Belajar, berbagi dan bercerita tentang apa saja

Saturday, January 19, 2019

Belajar Alphabet

Habis magrib tadi saat anak-anak sedang nonton film upin ipin, saya berinisiatif mengajak mereka membaca. Seharian tadi saya sibuk nginem di rumah soalnya dua hari sebelumnya tidak ada kesempatan untuk beberes rumah. Pulang dari kelurahan badan capek semua jadi saya langsung istirahat. Jadi setelah pekerjaan rumah selesai tadi saya merasa sangat kelelahan. Saya memilih utuk tidur siang dulu demi mengistirahatkan tubuh ini.

Saya baru memiliki kesempatan untuk mengajak anak-anak membaca setelah magrib. Saat saya ajak membaca, kakak hanya ingin belajar alphabet katanya. Qadarullah kami sudah membeli poster alphabet dan di pasang di ruang tengah. Jadi sewaktu-waktu kakak bisa melihat huruf-huruf alphabet tersebut.

Finally, malam ini kita belajar huruf alphabet sampai kakak dan adik bosan. Yah, sekitar beberapa menitan saja. Belajarnya pas upin ipin lagi jeda iklan. Heheh.

Kegiatan membaca malam ini jadi tidak efektif. Salah satu  alasan utamanya karena persoalan waktu. Habis magrib anak-anak waktunya nonton upin ipin. Oleh karena itu anak-anak jadi tidak fokus ketika diajak membaca. Semoga kedepannya bisa lebih bisa mengatur waktu lagi agar kegiatan membaca bisa lebih efektif.


#Day10
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KelasBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
Share:

Tuesday, January 15, 2019

Membaca Sebelum Tidur



Kakak sepertinya sudah sangat mengantuk siang ini. Dia mengambil bantal dan gulingnya dari dalam kamar lalu mengambil posisi di depan tv. Ia melirikku sejenak. Saya tahu dia kakak mau menonton tv sebelum tidur. Tapi saya memberi isyarat tidak boleh. Lalu dia kemudian berkata "Mak baca buku ki yuk".

Entah ada angin apa kakak minta diajak membaca buku. Padahal saat makan siang tadi saya menawarkan kepada anak-anak untuk membaca buku bersama setelah makan siang. Tapi Zahra dan Maryam kompak menolak. Abahnya sendiri hanya diam saja menikmati hidangan makan siangnya.

Saya dengan sangat bahagia menyambut ajakan kakak. "Ayuk mi nak" kataku mengiyakan. Saya dengan semanganya bangkit lalu beranjak ke kamar mengambil buku "Cerdas dan sholih bersama hafiz dan hafizah". 

Saya membuka buku itu tepat pada cerita Nabi Isa. Zahra yang melihat gambar maryam sedang menggendong Nabi Isa langsung tertarik ingin mendengar kisah Nabi Isa. Zahra sebenarnya sudah hapal dengan gambar itu. Dulu kami sering membaca kisah Nabi Isa itu sebelum tidur.

"Mak, maryam kah itu?" tanya zahra yang mencoba mengingat-ingat dulu pernah mengenal gambar itu.

"iye nak." jawabku singkat.

"Kalau itu yang digendong siapa?" tanyanya lagi.

"Itu kan nabi Isa, anaknya Maryam." Kataku mencoba menjelaskan.

Maryam yang sedari tadi nempel ke abahnya tiba-tiba menghampiri kami karena mendengar namanya disebut.

"Mak.. mak.. maryam kah itu? saya kah itu? " Tanya maryam sambil menunjuk gambar nabi isa yang digendong oleh maryam.

Maryam mengira bayi itu adalah maryam bukan nabi Isa. Ia menyamakan dengan dirinya yang juga bernama Maryam. Ia mau bayi itulah Maryam karena masih kecil seperti dia. Lalu saya mencoba menjelaskan bahwa Maryam yang ada dalam kisah itu adalah Maryam ibunda nabi Isa. Seorang wanita suci yang namanya abadi. Kebetulan namanya adik itu sama dengan bunda Maryam. Karena memang abah dan mama memberi nama Maryam agar Maryam nantinya meneladani kesholihan bunda maryam.

Kami membaca kisah nabi Isa hingga selesai. Lalu lanjut ke kisah nabi Muhammad. Zahra sendiri mendengarkan sambil mengunting-gunting karton. Sedangkan Maryam berbaring disampingku dan mendengarkan bacaanku dengan seksama. 

Baru setengah kisah nabi Muhammad saya bacakan, kakak minta saya berhenti. Katanya dia sudah capek. Saya lalu menghentikan bacaanku karena tidak ingin membuat anak-anak merasa terpaksa membaca. Beberapa saat kemudian kakak kembali ke tempat tidur yang telah dia siapkan tadi dan iapun segera tertidur.


#Day6
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
Share:

Monday, January 14, 2019

Membaca Sendiri



Hari ini judulnya membaca sendiri. Bagaimana tidak, anak-anak sibuk bermain dan abah, yah seperti biasa, sulit diajak membaca. Kali ini alasannya setiap membaca katanya ndak masuk ji di otaknya. Oh Allah, speechless dengarnya 😣 Saya juga tidak mungkin mau memaksa mereka untuk turut membaca. Saya hanya bisa mengajak dan memberi contoh. Selain itu doa yang tiada henti saya panjatkan kepada Dia yang membolak-balikkan hati manusia. Semoga Allah membalikkan hati kami sekeluarga agar condong kepada kebaikan. Aamiin.

Saya ingat pesan bunda Hamidah. Beliau adalah fasilitator saya di kelas Bunda Sayang Batch 5 IIP Sulawesi. Beliau mengatakan bahwa kita hanya perlu memulai satu perubahan kecil di rumah maka kita akan lihat ada yang terasa berbeda di rumah. Yah, kurang lebih seperti itulah redaksinya.

Sejak saat itu saya menyakinkan diri saya dan saya berusaha menanamkan di alam bawah sadar saya bahwa saya hanya perlu melakukan suatu perubahan baik yang kecil setiap harinya. Jika lingkungan saya belum baik itu bukan alasan saya untuk berhenti berbuat baik. Saya yakin di atas sana Allah menyaksikan setiap usaha saya menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anak. Allah tahu apa yang saya lakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Saya tahu bahwa mengubah kebiasaan buruk menjadi baik tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi ingin mengubah semua itu dalam hitungan hari saja. Saya harus terus berlari kepada kebaikan hingga ajal menjemput saya. Saya harus terus memanjatkan doa agar keluarga saya mendapatkan hidayah dan tetap menggenggam hidayah itu hingga akhir usianya. Proses itu akan berhenti jika nafas ini telah berhenti. Sedangkan hasil itu milik Allah sepenuhnya.

Saya menikmati bacaan saya siang ini sambil menyaksikan anak-anak tertawa dengan mainannya. Saya masih harus terus bersyukur anak-anak bisa bahagia dan menyaksikan mamanya membaca. Siang ini saya ditemani oleh buku Parenting ++ Jilid 1. Sebuah buku yang memuat tulisan-tulisan bunda Elly Risma sekeluarga dari grup facebook Parenting With Elly Risman and Family. 


#Day5
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
Share:

Sunday, January 13, 2019

Wahai Diri, Bersabarlah !



Sabarlah wahai hatiku agar aku bisa memenangkan pertarungan ini. Pertarungan antara keihklasan atau tuntutan. Pertarungan antara menginginkan kebaikan atau memaksakan kehendak. Pertarungan antara niat baikku agar tetap menjadi baik hingga akhir. Karena sejatinya perjuangan ini memerlukan stok sabar yang tiada batasnya.

Saya harus terus menyemangati diriku sendiri di dalam hati agar hatiku ini tidak tercemari oleh lingkungan yang sudah terlanjur buruk. Jika menginginkan kebaikan maka saya harus menyingkirkan keburukan itu meski sulit. keburukan itu adalah kebiasaan yang tidak baik di dalam rumah.

Saya harus mengambil satu stok sabarku hari ini ketika saya melanjutkan kegiatan membaca bersama keluarga. Bagaimana tidak, ketika saya sudah bersemangat ingin membaca,si abah malah sengaja tidur ketika di ajak membaca. Si kakak malah ikut-ikutan tidur karena melihat abahnya tidur. Adik sendiri berlari-lari, melompat-lombat sambil menjadikan rambutku sebagai tali. Subhanallah, hampir saja saya meledak dengan suasana itu.

Saya yang dari tadi membaca lanjutan kisah teladan nabi terus melanjutkan membaca buku dengan suara keras. Saya menyelesaikan tiga puluh menit hari ini meski lingkungan saya tidak mendukung saya. Setelah selesai, sambil berkaca-kaca dan penuh luapan emosi (namun tetap dengan nada suara datar) saya berkata kepada suami bahwa saya ingin keadaan keluarga kami berubah menjadi lebih baik. Seharusnya dia mendukung saya. Tapi meskipun begitu saya akan tetap melakukan perubahan ini meskipun sikap abah seperti ini.

Akhirnya, hari ini kegiatan membaca tidak lulus namun alhamdulillah saya masih bisa bersabar (baca: tidak marah-marah dengan nada keras) kepada suami dan anak-anak. Saya yakin sebuah keinginan yang besar akan mendapatkan tantangan yang besar pula. I will keep my spirit till the end.

#Day4
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst 
Share:

Saturday, January 12, 2019

Proses Itulah Milik Kita



Alhamdulillah. Siang ini kami bisa menjalankan agenda membaca bersama lagi. Saya sempat merasa pesimis bisa membaca hari ini karena pekerjaan saya begitu banyak di travel. sejak pagi pekerjaan seperti tidak memiliki ujung. Namun saya kembali harus banyak bersyukur karena pertolongan Allah selalu nampak dalam kehidupan kami. Semua berjalan lancar sebab pertolongan Allah yang begitu banyak.

Semua pekerjaan sudah selesai sekitar jam 2 siang. Abah juga tidak sedang tidur. Ini momen yang pas untuk mengajak suami dan anak-anakku membaca. Saya berharap respon anak-anak lebih baik dari kemarin.

"Anak-anak, yuuk kita membaca" ajakku kepada kakak dan adik yang sedang bermain di dekat meja kerjaku.

"Ayoo mak" seru mereka.

Kami segera melangkah masuk ke ruang tengah dengan semangat. Kami biasanya menjadikan ruang tengah untuk bereksplorasi. Termasuk kegiatan membaca akan selalu kami lakukan di ruangan sederhana ini. Maklum kami belum memiliki ruang belajar khusus.

Saya kemudian mengambil buku hafiz hafizah untuk dibaca dengan anak-anak sekaligus mengambilkan buku "7 Keajaiban Rezki" untuk abah. Saya lihat abah masih sibuk dengan gadgetnya. Saya sebenarnya sering merasa kesal jika abah selalu bermain gadget di depan anak-anak. Apalagi kalau yang dibuka selalu saja youtube. I don't mind what he watch on youtube that so interested for him. Seakan-akan youtube itu dunianya. Kadang saya sampai ngomong "hape itu tidak akan menolongmu ketika kamu butuh, anak-anak lah yang kini ada di dekatmu". Tapi ya sudahlah, memang butuh proses untuk mengajak dia hijrah dari gadget.

Let us forget about it. Saya kembali fokus ke tujuan. Saya harus mengesampingkan kekesalan saya demi meraih apa telah saya impikan. Saya mencoba mengajak abah dengan lembut untuk sama-sama membaca. Seperti biasanya, jika sudah main gadget, abah akan lupa segalanya. Dia seperti mengabaikan permintaanku. Tapi karena ini adalah momen yang pas untuk membaca saya sedikit memaksa. "Ayok mi abah, anak-anak sudah mau membaca" pintaku.

Alhamdulillah abah mau membaca bersama kami meski dengan keadaan terpaksa. Saya dan anak-anak masih membaca kisah sifat teladan Nabi pada buku hafiz hafizah. Kali ini saya membacakan tentang kisah "peduli kepada sahabat" dan "suka menolong". Jika kemarin adik yang fokus mendengarkan, alhamdulillah siang ini kakak yang lebih fokus. Kakak duduk di pangkuanku sambil mendengarkan suara ku membacakan kisah Nabi dengan keras.

Baru setengah cerita tiba-tiba kami kedatangan customer di travel. Saya terpaksa menghentikan aktifitas membaca sejenak dan melayani customer. Setelah selesai, saya masuk kembali untuk membaca bersama anak-anak. Saya lihat abah kembali dengan gadgetnya. Saat aku memintanya membaca, katanya dia sudah selesai. Oh Allah, rasanya kesel kesel pingin ngamuk 😡. Tapi ya sudahlah, saya fokus saja ke anak-anak.

Hmm.. Jadi seperti itulah cerita kami hari ini tentang proses mencintai aktifitas membaca. Proses itu lah yang harus dinikmati karena proses itu yang akan dikenang oleh anak-anak. Proses itulah yang bisa kita lakukan. Proses itulah milik kita. Sebaik-baiklah kita berproses biarkan Allah yang menghadiahkan hasil kepada kita dengan kemahabijaksanaanNya.


#Day3
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst 
Share:

Monday, December 17, 2018

Bahagia Ketika Menulis


Saya seorang pembelajar tipe auditori. Salah satu ciri-cirinya kadang sangat akif berbicara kadang menjadi sangat pendiam. Salah satu sifat saya, entah berhubungan dengan tipe auditori atau tidak, saya tidak mudah bercerita atau curhat  kepada orang lain. Saya senang menyimpan isi hati saya sendiri. Saya hanya sedikit sekali berbagi dengan orang lain.

Orang dengan sifat seperti saya kadang merasa beban pikirannya terlalu berat sehingga berefek buruk pada kesehatan. Saya sendiri sering sekali merasa sakit kepala begitu hebat dan emosi yang tidak stabil akibat perasaan yang tidak tersalurkan. Oleh karena itu saya harus menemukan jalan agar perasaan saya bisa mengalir. Salah satu caranya adalah dengan menulis.



Pada suatu hari, ketika saya masih smp, untuk pertama kalinya saya mencoba menulis. Waktu itu saya sama sekali tidak memiliki satu pun pengetahuan tentang menulis. Saya hanya menulis saja. Saya menceritakan kejadian apa saja yang saya alami di sekolah hari itu pada buku tulis sekolah saya. Satu per satu kejadian yang saya alami dan bagaimana perasaan saya terhadap kejadian itu.

Tulisan pertama saya adalah tulisan tak sempurna namun berkesan selamanya. Hanya sebuah tulisan anak smp yang tak memiliki alur yang jelas. Tetapi dari sana saya menemukan sebuah jalan kecil yang begitu saya senangi.

Saya mulai rutin menulis. Namun hanya sebatas diary saja. Saya kadang-kadang membeli sebuah buku diary. Kadang juga saya hanya menulis pada selembar kertas lalu membuangnya. Saya bahkan masih menyimpan buku diary saya ketika kelas tiga sma sampai sekarang. Sesekali saya membacanya dan bernostalgia mengingat kejadian-kejadian masa lalu yang tertulis di dalamnya.

Menulis menjadi jalan untuk mengeluarkan isi hati saya yang tak bisa saya ucapkan dengan kata-kata. Saya mungkin akan sulit merangkai kata dengan lisan agar maksud saya sampai kepada lawan bicara namun saya akan bisa melakukannya lewat tulisan. Saya bisa menjadi cerewet dalam diam ketika menulis.

Bagi saya menulis bukanlah kegiatan yang  sederhana. Lebih dari itu menulis adalah mengukir cerita abadi melalui pena dan tinta. Menulis menjadi wasilah untuk berbicara tanpa suara dan berteriak tanpa keributan. Ketika air mata tak bisa saya tunjukkan di depan orang banyak maka saya mengeluarkannya lewat tulisan. Ketika penat tak lagi tertahankan maka saya menghibur diri dengan menulis.

Saya bebas ketika menulis. Saya mengukir kenangan ketika menulis. Saya merefresh diri ketika menulis. Saya mengobati diri ketika menulis. Saya berkarya ketika menulis. Lebih dari semua itu, saya akan terus menulis karena saya bahagia ketika menulis.



Share:

Sunday, December 16, 2018

Beginilah Ceritanya Saya Memilih Menjadi Pebisnis



Saya dilahirkan oleh seorang pedagang. Melalui ibu saya, saya mewarisi darah pedagang sejati. Ibu saya sejak dulu hingga usianya telah renta masih menekuni bidang perdagangan. Tidak sekali pun ibu berganti profesi. Oleh karena itu saya pun sangat akrab dengan dunia jual beli.


Sejak kecil saya sudah mencintai kegiatan berjualan. Saya ingat ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar dulu saya sering membawa sebungkus permen kemudian menjualnya kepada teman-teman sekelas. Saya tidak pernah disuruh oleh siapapun untuk melakukan itu. Ide itu muncul sendiri di kepala saya.


Memasuki usia SMP saya pun masih berjualan kepada teman-teman di sekolah. Objek jualan saya tidak lagi terbatas pada teman sekelas tapi lebih meluas lagi kepada orang-orang yang saya kenal di sekolah. Selain itu barang-barang yang saya jual pun tidak hanya permen saja tapi juga alat-alat tulis.  Saya merasakan kepuasan tersendiri ketika mendapatkan keuntungan  dari penjualan saya.

Saya sempat berhenti berjualan ketika SMA. Namun saya kembali melanjutkan kegiatan berjualan saat sudah menjadi mahasiswa. Saya tidak merasa malu membawa-bawa tas jualan berisi barang-barang apa saja yang sedang tren. Kadang saya menjual kipas tangan, bros-bros unik, gantungan kunci, stiker dan apa saja. Saat itu jualan online belum tren seperti sekarang namun saya sudah berani memesan barang dari bandung. Sebuah langkah yang lebih maju dibandingkan teman-teman lain yang hanya membeli barang dari toko-toko yang bisa dijangkau saja.

Saat ini saya masih menekuni dunia bisnis namun lebih serius lagi. Saya menjalankan bisnis tour and travel sejak tahun 2015 dibantu dengan suami. Selain itu kami pun membuat jajanan untuk dititipkan di toko kue. Bukan dengan porsi kecil, namun setiap hari kami membuat jajanan yang jumlahnya kadang 300 sampai 500an biji sehari. Alhamdulillah penghasilan kami lebih dari cukup setiap bulannya dari hasil kedua bisnis ini. Kedepannya kami ingin mengembangkan bisnis kami agar lebih besar lagi.

Ya, seperti itulah perjalanan bisnis yang telah aku lalui. Aku merasakan darah pebisnis memang telah mengalir di dalam diriku sejak kecil. Karena itu aku begitu mencintai jalan hidup sebagai pebisnis yang telah aku pilih, meski kadang dunia luar begitu menarik perhatianku. Insyaallah aku akan tetap istiqomah sebagai pebisnis. heheh.







Share:

Followers

Total Pageviews