Anak adalah aset dunia akhirat. Di dunia mereka bisa menjadi kebanggaan. Di akhirat mereka bisa dijadikan penolong. Sehingga perhatian kepada pendidikan anak sebaiknya menjadi fokus orang tua, baik ayah maupun ibu. Karena pendidikan anak takkan berhasil jika kedua peran tersebut kosong di salah satunya.
Banyak hal dari pendidikan anak yang perlu menjadi tanggung jawab orang tua dirumah. Terutama di masa-masa awal kehidupan seorang anak hingga usia mereka mampu untuk dilepas ke luar rumah. Salah satunya adalah membangun komunikasi dengan anak.
Komunikasi menjadi kunci pembuka untuk pendidikan anak selanjunya. Sehingga komunikasi terjadi dua arah, bukan hanya perintah dan larangan seperti yang kebanyakan terjadi selama ini. Anak-anak dilatih untuk menyampaikan pendapatnya. Selanjutnya kebijakan orangtua lah untuk menerima pendapat itu atau menolaknya. Yang terpenting, anak-anak bisa mengkomunikasikan keinginan dan perasaan mereka. Sehingga tak ada lagi perasaan terpendam yang kemudian hari akan menjadi penyebab anak-anak tantrum.
Saya akan berbagi cara membangun komunikasi dengan anak sejak dini berdasarkan pengalaman saya dan anak-anak di rumah. Mungkin cara ini tidak akan membuahkan hasil dalam waktu singkat. Namun, tidak ada salahnya anda mulai mencobanya dari sekarang. Tanpa anda coba, anda tidak akan tahu hasilnya.
1. Bersikap Jujur
Kejujuran adalah modal utama bagi terbangunnya komunikasi yang baik. Entah itu dalam hubungan dengan orang dewasa, maupun dengan anak-anak, kejujuran tetap menjadi yang terpenting. Coba anda ingat lagi, pernahkah anda ingin pergi ke pasar lalu anak rewel, nangis minta ikut, kemudian anda mengatakan "Jangan nangis ya sayang, mama keluar sebentar" lalu anda baru kembali dari pasar setelah sejam lebih. Ini adalah pondasi awal yang sangat rentan. Karena kadang orang tua berbohong tanpa disadarinya. Tapi, bagi anak, ini adalah memori yang akan tertanam kuat.
Jika anda melakukan ini secara terus menerus, jangan kaget jika nantinya anda akan mendapati anak anda mengatakan dia habis makan kue, padahal ia makan gula-gula secara sembunyi-sembunyi di kamar karena tahu anda akan melarangnya memakan gula-gula itu.
Jadi, mulailah bersikap jujur kepada anak-anak anda sejak dini.
2. Respon Positif Pembicaraan dengan Anak
Tabiat anak-anak adalah senang bercerita dengan kedua orang tuanya. Bagi mereka, orang tua sudah seperti idola dalam kehidupan mereka. Apapun tentang orang tuanya selalu menarik. Setiap hal kecil pun akan memicu antusiasme mereka untuk menceritakan hal itu kepada orangtuanya.
Namun, mengapa kemudian ada anak-anak yang menjadi sangat aktif bercerita dengan teman-temannya, tapi sangat pendiam dengan orang tuanya? Mungkin saja selama ini orangtua telah melakukan kesalahan dalam merespon cerita anak-anaknya.
Coba diingat kembali, apakah anda pernah merasa sangat malas merespon pembicaraan anak? atau justru anda meresponnya negatif, misalnya dengan memarahinya dan menghardiknya? Atau anda berpura-pura mendengarkannya, namun mata dan hati anda tertuju pada smartphone yang sedang ada di genggaman anda?
Semua hal itu akan menurunkan antusiasme anak-anak anda. Parahnya, anda akan sangat menyesalinya ketika mereka telah dewasa dan anda sama sekali tidak bisa lagi bercerita kepada mereka dengan alasan mereka sibuk atau yang lainnya.
Oleh karena itu marilah kita perbaiki komunikasi dengan anak-anak kita. Masih ada waktu sebelum mereka dewasa. Mari kita minta maaf kepada anak-anak kita atas kesalahan-kesalahan kita yang begitu banyak dalam pengasuhan. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita anak-anak sholeh yang menjadi aset dunia akhirat kita.















