Belajar, berbagi dan bercerita tentang apa saja

Tuesday, September 17, 2019

Film The Santri



Baru-baru ini publik dibuat heboh dengan kemunculan sebuah film yang berjudul THE SANTRI. Saya termasuk salah satu yang cukup heboh. Saya pikir film ini akan bercerita tentang kehidupan santri yang sebenarnya sehingga bisa memotivasi para generasi muda untuk berlomba-lomba masuk ke pondok pesantren. Tapi, betapa kagetnya saya saat melihat trailer film ini di youtube.

Adegan demi adegan yang ditampilkan sukses membuat saya mengelus dada. Pertama, adegan membawakan tumpeng kepada jamaat agama lain. Entah apa maksudnya. Namun sependek pengetahuan saya, kita tidak boleh masuk ke tempat ibadah agama lain. Jangankan masuk, saat melihatnya saja, ada ulama yang sampai menyarankan untuk mengulang syahadat kita. Semua itu demi menjaga kemurniaan aqidah Islam yang kita miliki.

Kedua, sebuah adegan yang sontak membuat saya kaget adalah kedekatan seorang santri dan santriwati yang ada di film itu. Apakah mereka pacaran di film itu? saya juga tidak tau. Yang pastinya ada adegan saling lirik melirik dan berdua-duaan. Hal itu sangat bertentangan dengan ajaran islam yang melarang seorang wanita berdua-duaan dengan yang bukan mahromnya. Apalagi jika sampai pacaran. Karena pacaran itu adalah pintu yang lebar menuju zina. Sedang zina adalah sesuatu yang sangat tercela dan diharamkan. Jangankan zina, mendekatinya saja tidak boleh.

Lalu, saya sedikit merenung. Sebagai emak dengan amanah dua putri sholihah saya patut merasa was-was akan kehadiran tontonan yang seperti ini. Saya takut kemurnian anak-anak saya menjadi ternodai dengan pemahaman liberal yang jelas dipertontonkan pada film ini. 

Saya pun kemudian bertanya-tanya, kenapa film ini hadir sekarang? Mungkinkah ada kaitannya dengan menjamurnya anak-anak yang memilih pesantren sebagai tempat menimba ilmu. Orang-orang yang tidak bertanggung-jawab di balik film itu ingin merusak pola pikir anak-anak santri sehingga mereka pun akan terpapar oleh paham liberal dan tidak lagi menjadikan agama sebagai satu-satunya pegangan? Wallahu a'lam. Saya jadi ingat dengan dua keponakan saya dan satu cucu saya yang saat ini sedang nyantri. Semoga Allah menjaga dan melindungi mereka. Aamiin.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak anda semua untuk memboikot film THE SANTRI. Sebuah film yang sama sekali tidak menggambarkan islam yang sesungguhnya. Justru film ini sangat menodai ajaran Islam. Semoga ke depannya film-film seperti ini tidak lagi ada. 
Share:

Wednesday, September 4, 2019

Alasan

Kenapa tiba-tiba pagi ini saya ingin membuat tulisan ini ya? Hmm.. mungkin saja ini yang dinamakan ilham (mas ilham jangan tersinggung ya, hehe). Semoga saja tulisan saya kali ini bisa menginspirasi diri saya sendiri sekaligus sebagai pengingat diri. Kalau pun bisa membawa manfaat buat pembaca blog ini, tentu saya lebih bersyukur lagi.

Alasan.

Kenapa dengan alasan? Mungkinkah ini berhubungan dengan pembicaraan di wa grup semalam tentang rasa malas. Mungkin saja. Akhirnya pembahasan itu saya bawa ke dalam mimpi dan menjadi inspirasi di pagi ini. Semua sudah masuk dalam rencana Allah. Karena tak ada satu pun yang luput dari kekuasaan Allah.

Kemarin di wa grup kepenulisan, kita para member lagi membahas rasa malas yang sering menghantui sehingga menyebabkan writing block. Tentu hal itu menjadi rintangan yang amat besar yang dihadapi hampir setiap penulis. Rasa malas adalah musuh terbesar. Karena itu sebagai solusinya seseorang memerlukan alasan.

Kenapa Alasan?

Alasan adalah hal yang paling penting dalam kehidupan ini. Sadarkah kita, kita ada sekarang ini juga karena ada alasan. Jika tidak, mungkin bukan kita yang diciptakan, tapi makhluk yang lain. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepadaKu" Q.S. Ad-Dzariyat : 56.


Bukankah ini sebuah alasan?

Kita hidup saja karena sebuah alasan yakni untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Apalagi dalam hal menjalani kehidupan ini, tentu kita butuh sesuatu hal yang bisa membuat kita bergairah menjalaninya. Hal itu adalah alasan.

Hidup ini kadang menjadi sangat membosankan. Mungkin karena rutinitas. Mungkin juga karena lelah. Sehingga kita sering sekali menjalaninya dengan begitu saja. Tanpa semangat. Sehingga waktu itu berlalu begitu saja.

Saya tidak sedang membicarakan apa yang ingin dicapai seseorang di masa yang akan datang. Bukan. Bukan itu. Tapi saya berbicara mengenai alasan sehingga kehidupan ini berjalan dengan lebih menggairahkan. Saya yakin setelah itu hasil yang memuaskan pun akan mengikuti. Karena proses menjalani kehidupan ini akan kita rasakan lama. Sehingga menjalani kehidupan dengan semangat setiap waktu tentu menjadi dambaan.

Saat sedang melemah, maka ingatlah alasan apa sehingga kita melakukan ini atau memilih jalan ini. Jika belum memiliki alasan, maka buatlah alasan itu sekarang juga. Cara lainnya adalah dengan mencari tahu alasan apa sebenarnya kita menjalani ini atau melakukan kegiatan ini.

Semoga saya dan anda semua bisa menjalani kehidupan yang menggairahkan setiap saat.

Remember what is your "Big Why" !
Share:

Tuesday, September 3, 2019

Mendidik Anak Sesuai Fitrahnya


Pernah dengar ungkapan anak yang lahir itu bagaikan kertas putih? Ternyata teori ini salah dan sudah banyak dibantah oleh ahli ahli parenting muslim. Alasannya, setiap anak itu lahir dengan fitrahnya masing-masing. Tugas orang tua bukanlah mengisi kertas kosong , seperti teori yang selama ini berkembang, akan tetapi tugas orang tua adalah mengingatkan anak pada fitrahnya. Karena saat anak lahir, memorinya akan dihapus oleh Allah.

Oh iya, sebelum lanjut, saya ada beberapa rekomendasi pakar parenting. Mungkin saja berguna buat anda. Diantaranya ada Ust. Budi azhari dengan fokus parenting nabawiyyah, ust. Hary santosa dengan fokus parenting based fitrah, dan juga oma Elly Risman dengan ilmu psikologinya.

Kembali ke topik.
Jadi, anak anak itu sudah punya fitrah. Hal ini sesuai dengan hadist Rasululullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
  
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Tiada seroangpun yang dilahirkan kecuali dilahirkan pada fitrah (Islam)nya. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadist tersebut memang membahas soal agama anak. Namun secara tidak langsung juga membahas setiap hal yang berkaitan dengan fitrah anak. Bahwa anak anak itu sudah membawa kemampuan sendiri untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Apa saja itu? Semuanya. Kemampuan bicara, berjalan, makan, bahkan belajar. Kita sebagai orang tua hanya perlu menyadari itu. Agar mendidik anak itu tidak lagi terasa berat.

Nah, itu dia teorinya. Faktanya beberapa waktu lalu saya benar-benar stag dalam hal mendidik anak-anak. Karena kondisi lagi berbadan dua, bawaannya selalu males. Anak-anak pun seakan terabaikan. Sampai suatu waktu, saya lihat ceramah seorang ustad tentang mendambakan anak shalih. Alhamdulillah saya sedikit tersentak dan kembali sadar. Akhirnya saya kembali memikirkan kegiatan bersama anak-anak meskipun lagi mager abis 😀😀

Jadi orang tua itu ya emang harus memaksakan diri. Maksudnya memaksa diri melawan rasa malas 🤣 karena musuh terbesarku, dan saya yakin musuh semua orang, adalah rasa malas.

Setelah merenung dan melawan rasa malas, saya lalu membuat rancangan belajar bersama Zahra dan Maryam. Lalu dipilihlah kegiatan membaca sebelum tidur. Anak-anak itu kan memang punya fitrah ingin tahu dan membaca adalah perintah pertama kepada Rasulullah, karena itu saya memilih kegiatan itu untuk mengasah keingin tahuan anak-anak.


Dulu sebenarnya kita sudah sering membaca sebelum tidur, jadi sekarang mudah membuat anak-anak tertarik kembali. Alhamdulillah mereka memang cukup antusias. Tantangannya kemudian bagaimana agar mamanya tidak bosan dengan agenda ini, hehe.

Rencananya ini adalah awal. Apalagi kakak Zahra sudah hampir memasuki usia 6 tahun. Kata oma Elly, sejatinya anak-anak baru dikasih calistung di usia 7 tahun. Ini pun bertepatan dengan perintah shalat yang baru dimulai usia 7 tahun. Artinya belajar yang sebenarnya baru dimulai di usia itu. Sekarang masih ada waktu setahun lebih untuk bersiap-siap sebelum hari itu tiba.

Jadi anak-anak ngapain aja di rumah? Kalau Zahra dan Maryam, kebanyakan main dan selebihnya berantem rebutan mainan. Ada aja sih sebenarnya yang direbutkan. Lalu apa yang diajarkan? Kita lagi mencoba kasih teladan yang baik. Karena menurut ust Budi, usia 2 sampai 7 tahun itu waktunya keteladanan dari orang tua. Sementara ini kita masih mencoba kasih teladan, dan aslinya kami lah yang harus banyak belajar. Karena mendidik anak-anak itu pun mengharuskan orang tua untuk terus belajar. 




Share:

Monday, September 2, 2019

Hal positif Apa yang Sudah Dilakukan Anak Sejak Bangun Tidur ?

Aktifitas pagi selalu menjadi momok yang menakutkan buat sebagian orang. Saya juga termasuk salah satunya. Yang terbayang ketika bangun tidur adalah seabrek pekerjaan rumah yang tiada habisnya. Ditambah lagi dengan kehebohan yang diciptakan oleh anak-anak setiap bangun tidur.

Zahra & Maryam


Anak-anak adalah makhluk yang paling rewel saat bangun tidur. Ada saja tingkah mereka yang bikin gemes. Kadang mereka seakan membuat buat tindakan yang ujung-ujungnya mereka sendiri yang nangis. Sepertinya nangis itu adalah kewajiban di pagi hari. Padahal buat orang dewasa, khususnya saya, saya sangat mendambakan pagi yang lancar dan penuh dengan ketenangan. Namun semua itu hanya akan jadi mimpi karena berbanding terbalik dengan tingkah anak-anak.

Lalu, apa sebaiknya yang harus dilakukan agar pagi yang berisik tidak terulang setiap hari??

Pengalaman jadi ibu selama kurang lebih enam tahun setidaknya bisa membuat saya belajar sedikit dikit. Ditambah teori parenting yang sesekali saya baca namun lumayan membantu untuk mengatasi situasi. Setidaknya mengubah pagi yang berisik menjadi positif morning.

Pertama, sebagai seorang muslim saat bangun di pagi hari , atau lebih tepatnya saat subuh, yang pertama dilakukan adalah shalat subuh. Syukur-syukur kalau bisa membangunkan anak-anak untuk bisa shalat subuh berjamaah. Kalau belum bisa, jadikanlah momen shalat subuh untuk beribadah dengan khusyuk dan mendoakan yang terbaik untuk anak-anak kita. Ridho Allah dari ridho orang tua. Insyaallah berawal dari situ, hal positif akan mendatangi kita.

Setelah itu, ketika anak-anak sudah bangun dan bersiap untuk membuat kegaduhan 😅 cobalah menata hati dan sedikit mengalah kepada mereka. Turutilah keinganan mereka selama itu bukan hal yang berbahaya. Biasanya anak rewel karena merasa kebutuhan mereka belum terpenuhi. Saat kebutuhan dasar mereka sudah terpenuhi, insyaallah mereka akan lebih tenang dan tidak rewel setelahnya. Kalau pun sesekali mereka tetap rewel, frekuensinya akan lebih rendah jika dibandingkan ketika kebutuhan mereka belum terpenuhi.

Terakhir, evaluasi. Disinilah kita sebagai orangtua harus banyak-banyak bersyukur. Setidaknya kita harus memikirkan hal-hal positif apakah yang sudah anak-anak lakukan sejak bangun tidur tadi. Saat anak bisa bangun sendiri tanpa merengek, bukankah itu positif?. Mensyukuri hal-hal kecil dan mengapresiasinya, insyaallah membuat anak akan jauh lebih baik. Ingat, ridho Allah kepada anak-anak kita berawal dari ridho kita terhadap mereka. 

Semoga pagi kita selalu positif sehingga keseluruhan hari kita akan tetap positif. Ingat ridho Allah kepada anak-anak kita berawal dari ridho kita sebagai orangtua terhadap mereka. Jika Allah sudah ridho, insyaallah anak-anak kita akan mudah menjadi anak yang sholih atau sholihah.
Share:

Sunday, August 18, 2019

Katanya Merdeka

Sudah 74 tahun. Ya betul. 74 tahun bangsa ini merayakan kemerdekaannya. Alhamdulillah. Sebagai warga negara yang baik, tentu saja saya termasuk salah satu diantara sekian banyak orang yang merasakan kegembiraan di tanggal 17 agustus ini. Saya ingat dulu semasa sekolah. Saya selalu terlibat aktif dalam perayaan tujuh belasan. Baik itu mengikuti lomba gerak jalan, ataupun lomba-lomba lainnya.


Saat ini, setelah hidup di dalam kehidupan masyarakat yang sesungguhnya, ditambah pengalam hidup selama dua puluh delapan tahun, saya jadi memiliki cerita tersendiri. Apa arti kemerdekaan yang sebenarnya untuk seorang ibu rumah tangga seperti saya.

Jadi begini.

Saya ingin sedikit bercerita.

Katanya merdeka itu ketika kita bebas dari penjajahan. Ingatkan kita dengan kisah perjuangan para pahlawan yang telah berjuang dengan jiwa dan hartanya untuk kemerdekaan bangsa ini. Semua itu demi anak cucu penerus negeri ini agar bisa bebas di dalam negerinya sendiri. Bebas dari penjajahan bangsa lain. Bebas dari perbudakan di negerinya sendiri. Alhamdulillah pada 17 agustus 1945 terucaplah kalimat kemerdekaan itu yang diwakili oleh Bung Karno.

Setelah hari itu, negara kita bukanlah bebas begitu saja. Namun masih ada usaha dari para penjajah untuk mengembalikan Indonesia ke cengkeraman mereka. Ribuan nyawa masih harus berkorban hingga negara ini benar merdeka dan kemerdekaannya diakui oleh bangsa lain.

Hari ini, kita alhamdulillah bisa merasakan kemerdekaan. Setidaknya tidak ada lagi bunyi ledakan senjata dimana-mana. Namun benarkah kita sudah merdeka seutuhnya? Ini masih menjadi tanda tanya besar oleh sebagian besar orang.

Sebagai emak, saya sendiri akan merasa merdeka jika tidak lagi merasakan jiwa terjajah. Tak lagi merasa tidur tak nyenyak karena hutang. Atau merasa khawatir anak-anak akan di bully di luar. Atau merasa khawatir suami tak lagi mendapatkan nafkah untuk keluarga. Bebas beragama, bebas berpendapat, bebas berkarya, dan bebas mengambil keputusan apakah anak-anak akan dimasukkan ke sekolah atau HS sesuai keinginan mereka. (heheh... jadi sedikit melebar).

Inti dari merdeka adalah bebas. Negara merdeka. Ekonomi merdeka. Politik merdeka. Pendidikan merdeka. Agama merdeka. Semua lini kehidupan merdeka. Agar kehidupan negeri ini kembali ke tatanan yang seharusnya. Saya berharap negara ini akan merdeka dengan sebenar-benarnya merdeka.
Share:

Friday, August 9, 2019

Nikmat Senggang Yang Akan Dipertanggungjawabkan



Alhamdulillah. Selama kehamilan yang ke tiga ini, Allah memberikan nikmat waktu senggang yang melimpah. Saya dipastikan hampir off dari kebanyakan aktifitas yang dulu ku lakukan. Bahkan pekerjaan rumah yang harusnya menjadi tanggung jawabku kini diambil alih oleh suamiku.

Ini bukanlah pengalaman pertama hamil buatku. Namun kehamilan kali ini jelas terasa sangat berbeda. Jika dua kehamilan sebelumnya saya tidak mengalami morning sickness yang berarti, namun kali ini morning sicknessku tergolong berat. Saya merasakan tidak nyaman hampir di sepanjang hariku. Karena itu saya lebih banyak beristirahat dengan berbaring di kamar.

Dibalik kesulitan yang saya alami, Alhamdulillah, Allah mengalirkan rasa pengertian di hati suami dan anak-anakku. Mereka mengerti keadaanku dan sama sekali tidak ingin menyulitkan ku di kondisi yang seperti ini. Sebuah keberuntungan yang besar yang tidak semua orang bisa menikmatinya.

Namun, ada sebuah kelalaian yang akhirnya menemaniku. Akibat terlalu banyak bersantai akhirnya saya kebablasan hingga sekarang. Banyak waktu yang sia-sia hanya untuk bermain game atau menonton film yang tidak ada artinya sama sekali. Hingga banyak aktifitas berharga yang tersingkirkan seperti membaca buku, menulis, dan mengajarkan anak-anak mengenal huruf hijayyah. Bahkan banyak ibadah-ibadah sunnah yang terlalaikan. Astagfirullah.

Benarlah bahwa ujian itu bisa jadi dalam bentuk kesempitan ataupun kelapangan. Maka setiap waktu lapang yang membuat lalai akan dimantai pertanggung-jawaban di akhirat kelak. Astagfirullah 😭

Namun saya masih patut bersyukur karena Allah masih memberi kesempatan hidup. Bagaimana jika saya mati dalam keadaan lalai?? Sungguh amat merugilah kehidupan dunia ini. Dunia adalah tempat menabung kebaikan, bukan untul bersenang-senang. Karena dunia sementara sedang akhirat selamanya.


Self reminder.
Catatan seorang ibu.
Share:

Saturday, July 6, 2019

Indahnya Poligami



Akhir akhir ini saya sering membaca kisah tentang poligami. Saya cuma tidak bisa memastikan apakah kisah itu benar atau hanya hayalan penulis saja. Namun, intinya saya menikmati kisah yang dituturkan. Kenapa saya menikmatinya? Padahal di dalam kisah-kisah itu pasti ada wanita yang tersakiti. Bukankah itu pengkhianatan terhadap sesama wanita? Hmm.

Jika berbicara soal poligami memang tidak akan ada habisnya. Selalu ada yang pro dan kontra. Namun saya sendiri sebagai seorang muslimah, menerima dengan sangat ridho akan hukum Allah tentang poligami. Allah Maha Mengetahui, Allah pasti lebih mengetahui manfaat sebenarnya dari poligami. Tidak mungkin, seorang hamba yang fakir seperti saya berani menentang sesuatu yang yang telah diperbolehkan olehNya.

Poligami. Sebenarnya ada sesuatu yang indah disana. Sudah banyak orang yang berhasil menerapkannya. Saya membayangkan, bagaimana ramainya sebuah rumah dengan anak-anak karena ada empat ibu disana. Mereka bermain bersama, saling mengasihi dan menjaga. Selain itu, pekerjaan rumah pasti akan lebih ringan. Jika satu ibu saja bisa menjaga sebuah rumah, lalu bagaimana ringannya pekerjaan itu jika dikerjakan empat orang sekaligus.

Saya masih membayangkan ada empat wanita bercengkarama di ruang tengah sambil berbincang dan berbagi cerita layaknya seorang sahabat. Saya jadi ingat romansa dengan sahabat-sahabat masa sekolah dulu. Semua itu sangat indah. Bahkan mendidik anak-anak pun akan semakin mudah, karena kita bisa berbagi pikiran, beban dan penderitaan. Kita pun bisa saling menyemangati dalam belajar agama, memperbanyak hafalan qur'an dan muroja'ah bersama. Oh.. betapa indahnya semua itu.

Jadi, apakah saya siap dipoligami? Sebuah pertanyaan yang berat. Karena sampai hari ini pun saya masih belum bisa menerima jika suatu hari harus berbagi suami. Saya adalah tipe pencemburu, yang kadang dengan teman-teman suami pun saya cemburu. Jika suami sudah berlama-lama dengan temannya maka saya pun akan cemburu. Apalagi jika saya harus membayangkan suami saya akan berlama-lama dengan seorang wanita lain, saya tidak akan kuat. Saya hanya takut saya akan berbuat yang tidak-tidak karena kecemburuan saya. Maka mudhorotlah yang akan datang.

Saya sama sekali tidak menolak hukum bolehnya poligami. Saya yakin, begitu pula dengan wanita-wanita lain di luar sana yang belum siap dipoligami. Saya yakin mereka bukan menolak hukum Allah, namun mereka saja yang belum siap. Siapa yang tahu nanti Allah yang melapangkan dada kami untuk siap di poligami. Mana tahu.

Saya sangat bangga dengan ketulusan hati seorang wanita yang menerima poligami. Namun saya pun tak menyalahkan wanita yang belum siap dipoligami. Untuk para suami, sebaiknya anda memikirkan matang-matang sebuah keputusan untuk berpoligami. Karena sesungguhnya sesuatu yang besar menyimpan tanggung jawab yang besar. Anda yang paling tau diri anda. Anda yang mampu menilai apakah anda mampu mengambil tanggung jawab itu. Bukankah Allah subhanahu wa ta'ala sudah menyebutkan dalam firmanNya, jika engkau tak mampu maka cukup satu orang saja. Wallahu 'alam.
Share:

Followers

Total Pageviews