Pernah dengar ungkapan anak yang lahir itu bagaikan kertas putih? Ternyata teori ini salah dan sudah banyak dibantah oleh ahli ahli parenting muslim. Alasannya, setiap anak itu lahir dengan fitrahnya masing-masing. Tugas orang tua bukanlah mengisi kertas kosong , seperti teori yang selama ini berkembang, akan tetapi tugas orang tua adalah mengingatkan anak pada fitrahnya. Karena saat anak lahir, memorinya akan dihapus oleh Allah.
Oh iya, sebelum lanjut, saya ada beberapa rekomendasi pakar parenting. Mungkin saja berguna buat anda. Diantaranya ada Ust. Budi azhari dengan fokus parenting nabawiyyah, ust. Hary santosa dengan fokus parenting based fitrah, dan juga oma Elly Risman dengan ilmu psikologinya.
Kembali ke topik.
Jadi, anak anak itu sudah punya fitrah. Hal ini sesuai dengan hadist Rasululullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Tiada seroangpun yang dilahirkan kecuali dilahirkan pada fitrah (Islam)nya. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Hadist tersebut memang membahas soal agama anak. Namun secara tidak langsung juga membahas setiap hal yang berkaitan dengan fitrah anak. Bahwa anak anak itu sudah membawa kemampuan sendiri untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Apa saja itu? Semuanya. Kemampuan bicara, berjalan, makan, bahkan belajar. Kita sebagai orang tua hanya perlu menyadari itu. Agar mendidik anak itu tidak lagi terasa berat.
Nah, itu dia teorinya. Faktanya beberapa waktu lalu saya benar-benar stag dalam hal mendidik anak-anak. Karena kondisi lagi berbadan dua, bawaannya selalu males. Anak-anak pun seakan terabaikan. Sampai suatu waktu, saya lihat ceramah seorang ustad tentang mendambakan anak shalih. Alhamdulillah saya sedikit tersentak dan kembali sadar. Akhirnya saya kembali memikirkan kegiatan bersama anak-anak meskipun lagi mager abis 😀😀
Jadi orang tua itu ya emang harus memaksakan diri. Maksudnya memaksa diri melawan rasa malas 🤣 karena musuh terbesarku, dan saya yakin musuh semua orang, adalah rasa malas.
Setelah merenung dan melawan rasa malas, saya lalu membuat rancangan belajar bersama Zahra dan Maryam. Lalu dipilihlah kegiatan membaca sebelum tidur. Anak-anak itu kan memang punya fitrah ingin tahu dan membaca adalah perintah pertama kepada Rasulullah, karena itu saya memilih kegiatan itu untuk mengasah keingin tahuan anak-anak.
Dulu sebenarnya kita sudah sering membaca sebelum tidur, jadi sekarang mudah membuat anak-anak tertarik kembali. Alhamdulillah mereka memang cukup antusias. Tantangannya kemudian bagaimana agar mamanya tidak bosan dengan agenda ini, hehe.
Rencananya ini adalah awal. Apalagi kakak Zahra sudah hampir memasuki usia 6 tahun. Kata oma Elly, sejatinya anak-anak baru dikasih calistung di usia 7 tahun. Ini pun bertepatan dengan perintah shalat yang baru dimulai usia 7 tahun. Artinya belajar yang sebenarnya baru dimulai di usia itu. Sekarang masih ada waktu setahun lebih untuk bersiap-siap sebelum hari itu tiba.
Jadi anak-anak ngapain aja di rumah? Kalau Zahra dan Maryam, kebanyakan main dan selebihnya berantem rebutan mainan. Ada aja sih sebenarnya yang direbutkan. Lalu apa yang diajarkan? Kita lagi mencoba kasih teladan yang baik. Karena menurut ust Budi, usia 2 sampai 7 tahun itu waktunya keteladanan dari orang tua. Sementara ini kita masih mencoba kasih teladan, dan aslinya kami lah yang harus banyak belajar. Karena mendidik anak-anak itu pun mengharuskan orang tua untuk terus belajar.