Belajar, berbagi dan bercerita tentang apa saja

Sunday, December 16, 2018

Beginilah Ceritanya Saya Memilih Menjadi Pebisnis



Saya dilahirkan oleh seorang pedagang. Melalui ibu saya, saya mewarisi darah pedagang sejati. Ibu saya sejak dulu hingga usianya telah renta masih menekuni bidang perdagangan. Tidak sekali pun ibu berganti profesi. Oleh karena itu saya pun sangat akrab dengan dunia jual beli.


Sejak kecil saya sudah mencintai kegiatan berjualan. Saya ingat ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar dulu saya sering membawa sebungkus permen kemudian menjualnya kepada teman-teman sekelas. Saya tidak pernah disuruh oleh siapapun untuk melakukan itu. Ide itu muncul sendiri di kepala saya.


Memasuki usia SMP saya pun masih berjualan kepada teman-teman di sekolah. Objek jualan saya tidak lagi terbatas pada teman sekelas tapi lebih meluas lagi kepada orang-orang yang saya kenal di sekolah. Selain itu barang-barang yang saya jual pun tidak hanya permen saja tapi juga alat-alat tulis.  Saya merasakan kepuasan tersendiri ketika mendapatkan keuntungan  dari penjualan saya.

Saya sempat berhenti berjualan ketika SMA. Namun saya kembali melanjutkan kegiatan berjualan saat sudah menjadi mahasiswa. Saya tidak merasa malu membawa-bawa tas jualan berisi barang-barang apa saja yang sedang tren. Kadang saya menjual kipas tangan, bros-bros unik, gantungan kunci, stiker dan apa saja. Saat itu jualan online belum tren seperti sekarang namun saya sudah berani memesan barang dari bandung. Sebuah langkah yang lebih maju dibandingkan teman-teman lain yang hanya membeli barang dari toko-toko yang bisa dijangkau saja.

Saat ini saya masih menekuni dunia bisnis namun lebih serius lagi. Saya menjalankan bisnis tour and travel sejak tahun 2015 dibantu dengan suami. Selain itu kami pun membuat jajanan untuk dititipkan di toko kue. Bukan dengan porsi kecil, namun setiap hari kami membuat jajanan yang jumlahnya kadang 300 sampai 500an biji sehari. Alhamdulillah penghasilan kami lebih dari cukup setiap bulannya dari hasil kedua bisnis ini. Kedepannya kami ingin mengembangkan bisnis kami agar lebih besar lagi.

Ya, seperti itulah perjalanan bisnis yang telah aku lalui. Aku merasakan darah pebisnis memang telah mengalir di dalam diriku sejak kecil. Karena itu aku begitu mencintai jalan hidup sebagai pebisnis yang telah aku pilih, meski kadang dunia luar begitu menarik perhatianku. Insyaallah aku akan tetap istiqomah sebagai pebisnis. heheh.







Share:

Saturday, December 15, 2018

Bersyukur Untuk Bahagia



Beberapa hari yang lalu saya dibuat tertarik dengan status whatsapp salah seorang keluarga jauh saya. Dia adalah seorang istri yang meninggalkan suaminya dan kini tengah menjalin hubungan dengan lelaki lain. Dia tengah mengurus perceraian dengan suaminya namun hingga kini suaminya tidak ingin menceraikannya. Di status whatsappnya itu dia menulis bahwa ia telah mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari lelaki yang tengah dekat dengannya. Dia mengatakan bahwa lelaki itu sama saja dengan suaminya.

Dari kisah wanita ini saya mendapatkan sebuah pelajaran berharga dalam kehidupan rumah tangga saya. Saya akan berbagi pelajaran ini kepada semua wanita yang kini berstatus sebagai istri agar ia memegang teguh tali ikatan pernikahannya sampai titik darah penghabisan. Sebuah tali yang telah mengikat wanita atas nama Allah. Sebuah perjanjian besar yang diucapkan suami kita pada saat ijab kabul dahulu.

Share:

Saturday, December 8, 2018

Fakta Media Sosial


Kita tengah memasuki sebuah zaman yang dipenuhi dengan kecanggihan teknologi. Muda, tua, kaya dan miskin saat ini akrab dengan internet. Hampir semua kalangan pun telah mengenal medsos dan memiliki akun minimal di satu media sosial.

Kehadiran media sosial di tengah kehidupan masyarakat tentu menjadi angin segar. Betapa tidak, kita masih ingat masa dulu ketika ingin bersilaturahim dengan keluarga yang jauh kita harus melakukan perjalanan yang panjang untuk bertemu atau hanya sekedar menanyakan kabar mereka. Atau minimal kita menggunakan jasa pos untuk saling berkirim surat dan berbagi kabar berita. Namun setelah adanya media sosial kita tak lagi melakukan itu. Bahkan kita cukup mengakses akun media sosial kita dan kita sudah bisa melihat seluruh isi dunia.

Kehadiran media sosial kini sudah sampai ke tengah-tengah keluarga Indonesia. Alhasil hampir setiap anggota keluarga pun telah memiliki akun di media sosial, mulai dari ayah, ibu dan bahkan anak-anak pun dengan bebas mengakses media sosial. Ditambah lagi dengan sebuah paham modernisme yang dianut oleh orang tua jaman now maka mereka tak segan lagi memberikan gadget kepada anak-anak mereka tanpa memperimbangkan usia dan juga manfaat apa.yang akan didapatkan dari gadget tersebut.

Media sosial memang dapat memberikan manfaat positif dalam kehidupan kita, misalnya kita bisa melihat dan berkomunikasi dengan keluarga dari manapun, atau kita bisa menemukan teman-teman lama kita, dan masih banyak lagi manfaat positif dalam berkomunikasi dengan orang lain. Hanya saja, di dalam media sosial tidak ada aturan yang jelas dan batasan dalam berkomunikasi sehingga lebih banyak dampak negatif yang dirasakan. Kita sudah sering menyaksikan berita di TV tentang beraneka macam kejahatan yang bermula dari media sosial. Dalam kehidupan keluarga sendiri tak jarang kita menyaksikan perpisahan antara suami dan istri disebabkan adanya perselingkuhan yang berawal dari pertemuan di media sosial. Akhir akhir ini justru kabar negatiflah yang sering terdengar dari media sosial dibandingkan dengan kabar positifnya. Lalu apa sebenarna yang terjadi? Tentu ini menjadi pertanyaan besar untuk kita semua.

Seperti yang kita ketahui segala fasilitas di dalam kehidupan kita selalu memiliki dua sisi manfaat. Bisa positif dan juga negatif. Tergantung dari manusia yang menggunakannya. Begitu pula dengan media sosial. Kehadirannya tentu sangat bernilai positif jika saja kita tahu cara memanfaatkannya. Oleh karena itu perlu diadakan sebuah program edukasi bermedia sosial yang bisa sampai menyentuh lapisan terkecil dalam masyarakat, yakni keluarga. Selain itu dari segi aturan bisa dibuat lebih jelas lagi, misalnya tidak bisa menambahkan pertemanan sembarang orang, sehingga hal ini  bisa meminimalisir dampak negatif bermedia sosial. Karena sejatinya media sosial dibuat untuk memudahkan komunikasi manusia,maka sudah seharusnya kita memanfaatkan media sosial sesuai dengan tujuan awalnya.


#OWOPMingguKe-1
#OWOPDesember2018
#RumbelMenulisSulsel

Share:

Sunday, September 16, 2018

The Fight Will Never End

Alhamdulillah, aku sudah menjalani 10 hari tantangan kelas bunda sayang Institut Ibu Profesional. Beberapa hal sudah aku alami bersama kakak. Ada keberhasilan namun tak jarang kegagalan aku temui ketika berkomunikasi dengan kakak. Aku sangat bersyukur atas keberhasilan komunikasi yang terjalin antara aku dan kakak. Aku sangat senang ketika dia merasa nyaman berbicara denganku. Melihat matanya berbinar-binar menceritakan tentang hal yang sebenarnya sangat sepele bagiku, namun sangat besar artinya bagi dirinya.

Aku juga bersyukur atas kegagalan yang aku alami. Aku merasa, aku adalah manusia biasa. Kegagalan ini, alhamdulillah, semakin membuatku tersadar bahwa aku tidak akan menemui kesempurnaan. Namun bukan sempurna atau tidaknya sebuah komunikasi, yang terpenting aku sudah mencoba sebaik mungkin sesuai kemampuanku.

Berakhirnya tantangan 10 hari ini adalah awal bagi perubahanku di rumah. Berubah itu bukanlah dari setan menjadi malaikat. Namun bagiku berubah itu adalah sebuah langkah kecil ke depan yang membuat perbedaan. Jika kemarin aku marah sepuluh kali kepada anakku, dan hari ini aku mampu menahan satu amarahku dan hanya marah sembilan kali saja, maka bagiku itu adalah sebuah perubahan.

Hari ini aku pun melihat dan merasakan perubahan itu. Bukan sebuah perubahan besar karena awal hariku diwarnai dengan emosi yang meninggi karena kakak tidak mau segera memakan es krim yang sudah dibeli di neneknya. Aku mencoba membujuknya dan menjelaskan jika es krim itu tidak segera dimakan maka akan meleleh. Aku pun memberikannya opsi jika memang belum mau makan es krim sebaiknya simpan dulu di freezer agar nanti bisa dimakan ketika sudah ingin. Namun semua tawaranku di tolak. Hingga sampailah aku kepada puncak emosiku, aku mengambil secara paksa es krim itu dan....😂😭😭😭

Yah seperti itulah aku memulainya. Sebuah tindakan yang akhirnya membuat penyesalan. Namun lihatlah makhluk kecil ini. Dia memiliki hati yang sangat baik. Setelah beberapa saat, dia mendekatiku kemudian menawarkan onde-onde yang tadi dibeli abahnya. Dia sangat tahu mamanya paling doyan makan onde-onde di pagi hari. Dan lihatlah betapa emosi masih menguasai diriku. Aku kembali mengacuhkan makhluk kecil berhati sangat baik ini. Ia kemudian perlahan meninggalkanku di dapur sendiri. Mungkin dia memintaku memikirkan kesalahanku.

Setelah aku memikirkannya, aku merasa pertarungan ini tidak akan pernah berhenti. Aku harus bertarung dengan diriku sendiri, dengan semua bekas bekas masa kecil yang masih terasa sakit, yang semuanya itu begitu memberi warna dalam proses pengasuhanku terhadap kedua putriku. Astagfirullah hal adzim. Aku harus bisa mengalahkannya, atau berdamai dengannya, agar masa lalu  itu tidak terulang kepada putri-putriku.

Lalu sesaat kemudian, setelah semua urusan dapur selesai, kulihat dari kejauhan putri melihatku dengan tatapan sayu. Hatiku kemudian tergerak untuk memanggilnya. Aku ingin memeluknya dan meminta maaf padanya.

Ia kini sudah berada di pangkuanku. Matanya mulai berkaca-kaca. dan..

"Kakak, maafkan mama di nak. Mama tadi cuma mau kakak makan es krimnya atau simpan di kulkas kalau belum mau dimakan biar tidak meleleh nak."

lalu pecahlah tangisannya.....

Aku memeluknya erat dan aku memastikan dia mendapat pelukan terhangat dari mamanya. Pelukan penyesalan. Pelukan perlindungan. Pelukan kasih sayang. Ku biarkan ia menangis sepuasnya hingga mengalir segala perasaan yang tertinggal dihatinya. Segala kekecewaannya dan juga kemarahannya.

"Mauka pegang tadi es krimku" katanya terbata-bata.


Jadi sebenarnya kakak mau memegang es krimnya sebentar baru memakannya. Cuma mamanya sangat khawatir jika es krim itu akan meleleh dan nantinya tidak bisa dimakan akhirnya membuatnya jadi pendek akal untuk bisa membaca suasananya. Kesabaran, lagi lagi kesabaran yang kurang. Sedetik saja kesabaran itu hilang maka akan berbuah penyesalan selamanya.

Pagi ini anakku sudah mengajarkan banyak hal kepadaku. Semoga aku bisa membuat perubahan lebih lagi besoknya. Nak, mama masih belajar. Dan akan terus belajar. Insyaallah.


#Level1
#Day11
#KomunikasiProduktif
#KelasBundaSayang
#InstitutIbuProfesional
Share:

Thursday, September 13, 2018

Antara Kata dan Gestur

Menjadi ibu itu susah-susah gampang tapi menyenangkan. menyenangkan karena ada kehidupan baru di balik seorang ibu. mereka adalah anak-anak. Susahnya ada ketika terjadi problem di dalam pengasuhan yang butuh solusi tepat dalam penyelesaiannya dan gampangnya adalah ketika solusi itu bisa dengan mulus diterapkan.

Seperti hari ini yang berjalan agak sedikit susah. Di rumah, anak-anak sebenarnya sudah coba untuk dibatasi dalam memakai gadget, terutama untuk app youtube. Banyak pertimbangan yang saya dan suami pikirkan, terutama masalah dampak gadget terhadap fisik dan dampak youtube terhadap perilaku kakak dan adik. Karena itu sebisa mungkin gadget dihindari penggunaannya di rumah.

Saya sudah berusaha melarang kakak menonton youtube untuk hari ini. Namun tidak berhasil. bukan karena kakak, tapi karena mamanya yang tidak berhasil membangun komunikasi yang produktif dalam melarang.

Komunikasi produktif akan berhasil setidaknya ketika kata-kata dan gestur atau bahasa tubuh sejalan. Namun kenyataannya, si pandai satu ini mencoba mencari celah dari larangan mamanya agar bisa tetap menonton youtube. Dan kakak berhasil. Meskipun kata-kataku melarang tapi dia bisa melihat kalau bahasa tubuhku tidak melarang.  Aku sudah melihatnya memakai hp tapi tidak melarangnya. Disitulah celah antara perintah dan bahasa tubuh yang berlainan bisa ditangkap oleh pemahaman kakak.

Ini menjadi bahan evaluasi agar besok hal ini tidak terjadi lagi. Intinya, untuk bisa berhasil dalam membangun komunikasi produktif antara aku dengan kakak harus ada trial dan error setiap harinya. Satu langkah perubahan kecil insyaallah akan sangat bermanfaat di masa depan.


#level1
#day8
#KomunikasiProduktif
#KelasBundaSayang
#InstitutIbuProfesional
Share:

Saturday, September 8, 2018

Oh "Ok Google"

Ada yang lagi dikepoin banget sama si kakak. Ceritanya aku sedang mencari suatu informasi. Karena lagi malas ngetik jadi aku pakai bantuan "Ok google". Dari sudut lain ternyata kakak memperhatikan. Mungkin dipikirannya "wah.. mainan baru nih".



"Mak, apa itu.. apa itu" tanyanya dengan sangat penasaran.

Karena saya sedang sangat malas menjelaskan saya ajak saja dia menggunakan app ini. "Mauki coba?" tanyaku memastikan.

"nak...nak..." bahasanya menirukan gaya upin ipin. Kakak ini kan fans beratnya upin ipin. Bahasanya saja tujuh puluh persen menggunakan bahasa upin ipin. Dua puluh lima persen mengikuti gaya bicaraku dan sisanya lima persen meniru bahasa jawa neneknya.

"Nah, coba kamu bilang satu kata, nanti hapenya akan keluar gambarnya" kataku mencoba menjelaskan caranya.

Tanpa ba bi bu kakak langsung mengambil alih hapeku sepenunya. Ia mencoba satu kata pertamanya "barbie...boneka barbie" dan mesin pencarian google pun bersuara "seharusnya gambar ini cocok..."

"Waaah..." ekspresi kakak menandakan kekagumannya. Atau mungkin sesuatu  keingintauan yang besar di dalam pikirannya. Entahlah.

Itulah awalnya kakak berkenalan dengan "Ok google". Kakak sangat takjub dengan app yang satu ini. Mungkin karena kemampuannya untuk menghadirkan informasi sesuai dengan kata yang diucapkan.

.....................................

Pagi ini aku sangat sibuk di travel. Pesanan tiket pesawat menumpuk dari perusahaan langgananku. Aku harus segera menyelesaikannya dan mengirimkan etiketnya kesana.

Di tengah kesibukan yang cukup memerlukan konsentrasi, karena jika salah sedikit aku bisa rugi jutaan, kakak bolak balik mendekatiku. Sesekali dia memegang hapeku namun kularang karena aku memakainya untuk berkomunikasi dengan orang kantor.

"Jangan nak, mama lagi chatting sama mbak tari" kataku mencoba melarangnya.

"Pinjam hape ta, mauka ok google" pintanya mencoba merayuku dengan wajah melasnya.

"Nanti nak, hapenya masih mau dipake mama" dengan nada yang sedikit agak kesal.

Saat aku menoleh, kakak sudah berlari masuk ke kamar. Ku dengar suara tangisannya yang cukup keras dari luar. Aku menghampirinya. Namun alih-alih menegurnya dengan ramah, aku malah memarahinya. Kesabaranku terasa terkikis oleh deadline yang sangat memburu. Seharusnya aku bisa bisa berbicara dengan lebih ramah namun yang terjadi justru sebaliknya.. Astagfirullah. Maafkan mama Nak.. 😭😭😭


#Level1
#Day3
#KomunikasiProduktif
#KelasBundaSayang
#InstitutIbuProfesional
Share:

Tuesday, September 4, 2018

Kelas Bunda Saya Batch 4 IIP Sulawesi

Saya sudah lama sekali tidak membuka-buka blog ini atau mengisinya dengan tulisan. Saya memiliki kesibukan yang luar biasa sehingga tidak sempat meluangkan waktu untuk blog ini. Namun alhamdulillah Allah memberikan kesempatan untuk bergabung dengan kelas Bunda Sayang Batch 4 IIP sulawesi.

Kenapa hal ini begitu istimewa? Sebagai seorang full time mom, kesibukan kadang membuat saya tidak mengontrol agenda harian saya. Sehingga banyak waktu yang berlalu begitu saja tanpa suatu kegiatan yang berarti. Sedangkan di dalam pembelajaran di kelas bunda sayang, semua itu bisa terkontrol. Ada semacam energi positif yang saling dibagikan di dalam kelas antara fasilitator dan bunda-bunda pembelajar lainnya.
Share:

Followers

Total Pageviews