi sewaktu-waktu kakak bisa melihat huruf-huruf alphabet tersebut.

Finally, malam ini kita belajar huruf alphabet sampai kakak dan adik bosan. Yah, sekitar beberapa menitan saja. Belajarnya pas upin ipin lagi jeda iklan. Heheh.

Kegiatan membaca malam ini jadi tidak efektif. Salah satu  alasan utamanya karena persoalan waktu. Habis magrib anak-anak waktunya nonton upin ipin. Oleh karena itu anak-anak jadi tidak fokus ketika diajak membaca. Semoga kedepannya bisa lebih bisa mengatur waktu lagi agar kegiatan membaca bisa lebih efektif.


#Day10
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KelasBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
Share:

Tuesday, January 15, 2019

Membaca Sebelum Tidur



Kakak sepertinya sudah sangat mengantuk siang ini. Dia mengambil bantal dan gulingnya dari dalam kamar lalu mengambil posisi di depan tv. Ia melirikku sejenak. Saya tahu dia kakak mau menonton tv sebelum tidur. Tapi saya memberi isyarat tidak boleh. Lalu dia kemudian berkata "Mak baca buku ki yuk".

Entah ada angin apa kakak minta diajak membaca buku. Padahal saat makan siang tadi saya menawarkan kepada anak-anak untuk membaca buku bersama setelah makan siang. Tapi Zahra dan Maryam kompak menolak. Abahnya sendiri hanya diam saja menikmati hidangan makan siangnya.

Saya dengan sangat bahagia menyambut ajakan kakak. "Ayuk mi nak" kataku mengiyakan. Saya dengan semanganya bangkit lalu beranjak ke kamar mengambil buku "Cerdas dan sholih bersama hafiz dan hafizah". 

Saya membuka buku itu tepat pada cerita Nabi Isa. Zahra yang melihat gambar maryam sedang menggendong Nabi Isa langsung tertarik ingin mendengar kisah Nabi Isa. Zahra sebenarnya sudah hapal dengan gambar itu. Dulu kami sering membaca kisah Nabi Isa itu sebelum tidur.

"Mak, maryam kah itu?" tanya zahra yang mencoba mengingat-ingat dulu pernah mengenal gambar itu.

"iye nak." jawabku singkat.

"Kalau itu yang digendong siapa?" tanyanya lagi.

"Itu kan nabi Isa, anaknya Maryam." Kataku mencoba menjelaskan.

Maryam yang sedari tadi nempel ke abahnya tiba-tiba menghampiri kami karena mendengar namanya disebut.

"Mak.. mak.. maryam kah itu? saya kah itu? " Tanya maryam sambil menunjuk gambar nabi isa yang digendong oleh maryam.

Maryam mengira bayi itu adalah maryam bukan nabi Isa. Ia menyamakan dengan dirinya yang juga bernama Maryam. Ia mau bayi itulah Maryam karena masih kecil seperti dia. Lalu saya mencoba menjelaskan bahwa Maryam yang ada dalam kisah itu adalah Maryam ibunda nabi Isa. Seorang wanita suci yang namanya abadi. Kebetulan namanya adik itu sama dengan bunda Maryam. Karena memang abah dan mama memberi nama Maryam agar Maryam nantinya meneladani kesholihan bunda maryam.

Kami membaca kisah nabi Isa hingga selesai. Lalu lanjut ke kisah nabi Muhammad. Zahra sendiri mendengarkan sambil mengunting-gunting karton. Sedangkan Maryam berbaring disampingku dan mendengarkan bacaanku dengan seksama. 

Baru setengah kisah nabi Muhammad saya bacakan, kakak minta saya berhenti. Katanya dia sudah capek. Saya lalu menghentikan bacaanku karena tidak ingin membuat anak-anak merasa terpaksa membaca. Beberapa saat kemudian kakak kembali ke tempat tidur yang telah dia siapkan tadi dan iapun segera tertidur.


#Day6
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
Share:

Followers

Total Pageviews